SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #63

62. SEGITIGA

Satu bulan setelah malam pergantian tahun yang penuh drama, Renggo, yang kini dikenal sebagai Absinthe, tanpa ditemani Robi maupun Aurell, menemui Brandy di markas The Hydra Jakarta. Renggo masuk ke dalam gedung mewah di pusat kota, aura kekuasaannya langsung terasa kontras dengan kesibukan Jakarta.

Renggo menyandarkan punggung di kursi kulit yang dingin. Ruangan aula Hydra yang luas itu kosong, hanya ada dia dan Brandy. "Kenapa cuma kita berdua?"

Brandy menyesap wine-nya, menyilangkan kaki, rok span-nya tersingkap sedikit. "Partner nggak butuh saksi buat bahas bisnis, Ei. Tangerang dan Jakarta itu tetangga paling intim."

Brandy bangkit, melangkah pelan memutari kursi Renggo. "Irish akan bawa paket besar dua minggu lagi. Senjata dan barang putih," bisiknya tepat di telinga Renggo.

"Dan bukan cuma paket Irish yang akan mendarat," lanjut Brandy. Tekanan jemarinya di bahu Renggo menguat. "Vermouth juga datang. Dia bilang mau mampir ke markas lo."

Renggo membuka matanya, menoleh sedikit. "Buat?"

Brandy tertawa kecil. "Entahlah. Maybe she miss you. Dia nggak sabar mau lihat sendiri anak baru yang duduk di kursi Absinthe."

Renggo tersenyum kecut.

Brandy berhenti memijat, ia mencondongkan tubuhnya, napasnya berhenmbus di leher Renggo. "Dan bukan cuma Vermouth yang kangen sama lo." Jemarinya merayap ke bahu Renggo, memijat otot leher yang kaku tepat di atas tato Tribal-nya."

"Gue tunggu di ruangan gue. Ada hal lain yang nggak bisa diomongin di kursi rapat."

Brandy melangkah pergi tanpa menoleh. Renggo menyeringai, merapikan kemeja flanelnya yang sedikit berantakan, lalu berdiri mengikuti irama sepatu hak tinggi Brandy yang menggema di koridor lantai empat.

Kedatangan Vermouth dan paket Irish mulai berputar di kepalanya, beradu dengan aroma parfum Brandy yang masih tertinggal di kerah bajunya.

Di dunia bawah, kabar selalu bergerak lebih cepat daripada peluru. Paket senjata, perpindahan wilayah, hingga nama-nama kepala Hydra berpindah dari satu kota ke kota lain lewat jalur yang tak pernah tercatat. Sementara itu, di dunia yang tampak jauh lebih rapi, seseorang justru sedang berusaha menghapus jejak masa lalunya sendiri.

Deru mesin truk towing melambat sebelum mati di pelataran rumah. Dari balik pintu kemudi, seorang pria berseragam rapi turun membawa pouch kulit berisi dokumen kendaraan, menyerahkannya ke Richard dengan gestur penuh hormat.

"Selamat atas kendaraan barunya, Pak. Semua kelengkapan surat dan garansi sudah ada di dalam."

Richard tersenyum hangat, menyambut pouch itu. "Terima kasih banyak. Hati-hati di jalan."

Truk towing bergerak mundur meninggalkan gerbang, SUV putih mengilap berdiri tegak di tengah halaman. Sinar matahari siang memantul sempurna di atas kap mesinnya yang mulus, aroma kabin kulit baru yang mahal menguar tipis dari celah jendelanya yang sedikit terbuka.

Sisilia berdiri di ambang pintu utama, dahinya berkerut memandangi kendaraan itu. Tangannya meremas pelan pinggiran baju terusan lengan panjangnya.

"Yang..." panggil Sisilia ragu. "Mobil siapa?"

Richard berbalik. Wajahnya bersih, tanpa sisa ketegangan. Ia melangkah menghampiri Sisilia, memainkan kunci pintar berlogo emas di antara jemarinya yang bersih.

"Mobil kamu," Richard menghentikan langkahnya satu jengkal di hadapan Sisilia.

Mata Sisilia menyipit, tatapannya berpindah dari SUV putih ke wajah Richard. "...Aku?"

Richard tersenyum lembut, mengangguk kecil. "Minggu lalu kamu ngeluh sedan kamu mulai sering rewel di jalan. AC-nya kurang dingin, tombol pintunya sempat macet."

"Tapi itu cuma hal kecil, yang-"

"Makanya aku ganti," potong Richard. Ia meraih tangan kanan Sisilia, meletakkan kunci mobil di atas telapak tangannya, lalu menutup jemari Sisilia rapat-rapat dengan kedua tangannya. "Warnanya putih, persis kayak warna favorit kamu."

Sisilia menunduk menatap kunci di genggamannya. Rasa hangat yang mendadak menyeruak menembus dadanya, beradu dengan rasa tidak percaya. Matanya melunak, membayang tipis oleh genangan air mata.

"Yang... ini terlalu mahal. Sedan aku kan masih bisa dibetulin..."

Richard terkekeh pelan, penuh kasih sayang dan kenyamanan. Tangannya terulur mengusap bahu Sisilia.

"Kamu istriku, Sil," bisik Richard. "Kamu pantas dapat yang terbaik. Aku nggak suka ngeliat kamu harus nunggu montir di pinggir jalan."

Sisilia mendongak, menatap mata hitam Richard memancarkan ketulusan. "Terima kasih banyak, ya, Yang..."

Richard bergerak, menyempitkan jarak. Aroma parfum kayu cendana menguasai napas Sisilia. Tangannya terangkat perlahan, telapak tangannya yang hangat mengelus pipi kiri Sisilia. Sentuhannya amat sangat lembut.

"Aku juga..." Suara Richard merendah, diwarnai rasa penyesalan yang begitu dalam. "...mau minta maaf."

Bahu Sisilia mendadak kaku. Tatapan matanya yang tadi berbinar perlahan jatuh menghadap lantai semen.

Ibu jari Richard bergerak sangat perlahan, menyingkap beberapa helai rambut pirang gelap yang menutupi pelipis Sisilia. Di bawah garis rambut, samar-samar terlihat bekas memar kebiruan yang mulai berubah kekuningan.

Richard mengusap permukaan kulit yang memar dengan bantalan ibu jarinya. Begitu halus.

"Masih sakit?" Richard menatap bekas luka.

Sisilia menahan napasnya di tenggorokan, menggeleng cepat. "Nggak... udah nggak apa-apa."

Lihat selengkapnya