Cahaya matahari sore merembes masuk melalui celah gorden yang tersingkap tipis, garis-garis emas yang menangkap partikel debu di atas lantai. Aurell mengerjapkan mata, tangannya meraba-raba permukaan kasur yang berantakan, mencari ponsel di balik bantal. Ia menekn tombol daya, getaran beruntun menghantam telapak tangannya, memecah kesunyian kamar.
15 Missed Calls. 9 Pesan BBM.
Aurell mengusap matanya, membuka deretan pesan dari nomor anak buahnya di Pamulang. Jemarinya berhenti bergerak saat membaca baris terakhir yang dikirim satu jam lalu.
Dia nunggu satu jam di markas. Pas mau balik, dia cuma titip pesen. 11 Juni 2013. Tunggu di Situ Gintung jam 4 sore.
Cengkeraman Aurell di ponsel mengerat, buku jarinya memutih. Ia terpaku, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang gelap, dadanya naik-turun dengan cepat. Ia melirik jam dinding kayu yang berdetak monoton.
15:35.
Aurell menyambar jaket kulit yang tersampir di sandaran kursi, menyentak pintu kamar hingga menghantam dinding. Ia berlari menuruni tangga kayu, melewati ibunya yang sedang menyesap teh di ruang tengah tanpa menoleh, terus berlari menuju garasi. Suara raungan mesin motor sport-nya membelah kesunyian halaman rumah Pak Rusli, meninggalkan kepulan asap tipis yang menggantung di udara saat ban motornya berdecit melesat keluar gerbang besi.
Aurell menurunkan standar motornya di area parkir yang hanya diisi dua motor bebek tua. Angin sore berembus kencang dari arah danau, aroma air tawar yang lembap dan bau tanah becek tertiup ke arahnya. Ia berjalan menuju pinggiran danau, tangannya terus meremas saku jaket. Matanya menyisir setiap bangku taman yang kosong dan kerumunan orang di kejauhan.
Tepat saat jarum detik di jam tangannya menunjuk angka 12, bayangan memanjang muncul dari balik pepohonan besar di ujung jalan setapak yang rimbun.
"Gue udah duga lo akan datang," sapa wanita itu saat mereka berjarak satu meter. Senyum tipis terukir di wajahnya yang tirus.
"Mau apa lo nyari gue?" tanya Aurell. Suaranya rendah.
"Sebelas Juni dua ribu tiga belas." Wanita itu mengucapkan tanggal tersebut dengan nada datar. "Dunia kecil ya, Rell?" Wanita itu melangkah pelan, tumit sepatunya menginjak ranting kering saat ia memutari Aurell yang berdiri seperti patung.
Aurell mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya. Jemarinya mencengkeram gagang pisau yang masih terlipat rapat. Matanya terus mengikuti setiap pergerakan wanita di depannya.
"Lo mau apa?" suara Aurell serak, hampir tenggelam oleh suara riak air yang mengaduk permukaan danau Gintung.
Selama lima belas menit berikutnya, wanita itu terus bicara tanpa henti. Ketika sebuah detail yang terlalu intim meluncur dari bibir wanita itu, Aurell menarik pisau lipat yang tersembunyi di balik jaketnya. Logam dingin itu berkilat tertimpa cahaya sore.
"A... A...," wanita itu menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan. "Gue nggak bakal lakuin itu kalau jadi lo," ia melirik ke arah gerombolan pemuda di samping portal yang sedang asyik memetik gitar dan bernyanyi dengan suara parau.
"Juga di sana," ia menunjuk ke arah parkiran, dua pria bersandar di tiang lampu. "Mereka kenalan gue, dan mereka bukan orang sembarangan."
Aurell menatap tajam ke arah pemuda-pemuda itu, lalu kembali ke arah wanita di depannya. Cengkeramannya pada gagang pisau perlahan melonggar.
"Dan perlu lo tau, dengan adanya gue, lo bisa dapetin apa yang lo mau lebih cepat," lanjut wanita itu, nadanya melunak.
"Oh iya?" Aurell tersenyum tipis, menyamai senyum wanita di depannya.
"As I told you, gue bisa jadi teman baik saat gue mau, dan gue mau jadi teman yang sangat baik buat lo," ujar wanita itu sembari merapikan helaian rambutnya yang tertiup angin danau.
"Imbalannya?" mata Aurell mengunci pandangan lawan bicaranya.
Wanita itu tersenyum kecil. "Kehancuran semua gangster."
"Termasuk Black Ribal?" tanya Aurell lagi.
"Termasuk Black Ribal," ulang wanita itu.