Uap mesin espresso mengepul tipis di sudut kedai utama yang mulai padat oleh pengunjung sore. Aroma biji kopi sangrai beradu dengan denting sendok melamin dan alunan musik instrumental dari speaker gantung.
Di meja kasir belakang, Riki berdiri bersandar di mesin grinder. Kemeja lengan panjangnya tergulung hingga siku, sebelah tangannya memegang cangkir keramik berisi espresso pekat, tangan lainnya sibuk menggeser layar laptop, memeriksa laporan arus kas harian.
Pintu kaca kedai berdering pelan saat didorong. Noval melangkah masuk lebih dulu, disusul Novi yang merapikan selendang di lehernya.
Noval melangkah lurus mendekati meja Riki. "Ayo," ia melipat tangan di dada.
"Ngapain?" tanya Riki tanpa menoleh.
"Nonton."
Riki menyesap espressonya pelan, rasa pahit membakar lidah. "Ngapain. Gue jadi obat nyamuk?"
Novi yang berdiri di samping Noval tertawa renyah, menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Tenang," Noval menyengir lebar, memajukan wajahnya lima sentimeter. "Lo bukan obat nyamuk."
Riki mendongak, matanya menyipit datar. "Terus?"
"Lo nyamuknya."
Keheningan melintas dua detik.
"Tai," umpat Riki tipis.
Barista di sebelah kasir menahan tawa, pura-pura sibuk mengelap portafilter.
Noval menarik kursi bar, duduk tanpa permisi. "Jadi ikut enggak?"
"Nggak."
"Gue traktir."
Klak.
Riki menutup layar laptopnya rapat-rapat, mematikan sakelar lampu kasir, lalu meraih jaketnya dari sandaran kursi.
"Jam berapa?" tanya Riki datar.
Noval tertawa kencang, beberapa pengunjung menoleh. "Najis! Udah punya enam cabang masih ngarep gratisan!"
Riki memakai jaketnya. "Bodo amat. Ayo jalan."
Novi menggeleng, merangkulkan lengannya ke bahu Noval. "Kalian berdua ya... umur udah mau tiga puluh tapi kelakuannya masih kayak anak SMP."
Area atrium pusat perbelanjaan begitu riuh oleh tata lampu panggung yang menyilaukan dan musik promosi bernada tinggi. Pameran otomotif skala besar sedang berlangsung di tengah mal. Mobil-mobil mengilap dipajang di atas panggung pemutar, dikelilingi pengunjung yang berdesakan.
Langlah Riki berhenti di dekat tiang pembatas. Matanya terkunci ke sosok wanita berblazer hitam yang sedang berdiri di samping SUV merah terbaru.
Nadia menyerahkan brosur dan kartu nama kepada sepasang suami istri sebelum berbalik merapikan rambutnya yang terurai.
Riki melangkah mendekat, menyandarkan siku ke atap mobil yang dipajang. "Ngapain lo?"
Nadia tersentak, menoleh kaget. Ia melihat wajah Riki, raut terkejutnya lenyap berganti lirikan malas. "Kerja."
Riki memperhatikan blazer dan pin nama bertulisan Sales Executive di dada Nadia Danastri dari atas ke bawah. "Kirain cosplay."
Nadia menyunggingkan senyum jailnya. "Tumben keluar kandang? Kedai lu bangkrut?"
"Gue kira showroom lo udah gulung tikar."
"Minimal gue jual mobil," Nadia membusungkan dada. "Lah lo? Jual air seduhan."
"Kopi gue laku," sahut Riki. "Mobil lo?"
Nadia menepuk dada blazernya. "Komisi gue sebulan lebih gede dari laba satu cabang lo!"
Riki pura-pura mengetuk-ngetukkan jari ke dagunya. "Berarti... masih kalah sama total laba enam cabang."
BUK!
Skku Nadia menyenggol bahu Riki kencang. "Mulut lo ya!"
Novi di belakang mereka tersenyum, menikmati pertengkaran rutin mereka.
Noval menggeleng. "Kalian berdua nikah aja dah."
Nadia dan Riki menoleh serempak.