Setelah pertemuan rahasianya yang intim dengan Brandy di Jakarta, Renggo mengumpulkan semua ketua wilayah Black Ribal di markasnya. Asap rokok menggantung tebal di bawah lampu gantung gudang beras.
Di atas meja kayu tebal, peta jalur distribusi terbentang, garis-garis spidol hitam membelah wilayah Tangerang Selatan.
"Paket besar dari Surabaya. Masuk dua minggu lagi," suara Renggo rendah, datar, memotong sisa udara di dalam gudang.
Renggo menghisap rokoknya. Asap tebal keluar perlahan dari sela bibirnya.
"Kalau paket itu gagal kita amanin..."
Renggo mengangkat satu jarinya. "...Hydra rugi miliaran." Jari keduanya terangkat. "Black Ribal kehilangan stok." Jari ketiga ikut berdiri. "Dan nama Absinthe... selesai."
Gudang mendadak semakin sunyi. Beberapa anak buah yang bersandar di tiang besi berdiri tegak.
"Jadi kalau ada yang masih mikir kerja setengah hati..." Renggo menunduk, menghantamkan buku jarinya ke atas meja kayu tiga kali. "...keluar sekarang."
Renggo mengalihkan matanya, menunjuk Robi. "Siapin beras lebih banyak di gudang. Setelah paket nyampe masukin semuanya ke dalam karung beras. Tumpuk paling bawah" Ia berhenti sejenak, abu rokok di tangannya jatuh ke lantai.
"Kalau polisi mampir, mereka buka satu karung..." Renggo menatap Robi lurus, "...mereka cuma nemu beras. Tapi kalau mereka buka dua..."
Renggo memiringkan kepalanya tipis. "...berarti ada yang bocor."
Tatapan mata Renggo menyapu seluruh sudut ruangan. "Gue bakal nyari siapa yang bikin bocor."
Aban menunduk. Jon membuang sisa puntung rokoknya ke lantai. Robi mengencangkan rahangnya, urat lehernya menegang.
Renggo menegakkan tubuhnya. "Gue nggak peduli kalian tidur sama siapa. Gue nggak peduli kalian mabuk. Gue juga nggak peduli kalian bunuh orang." Ia menghembuskan sisa asap rokoknya yang terakhir. "Tapi selama dua minggu ke depan... jangan bikin polisi punya alasan buat ngelirik wilayah kita. Kalau ada yang ketangkap..."
Renggo menatap mereka satu per satu. "...gue nggak jemput."
Robi mengangguk sekali. "Paham, Bos."
Renggo meraih korek api Zippo dari saku celananya. Bunyi logam bergema saat ia memantik api dan menyulut rokoknya kembali. Ia mengalihkan pandang ke barisan ketua wilayah lainnya. Ujung rokoknya menyala merah di tengah kegelapan gudang.
"Ambon, Sammy," Renggo menoleh ke mereka berdua. "Kawal paketnya. Siapin motor, cari jalur tikus. Jangan sampai ada sirine yang bunyi di belakang pantat kalian."
"Yang lain, jaga markas. Pastiin saat paket nyampe nggak ada radio polisi yang bunyi. Ia menjatuhkan puntung rokok ke lantai, menginjaknya dengan ujung sepatu bot hingga hancur. "Paham tugas masing-masing?"
"Siap, Bos!" Sahutan serempak itu menghantam dinding-dinding seng gudang.
Renggo menghempaskan tubuh ke sofa di sudut ruangan. Ia menyulut sebatang rokok baru, asap putih tebal keluar dari hidung dan memenuhi udara di sekitarnya.
Satu per satu ketua wilayah mulai berbalik. Suara gesekan sepatu bot mereka menggema memantul di dinding-dinding gudang.
Gema pintu besi perlahan susut. Di dalam gudang, hanya tersisa Renggo yang bersandar di tepi meja, serta beberapa orang di lingkaran paling dalam Black Ribal. Aurell, Robi, Aban, Jon, dan Jek.
Aurell yang sejak tadi bersandar di atas peti kayu melipat tangannya di dada. Ia melangkah pelan mendekati meja, melirik botol kaca gelap di samping peta yang sudah terbuka gabusnya.
"Jadi..." Aurell memecah keheningan, nada bicaranya santai, "...Irish sama Vermouth beneran datang?"
Renggo menyandarkan kepala, menatap langit-langit gudang yang berlubang. "Iya. Ada masalah?"
"Nggak sih, cuma-"
"Cuma apa?" potong Renggo. Matanya menyipit di balik kepul asap.
"Irish ikut ngawal paket, itu wajar. Dia jalur utama. Tapi Vermouth? Kepala Semarang? Buat apa dia ke sini?"
Renggo mangangkat bahu. "Gue juga nggak tahu. Brandy cuma bilang dia mau mampir. Lihat perkembangan di sini."
"Buat?"
"Mungkin mau rekrut lo jadi artisnya," Renggo terkekeh. Suaranya serak, memantul di dinding gudang.
Aurell menarik sudut bibirnya. "Jadi, lo rela gue jadi anak buahnya? Sex worker-nya?"
"Bercanda. Sini duduk." Renggo menepuk paha kanannya.
Aurell melangkah, pinggulnya berayun pelan sebelum mendarat menyamping di pangkuan Renggo. Renggo melingkarkan lengan di pinggang Aurell, jemarinya mencengkeram kulit jaket denim wanita itu.
"Gue nggak bakal rela lo disentuh cowok lain. Kalau ada yang berani macam-macam, gue injak batang lehernya sampai patah." Renggo mendekatkan wajahnya, deru napasnya berhembus pipi Aurell.