SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #57

56. DISTIRBUSI

Cahaya matahari pagi menyusup tipis lewat celah ventilasi kawat, memotong asap rokok yang mengendap tebal di udara ruangan. Sebuah meja kayu panjang membentang di tengah. Di dinding tripleks sebelah kanan, peta raksasa Tangerang Raya terbentang luas, tertancap puluhan pin merah yang berkilat tertimpa pendar neon.

Di sudut ruangan, tumpukan kardus cokelat berisikan kode-kode cat semprot tersusun rapi hingga hampir menyentuh langit-langit. Bau lakban baru, kertas semen, dan plastik pres memenuhi ruangan.

Seluruh ketua wilayah duduk melingkari meja. Lima ketua wilayah baru masih dihiasi memar kebiruan dan plester kusam akibat seleksi keras kemarin.

Renggo berdiri di ujung meja, membelakangi peta. Tangannya terulur ke samping, mengetukkan ujung spidol spidol hitam ke atas kayu meja. "Dengerin baik-baik."

Semua kepala di ruangan mendongak serentak.

"Mulai hari ini cara kerja kita berubah."

Renggo berbalik, ia mencabut tutup spidol, lalu menarik garis lingkar lebar berdiameter besar mengelilingi seluruh wilayah Tangerang Raya di atas peta. "Selama ini kita cuma jagain bandar," ujung spidolnya menekan tepat di garis perbatasan. "Mulai sekarang... bandar ambil barang ke kita."

Jejen menoleh pelan. Ambon menghentikan ayunan rokoknya di udara.

"Hydra udah percaya sama kita," lanjut Renggo, menatap tiap pasang mata di meja satu per satu. "Jangan bikin mereka nyesel."

Jari Renggo mulai bergerak menunjuk titik-titik koordinat pada peta. "Jon. Pasar Setu. Bandar lama tetap."

Jon mengangguk singkat dari kursinya. "Siap."

"Robi, bantuin Jejen. Judi jalan, barang ikut jalan."

Robi menyandarkan punggungnya, mengetuk meja dua kali. "Siap."

"Jek. Sanyo. Pondok Aren. Kontrakan tetap, jangan pindah tempat."

Jek merapikan lipatan jaketnya, sementara Sanyo hanya menatap lurus. "Siap, Bos," sahut Jek pendek.

"Aban. Ciputat. Red Viper bantu distribusi."

Aban menyilangkan tangan di dada, mengangguk. "Siap."

"Aurell. Pamulang. Kafe tetap hidup, VIP prioritas."

Aurell menganggkuk.

Tatapan Renggo bergulir ke Jejen. "Robi bakal bantuin lo pegang wilayah yang ditinggalin Baron."

Jejen menggangguk, lalu menoleh ke Robi. "Siap bos."

Renggo menoleh ke Sammy. "Lo bantuin Jek dan Sanyo jaga distribusi di Pondok Aren."

Tangan Sammy mengepal di depan di dada. "Mereka siap jalan, bos."

"Ambon." Renggo melirik ke Ambon. "Ciputat Timur bekas markas Wild Liar. Pastiin mereka tau ambil barang kemana."

"Siap bos," Ambon memberi gerakan hormat.

Terakhir, Renggo menoleh ke dua pria yang duduk di paling ujung. "Mangkik. Bores. Tangerang Kota. Hari ini, gue mau dengar nama Black Ribal udah masuk sana."

Mangkik menyeringai lebar. "Beres, Bos."

Bores mengangguk pelan. "Siap."

Renggo menyumbat kembali tutup spidolnya. "Ingat. Yang rugi bukan Hydra. Yang rugi nama Black Ribal."

Asap sate padang menyengat di lorong bawah ruko pasar Setu. Seorang bandar paruh baya melangkah masuk ke dalam bilik kayu, meletakkan tas olahraga kusam di atas meja. Jon menarik ritsleting tas hitam miliknya, memperlihatkan sepuluh paket plastik tebal yang terikat rapi dalam kemasan vakum. Paket berpindah tangan, digantikan tumpukan uang kertas lima puluh ribuan yang terikat karet gelang.

"Mulai sekarang ambilnya ke sini," Jon menggeser tumpukan uang itu ke bawah kolong meja.

Bandar itu mengangguk kaku. "Paham, Bang."

Lihat selengkapnya