Awal November menjadi hari yang ditunggu oleh Renggo. Pintu gudang beras di belakang Pasar Serpong itu terbuka. Aroma tanah lembab, dan knalpot motor memenuhi udara, berpadu kontras dengan parfum mahal yang dikenakan Brandy.
"Welcome to Black Ribal, Bi," sapa Renggo, berdiri di tengah deretan motor, menyambut kedatangan Brandy dan dua pengawalnya yang berwajah dingin.
Brandy melangkah hati-hati, sepatu kulitnya menghindari genangan air. Ia melipat tangannya, mengamati sekeliling. "Ternyata markas kamu ngumpet di belakang pasar, ya."
"Karena di sini awal terbentuknya Black Ribal," sahut Renggo.
"Saya baru tahu kalau kamu orang yang sentimen, Ei," balas Brandy.
"Jangan pernah lupain sejarah," Renggo membalas tatapan Brandy.
Renggo memperkenalkan inti kekuatannya, yang sudah berkumpul di sudut ruangan. "Oh iya, itu Robi dan Jon. Wakil gue," tunjuk Renggo. Robi dan Jon merespon dengan mengangkat tangan.
"Yang cantik di sana namanya Jek..."
"Halo saaaay," sapa Jek manja, melambaikan tangan genit. "Tumben, ya, muji eyke, Bos."
"Iya, tapi berbatang," ejek Renggo.
Jek melotot.
"Itu Sanyo, dan di sana Aban. Ketua Ciputat dan juga Ketua Geng Motor Red Viper," lanjut Renggo, menunjuk Sanyo dan Aban.
Sanyo mengangguk tipis, Aban menyambut dengan senyum bangga.
"Dan ini, primadona Black Ribal. Aurell," Renggo mengakhiri perkenalan. Ia meletakkan tangan di paha Aurell yang duduk di sampingnya.
Brandy menyeringai kecil. "Anak buahmu banyak jenisnya, ya. Kayak kebun binatang."
"Jangan remehin mereka. Mereka semua punya taring," balas Renggo.
"So, kamu bilang mau kasih lihat pertunjukan. Mana?" tagih Brandy.
"Panggilin kandidat lo semua," perintah Renggo pada anak buahnya.
Mereka bergegas memanggil kandidat. Dari berbagai sudut gudang, tujuh belas pria muda berbadan besar dan berwajah keras berkumpul di tengah arena.
"Ini Mangkik dan Togay," Aban memperkenalkan anak buah wilayah Ciputat.
"Mereka Toing dan Onjo," tunjuk Aurell, memasang wajah acuh tak acuh.
"Ini pacar eyke, Bores. Nah, itu Corong," timpal Jek dengan bangga.
"Jorek dan Bongge," ucap Jon singkat.
"Dongklak sama Jambul," Robi menimpali.
"Mereka Jegut sama Bongol," sambung Sanyo.
Aban menoleh ke barisan Red Viper. "Sammy."
Dari kerumunan Red Viper, seorang pria kurus melangkah maju. "Gue Sammy dari Red Viper."
Renggo mengangguk. "Karena Ciputat Timur sama Serpong Utara nggak ada ketuanya, gue sendiri yang pilih mereka." Renggo memanggil empat anggotanya yang sudah ia siapkan. "Ambon, Bodax, Jempol, Jejen. Sini!"
Tujuh belas orang berkumpul di tengah arena. Renggo memberikan instruksi yang singkat.
"Sesuai aturan Black Ribal." Debu-debu lantai gudang mulai berterbangan seiring ketegangan meningkat. "Lima orang yang bertahan bakal gue angkat jadi Ketua Wilayah," lanjut Renggo.
"Lima orang, Bos?" Jon menoleh cepat ke arah Renggo.
"Yakin, Bos?" timpal Jek.
"Lo pada siap?!" seru Renggo pada para kandidat mengabaikan pertanyaan Jon dan Jek.
"Siap!!!" jawab mereka serempak, menghentakkan kaki ke lantai.
Renggo melirik Aurell.
Aurell mengangkat tangan, lalu menurunkan cepat. "Mulai!!!"
Pria-pria itu saling serang. Pukulan, tendangan, sikutan, dan bantingan menghantam. Sepatu bot menghantam rahang. Bunyi tulang retak tenggelam oleh teriakan para kandidat yang saling tindih di atas semen berdebu.
Renggo berdiri tak bergerak, matanya mengikuti bercak darah yang menciprat ke pilar gudang. Brandy bersandar di dinding, jari-jarinya memainkan ujung rambutnya sambil tersenyum saat melihat satu pria terbanting dengan leher mengunci lantai.