Asap rokok menggantung tebal di bawah lampu markas yang temaram. Di atas meja kayu yang penuh noda kopi, sebuah bendera kecil bergambar simbol Hydra berdiri tegak di samping peta besar Tangerang.
Renggo menggeser spidol merahnya, menciptakan garis-garis tegas yang membelah wilayah Tangerang Kota dan Kabupaten. "Kita punya waktu empat puluh delapan jam," suara Renggo berat, matanya menyapu satu per satu anak buahnya. Ia mengetuk simbol Hydra di meja. "Kita nggak akan selamanya ngandelim otot di jalanan Tangsel. Ini tiket kita."
Tidak ada yang langsung menjawab. Mata mereka tertuju ke garis-garis merah yang baru digoreskan Renggo.
Jon menarik kursinya lebih dekat ke meja. Robi menyeringai tipis sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas peta.
"Tangerang Raya?" Jek menatap peta tanpa berkedip. "Semuanya?"
"Semuanya. Narkoba, senjata, sampai prostitusi di perbatasan," sahut Renggo datar. Ia menunjuk Aban. "Ban, lu pegang Ciputat sampai Bintaro. Bersihin sisa-sisa yang masih bau Wild Liar."
Aban mengambil spidol dari tangan Renggo. Ia memberi tanda silang kecil di wilayah Ciputat, lalu mengembalikannya. "Yang masih ngaku anak Wild Liar..." sudut bibirnya terangkat tipis. "...gue pastiin hilang sebelum nama Hydra dipasang di sana."
Pandangan Renggo beralih ke Aurell yang sedari tadi bersandar di dinding sambil memainkan korek api Zippo-nya. "Red Viper gimana, Rell?"
Aurell mengembuskan asap rokoknya ke langit-langit. "Pamulang aman. Red Viper butuh komando, bukan cuma instruksi. Gue yang urus."
Renggo mengangguk puas, lalu menoleh ke arah Sanyo yang sibuk membongkar laras pistolnya. "Nyo?"
"Instruksi lu, jalan gua, Bos," Tangan Sanyo memasang kembali slide pistolnya. "Kalau masih ada yang belum ngerti siapa pemilik jalanan sekarang..." katanya datar. "...tinggal gue jelasin."
"Bagus. Robi, Jon, kalian wakil gua. Kalau gua nggak ada di lapangan karena urusan Hydra, omongan kalian adalah perintah gua," Renggo mengangkat gelas wiskinya tinggi-tinggi. "The Hydra!"
"Black Ribal!" sahut mereka serempak, menghantamkan gelas ke meja hingga isinya menciprat.
Pukul 02:00 dini hari, lampu di ruang kerja Polres Tangerang Selatan masih menyala. Gilang menatap papan penyelidikan di depannya. Foto Rizal yang kini dikenal sebagai Renggo, siluet Krugger, dan foto Olay yang sudah ditandai silang merah. Di bawah foto Rizal, foto Aurell dengan garis merah yang menghubungkan mereka.
Mug kopi instan bertumpuk di sudut meja. Seragam cadangan tergantung kusut di balik pintu ruangannya. Di bawah meja, tas berisi pakaian ganti masih terbuka sejak beberapa hari lalu. Surat cuti yang pernah diberikan Pak Nano masih terselip rapi di bawah tumpukan berkas tanpa pernah disentuh. Belakangan, kantor lebih sering menjadi tempat tidur Gilang dibanding rumahnya sendiri.
Gilang memijat pelipisnya. Tatapannya berpindah dari foto Rizal ke foto Aurell. "Lo ngapain masuk ke dunia itu, Rell?"
Pandangannya berlaih ke foto Aura. "Kamu tau Aurell di dunia itu?"
"Aghhh!" Gilang menggebrak meja karena buntu.
Langkah kaki terdengar dari luar koridor. Gilang menarik cepat tali di atas papan penyelidikannya. Sebuah gulungan kertas turun, menutupi penyelidikan aslinya dengan diagram palsu yang hanya menampilkan foto-foto anak buah level bawah.
"Belum pulang, Lang? Kopi kamu tumpah tuh," sapa Pak Nano yang tiba-tiba muncul di pintu.
"Ah... nggak apa-apa, Pak. Lagi nanggung nyisir data," sahut Gilang sambil pura-pura sibuk.
"Ada kabar terbaru?" tanya Pak Nano mendekat.
"Ketua wilayah Pondok Aren. Kami mengidentifikasi Jek dan Sanyo sebagai pelaksana utama," Gilang menunjuk skema palsu di papan.
Pak Nano mengangguk, lalu merogoh saku jasnya. "Soal bantuan dari Polda belum bisa turun, mereka masih fokus kasus lain. Tapi saya mau nunjukin sesuatu ke kamu."
Pak Nano menyodorkan sebuah surat kaleng. Gilang membacanya isinya sangat spesifik.
Black Ribal akan bergabung dengan The Hydra dan segera menguasai Tangerang Raya.