Lampu gantung temaram menggantung kaku di atas meja sudut Cafe Remang. Di luar, siraman gerimis Puncak membasahi kaca jendela, membiaskan kilatan lampu jalanan yang bergelombang.
Pria berkemeja mengamati Aurell yang baru saja melangkah masuk. Senyum tipisnya tidak hilang dari bibirnya. "Lama," ia mengetuk jarinya ke tepi cangkir kopi.
Aurell menarik kursi di seberangnya. "Macet."
"Villa dia ke sini cuma lima belas menit," pria itu memiringkan kepala.
Aurell memdengus, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Ya berarti gue jalan pelan."
Pria itu tertawa kecil. "Bohongnya makin jelek."
Aurell meraih gelas air mineral milik pria itu, menyesapnya sedikit. "Kenapa manggil gue?"
"Gue penasaran."
"Penasaran apa?"
Pria itu mencondongkan tubuhnya. "Lo berubah."
Aurell mendengus. "Gue kasih laporan terus."
"Seminggu terakhir laporan lo pendek," potong pria itu. "Lo emang kasih informasi, Rell. Tapi bukan observasi."
Keheningan melintas di antara mereka, terisi desir hujan di balik kaca.
"Lo biasanya cerita kebiasaan target secara detail," lanjut pria itu. "Sekarang cuma..." Ia menirukan nada datar Aurell. "...Renggo rapat. Renggo ekspansi. Renggo ketemu bandar. Renggo tidur."
Pria itu mengangkat bahunya datar. "Gue nggak butuh sekretaris."
Aurell membalas tatapannya. "Gue kasih apa yang menurut gue penting."
"Menurut siapa?" desis Handler, mengunci manik mata Aurell. "Menurut kita... atau menurut lo?"
Mata mereka saling menatap beberapa detik tanpa berkedip.
"Perkembangannya," Aurell mengalihkan topik, suaranya dingin. "Distribusi barang udah pindah total."
"Dari Hydra?"
"Masih Hydra," sahut Aurell. "Tapi sekarang semua bandar jalur selatan sampai perbatasan ambil barang lewat Black Ribal."
Pria itu mengangguk pelan, jemarinya mengelus dagu. "Berarti fondasinya mulai kuat."
"Makanya jangan kelamaan," tekan Aurell. "Kalau dia sempat beresin Tangerang Kota... bakal jauh lebih susah buat narik jalurnya."
"Gue nggak niat ngambil jalurnya," pria itu menyandarkan badannya kembali. "Dia masih gampang dibaca?"
Aurell mengangkat sebelah alisnya. "Gue masih bisa mainin dia."
"Yakin?"
"Kalo lo nggak percaya, suruh orang lain."
Pria itu menyeringai, matanya menyipit halus. "Kalau gitu... kenapa tiap gue nyebut nama dia... lo langsung defensif?"
Aurell mengepalkan jarinya di atas meja, membalas tatapan itu tanpa jeda. "Gue defensif karena lo banyak bacot. Bukan karena hal lain."
"Bukan, Rell," bisik pria itu. "Karena sekarang kalau ada orang lain yang ngomong jelek soal dia... lo mulai nggak suka."
Aurell tertawa kecil. "Lo terlalu banyak analisis."