Bau oli dan bensin di bengkel motor gede di Bintaro. Chacha tak lagi memutar radio. Suara kunci pas yang beradu dengan baut menjadi satu-satunya musiknya. Ia menyeka gemuk di tangannya, lalu merapikan rok midi-nya. Saat seorang pelanggan mencoba menggoda dengan senyum nakal, Chacha menyodorkan nota tanpa ekspresi. Matanya kosong, Om Bewok menelan ludah dari kejauhan, menyadari tawa putrinya sudah terkubur bersama Olay.
Pelanggan lain salah menghitung uang, menyerahkan selembar lima puluh ribu lebih banyak dari yang seharusnya. Chacha menatap pria itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa detik kemudian pelanggan itu buru-buru menarik kembali uangnya sambil terkekeh canggung.
"Maaf, Mbak. Salah hitung."
Chacha mengangguk pelan, lalu kembali membersihkan tangannya dengan kain lap yang mulai menghitam.
"Mau ke mana, Neng?" tanya Om Brewok, melihat Chacha sudah merapikan pekerjaannya lebih awal.
"Mau ketemu teman, Yah," jawab Chacha.
"Mau dianterin teman Ayah?"
"Nggak usah, Yah. Chacha bisa sendiri, kok," tolak Chacha dengan nada halus.
"Yakin?" tanya Om Brewok lagi.
"Iya, Yah. Chacha pergi dulu, ya," Chacha menyalami Ayahnya, berjalan meninggalkan bengkel.
Tatapan dingin kembali terpancar dari mata Chacha saat melewati teman-teman Ayahnya, Om Ardi dan Om Diki. Kedua pria dewasa itu hanya diam melihat tatapan Chacha menusuk.
Di depan bengkel, Chacha menghentikan sebuah taksi, lalu masuk ke dalam. Tanpa suara, taksi itu meninggalkan bengkel Om Bewok, membawa Chacha menuju tujuan yang dirahasiakannya.
Chacha menyandarkan kepala ke kaca jendela. Deretan kendaraan bergerak pelan di tengah kemacetan Jakarta sore itu. Di lampu merah, dua anak SMA berboncengan melintas sambil saling berebut helm. Tak jauh di belakangnya, seorang kakak mendorong adiknya yang masih kecil di atas sepeda mini sambil tertawa.
Mata Chacha mengikuti mereka sampai hilang di tikungan. Ia mengembuskan napas pelan. Jemarinya menggenggam tas di pangkuannya sedikit lebih erat.
"Ada yang beda dari anak lu, Wok," tegur Om Ardi setelah melihat Chacha pergi.
"Beda gimana?" tanya Om Brewok.
"Chacha jadi lebih dingin sekarang. Kayak ada yang mati di dalam dirinya," timpal Om Diki, yang biasa dipanggil Dikibul.
"Perasaan lu aja kali, Bul. Nggak ada yang beda dari Chacha," sahut Om Brewok, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Pantau terus tuh anak. Kita nggak tau efek dari kejadian kemarin," saran Om Diki.
"Iya, Bul. Pasti gua perhatiin si Chacha," sahut Om Brewok.
"Gua dengar si Gilang udah nangkep pelakunya, ya?" tanya Om Ardi.
"Iya, tapi bukan dia yang matiin tuh orang. Nama ketuanya Olay, yang matiin itu Renggo," jawab Om Brewok.
"Yang penting orang itu udah dapat balasannya," sahut Om Diki.
"Iya, tapi ada dua geng yang masih aktif sekarang, Black Ribal sama The Krugger," terang Om Ardi.
"Gilang pasti bisa beresin. Kita percaya aja sama dia," ujar Om Brewok.
"Semoga," harap Om Diki dan Om Ardi berbarengan.
Di dalam taksi, Chacha menelpon seseorang yang ingin dia temui dan mengajaknya pergi menikmati sunset di pantai Ancol.
"Jemput di stasiun Kebayoran. Gue udah di jalan," pinta Chacha lewat sambungan telepon.
"Oke, gue otw sekarang," sahut pria di seberang telepon, suaranya terdengar antusias.
Jarak dari bengkel ayahnya yang berada di Jl. RC Veteran Raya Bintaro ke stasiun Kebayoran Lama hanya membutuhkan waktu dua puluh menit.
"Depan bengkel Vespa, ya, Pak," pinta Chacha saat sampai di stasiun Kebayoran Lama.
"Iya, Neng," sahut supir taksi.