Cahaya matahari masuk dari jendela setengah terbuka, membentuk garis-garis cahaya di lantai kayu. Sofa besar berlapis kain lembut, di atasnya beberapa bantal berwarna netral, buku-buku tertumpuk di meja samping, aroma kopi dan sisa sarapan menempel samar di udara.
Gilang duduk di sofa, tangannya menggenggam cangkir kopi, matanya mengikuti Aura yang duduk di lantai, memegang sisi rusuknya yang memar, punggung menempel di sofa. Suasana tenang, hanya terdengar suara jam berdetak di dinding.
Dentuman knalpot motor menembus ketenangan ruang tamu. Aura menoleh, mata membesar, bibir tercekat. Satu tangan menempel di sandaran sofa, kaki menekuk, tubuh condong saat mencoba menahan rasa sakit. Napasnya keluar serak, suara desisan halus ikut terdengar.
Pintu depan terbuka. Aurell muncul di ambang pimtu, jaket kulit menempel di bahu, sepatu bot hitam menapak perlahan di lantai kayu. Ia berhenti, mata menyapu ruangan. Aura tetap diam, tubuh sedikit menegang. Gilang masih di sofa menatap lurus ke arahnya.
"Dari mana aja lo?" tanya Aura saat Aurell melangkah masuk.
Mata Aurell melirik ke sisi rusuk Aura yang dibalut perban tipis di balik kaus longgarnya. "Bagian rusuk?"
Aura mengangkat sebelah alis. "Kenapa?."
Aurell mengangguk kecil. "Bagus, lo masih hidup."
Aurell berjalan melewati Aura. Matanya menyapu ruang, lalu berhenti ketika melihat Bu Vica muncul dari ruang tengah.
"Kalao kakakmu nanya itu dijawab, Rell," tegur Bu Vica, seorang desainer terkenal dengan tubuh terawat.
"Mamah? Kok di rumah?" Alis Aurell terangkat.
"Ini rumah Mamah juga, Mamah nggak boleh ada di sini?" jawab Bu Vica ringan.
Aurell mengangkat bahu, menahan senyum. "Biasanya kan Mamah nginep di butik," sahutnya.
"Ada apa sih ribut-ribut gini," sela Pak Rusli, anggota DPRD Banten fraksi partai dengan logo bintang tiga seperti logo mobil Mercedes, berjalan dari ruang kerjanya.
"Masih ingat rumah, Rell?" tanya Pak Rusli.
"Ya ingat dong, masa lupa," jawab Aurell santai
"Ke mana aja baru pulang? Kakakmu sakit kamu malah ngilang. Udah nggak peduli lagi sama Aura?" omel Pak Rusli.
"Habis liburan, Pah. Aurell tau dia sakit, tapi lagi di Jogja, nggak bisa langsung pulang," kelakar Aurell.
"Lo liburan sama siapa?" tanya Aura, matanya menyipit.
"Obatnya udah diminum?"
Aura mengernyit. "Hah?"
Aurell mendengus. "Gue liburan bukan urusan lo."
"Jawab pertanyaan kakakmu, liburan sama siapa?" tegur Pak Rusli, mengulangi pertanyaan Aura.