SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #67

66. GUDANG BERAS

Truk boks yang diparkir di dekat Pasar Serpong itu bergetar halus akibat deru mesin yang tertahan. Gilang berdiri di tengah ruang gelap bak truk, jemarinya mencengkeram besi pegangan di langit-langit. Di sekelilingnya, puluhan anggota tim taktis duduk diam dengan senjata laras panjang melintang di dada.

"Semua siap?!" teriak Gilang pada anak buahnya

"Delapan Enam!!!" sahut anak buahnya serentak.

"Bagus. Kita tunggu laporan dari Vipers Satu," ucap Gilang.

Gilang menarik Handy Talky dari rompi taktisnya. Antena hitam itu bergetar pelan.

Kring...

"Viper Satu pada Viper Dua, Solo Bandung. Roda besi Hydra sudah tiba, ganti." Suara statis radio memecah sunyi.

"Viper Dua pada Viper Satu, delapan enam. Lanjutkan laporan," Gilang melirik jam tangan digitalnya. Angka-angka hijau berpendar di kegelapan.

Lima belas menit berlalu. HT di tangan Gilang kembali berderit.

Kring...

"Vipers Satu pada Vipers Dua, Solo Garut. Dua roda besi The Hydra menyusul, ganti."

"Vipers Dua pada Vipers Satu, gimana kondisi Butiran Black Ribal di sana? Ganti."

"Wayang sudah mendekati Butiran. Butiran dilengkapi Sepi. Jumlah sekitar empat orang per pos, ganti."

Gilang menekan tombol bicara pada HT-nya. "Solo Garut, minimalisir keributan. Banyak sipil di sana. Sergap Butiran saat lengah. Jangan langsung tembak. Lumpuhkan!"

"Delapan Enam, ganti."

Hening kembali menyergap bak truk. Gilang mengatur napasnya yang mulai berat. Keringat membasahi dahi di balik masker hitam. Satu jam tanpa suara dari radio.

"Vipers Dua pada Vipers Satu, Delapan Satu Sembilan, ganti," panggil Gilang.

"Vipers Satu pada Vipers Dua, paket baru tiba di pintu gudang."

"Tunggu sampai paket masuk ke gudang beras. Jangan ada pergerakan sampai ada perintah. Ganti."

"Sepuluh empat, ganti."

Gilang mematikan radio. Ia menatap deretan pasukannya satu per satu. "Pasukan siap!"

"Siap!"

Gilang melangkah ke pintu belakang truk, menarik tuas besi hingga pintu terbuka sedikit. Cahaya lampu pasar yang kuning menusuk masuk ke dalam bak yang gelap. Ia menatap jalanan aspal yang dipenuhi pedagang dan pembeli yang tidak sadar akan apa yang akan terjadi.

"Semoga lo tetep hidup Zal... Rell... Gue nggak mau ada korban sia-sia," gumam Gilang pelan, menyandarkan punggungnya di dinding truk, matanya menatap lurus ke luar celah pintu.

Truk pengangkut sayur dan empat truk taktis mulai bergerak perlahan. Ban truk melindas sampah pasar yang berserakan. Mobil terus melaju, mendekati pasar Serpong yang terjaga ketat.

Lampu neon di langit-langit Pasar Serpong berkedip dua kali sebelum mati total. Udara pengap. Bau ikan asin bercampur dengan aroma beras karungan yang menumpuk setinggi dua meter di selasar gudang.

Kamera CCTV di sudut pasar menangkap pergerakan lima pria berpakaian sipil. Mereka menyebar di antara lapak sayur yang mulai buka. Salah satunya mengenakan kaos oblong kelabu dan celana bahan yang sudah pudar. Di pinggang belakangnya, sebuah benda logam tertutup kain kaos.

Beeng keluar dari pintu samping gudang. Ia mengenakan jaket bomber hitam. Matanya merah, kantung matanya menebal. Ia berjalan menuju lapak sayur di pojok kiri. Langkah kakinya menyeret sol sepatu bot karet di atas aspal yang basah oleh air cucian pasar.

Ia berhenti tepat di depan pria berkaos kelabu. Pria itu sedang memindahkan ikat bayam ke dalam keranjang plastik.

"Orang baru?" suara Beeng parau. Getaran pita suaranya tertangkap mikrofon di dekat lapak.

Pria itu tidak mendongak. Tangannya terus bergerak. "Iya, Kang. Baru kemarin dagang di sini. Dagang sayur, Kang."

Beeng melangkah maju satu langkah. "Udah laporan sama si bos?"

Tangan pria berkaos kelabu berhenti di udara. Ibu jarinya menekan tangkai bayam hingga putus. Dari balik kerah jaketnya, alat komunikasi kecil mengeluarkan suara statis yang tajam.

"Srrkk... Vipers Satu masuk, Solo Garut."

Pupil mata Beeng melebar. Otot rahangnya mengencang. "Lu! Lu polisi!"

Beeng menggerakkan tangan kanannya menuju balik jaket. Pria di depannya bergerak lebih cepat. Pria itu menjatuhkan keranjang bayam, merunduk, dan menghantamkan bahu kirinya ke ulu hati Beeng.

Lihat selengkapnya