Di markas The Hydra, malam berjalan dengan ritme yang berbeda dari dunia di luar sana. Di lantai atas, ruang meeting utama Hydra masih diselimuti aroma alkohol mahal.
Meja kayu panjang yang sebelumnya dipenuhi botol minuman kini sudah dirapikan kembali. Gelas-gelas kristal disusun sejajar seperti pasukan kecil yang sedang menunggu perintah. Lampu gantung minimalis memantulkan cahaya lembut di permukaan meja, membuat kilap kayu itu terlihat seperti permukaan danau yang tenang.
Brandy berdiri di salah satu sisi meja. Gaun merah anggurnya diganti dengan blazer hitam yang pas di tubuhnya, sosoknya tampak lebih dingin dan profesional. Rambutnya tergerai rapi di bahu, tangannya santai memutar tutup botol wiski single malt.
Di ujung meja, seorang pria paruh baya duduk dengan sikap santai namun penuh otoritas.
Champagne, kepala Hydra wilayah Bogor. Tubuhnya besar, bahunya lebar seperti mantan atlet yang tidak pernah benar-benar kehilangan kekuatannya. Jas abu-abu yang ia kenakan dijahit dengan potongan sempurna. Sebuah cincin emas besar melingkar di jari telunjuknya, berkilau setiap kali tangannya bergerak.
Ia memutar kursinya sedikit, menatap panorama kota dari balik jendela kaca besar di belakangnya. Lampu-lampu kota Jakarta terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Brandy menuangkan wiski ke dalam dua gelas kristal. Cairan amber itu jatuh perlahan, menghasilkan suara lembut yang hampir tidak terdengar.
"Penilaian gue nggak salah, kan?" Champagme masih memandang ke luar jendela. "Renggo itu punya nyali yang besar."
Brandy berjalan mendekat dan meletakkan salah satu gelas di depan pria itu. "Dia orang yang menarik."
Ia duduk di kursi seberang, menyilangkan kaki dengan santai. "Dia datang tanpa ragu. Bahkan sempat menyindir saya di pertemuan pertama."
Champagne tersenyum tipis. "Gangster jalanan yang berani nyindir Hydra dari jarak satu meja?" Ia mengangkat gelasnya sedikit, menatap warna wiski yang berputar di dalamnya. "Jarang ada yang punya nyali seperti itu."
"Masalahnya dengan polisi itu membuat dia mudah ditekan," Brandy menyesap minumannya perlahan. "Dia punya luka yang belum selesai. Orang seperti itu biasanya lebih mudah diarahkan," Ia menaruh gelasnya kembali ke meja.
Champagne mengangguk pelan. "Selama dia bisa menunjukkan loyalitasnya," senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Loyalitas selalu bisa dibeli... atau dipaksa." Brandy mengangkat alis sedikit.
"Empat puluh persen cukup untuk memaksa."
"Empat puluh persen hanya pintu masuk," jawab Champagme santai. "Begitu dia masuk ke sistem kita, dia tidak akan punya pilihan lain." Ia memutar kursinya menghadap Brandy sepenuhnya. "Orang seperti Renggo tidak cocok hidup di dunia yang setengah-setengah."
Brandy memutar gelasnya. Cahaya lampu menari di permukaan wiski. "Anda yakin dia akan memilih kita?"
"Tidak ada gangster yang menolak senjata." Champagne tertawa pendek "MP5 itu bukan cuma barang dagangan. Itu simbol," Ia menunjuk tablet di meja.
Champagne meneguk wiski setengah gelas dalam sekali teguk. "Begitu dia menerima kiriman itu, dia sudah masuk permainan kita."