Toyota Celica hitam meluncur di aspal Jalan Dago yang padat. Di balik kemudi, Richard mengetukkan jari telunjuknya di atas kulit setir, mengikuti irama musik jazz yang mengalun rendah dari speaker mobil. Matanya lurus menatap spion tengah, sesekali melirik deretan butik dan kafe yang berjejer di sepanjang trotoar.
Di sampingnya, Sisilia menyandarkan kepala di kaca jendela. Napasnya meninggalkan embun tipis di kaca yang dingin. Di dalam tas yang dipangkunya, sebuah amplop putih terselip di balik tumpukan kosmetik.
Sisilia menggeser posisi duduknya. Ia menatap Richard. Pria itu tampak rapi dengan kemeja flanel mahal yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kita mau ke D'Cheval?" suara Sisilia datar, hampir tenggelam suara mesin mobil.
Richard menganggyk pendek. "Mang Wawan minta aku ke sana. Ada yang mau diomongin."
"Kenapa aku harus ikut? Biasanya kamu sendiri kalau urusan sama Mang Wawan."
Richard memutar setir ke kiri, mengambil jalur cepat menuju arah utara Bandung yang mulai menanjak. "Dia yang minta, Bie. Katanya udah lama nggak lihat kita berdua. Seminggu yang lalu dia sempat ke Jakarta, tapi jadwalnya padat. Jadi sekarang, dia mau ketemu."
"Dan kamu tahu sendiri, Om Wawan nggak punya anak. Sejak orang tuaku meninggal di kecelakaan itu, dia yang pegang kendali hidupku. Dia yang biayai aku sampai lulus. Loyalitas itu harga mati buat dia."
Sisilia terdiam, matanya beralih ke deretan pohon pinus yang mulai terlihat di sisi jalan. "Kamu memang selalu nurut sama dia."
"Harus," jawab Richard singkat, nadanya memberat. "Tanpa dia, aku mungkin cuma jadi gelandangan. Dia yang kasih aku mobil ini, rumah, dan posisi. Apapun yang dia perintahkan, aku kerjakan."
Sisilia meremas tali tasnya. "Richard... aku perlu ngomong sesuatu. Ini penting."
Richard melirik jam tangannya, lalu menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin Celica itu meraung pelan. "Simpan dulu. Kita udah telat sepuluh menit. Kamu tahu Om Wawan paling benci orang yang datang nggak tepat waktu. Nanti aja ya ngomongnya."
Sisilia menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan lewat hidung. Ia membiarkan kata-katanya kembali terkunci di tenggorokan.
Tiga puluh menit kemudian, gerbang kayu besar bertuliskan D'Cheval terbuka otomatis. Kawasan itu luas, dengan arsitektur kayu bergaya peternakan Amerika yang mendominasi pemandangan. Di kejauhan, beberapa ekor kuda berpacu di area latihan yang dibatasi pagar putih.
Ban mobil Celica itu berderit di atas tanah kering D'Cheval. Sisilia membuka pintu mobil.
DUARR!
suara tembakan memecah udara. Bahu Sisilia menciut kaku.
Di lapangan terbuka yang cukup jauh dari kandang utama, seorang pria berdiri tegap. Wawan Setiawan mengenakan rompi kulit cokelat tua dengan tato yang menjalar dari balik kerah kemejanya hingga ke rahang bawah. Di tangannya, senapan laras panjang jenis Winchester terpegang dengan mantap.
DUARR!
Ledakan itu menggelegar lagi, memantul di antara bukit-bukit kecil di sekitar peternakan. Sisilia tersentak, bahunya terangkat. Ia mencengkeram lengan kanan Richard yang masih berada di pintu mobil setelah mereka turun.