Blurb
"Jangan pernah menjahit pakaian yang sobek setelah Magrib."
Bagi Rahmad, larangan itu hanyalah pamali usang tanpa alasan logis. Namun, sebagai anak yang berbakti, ia setia memegang wasiat terakhir ayahnya, Purnomo, untuk selalu mengunci rapat toko jahit mereka begitu azan berkumandang. Tiga puluh tahun terlewati dalam kepatuhan yang sunyi.
Sampai pada suatu malam yang jahanam. Di tengah badai besar dan mati lampu, seorang pria pucat sewarna kapur dengan kemeja putih yang robek rapi di dada kiri datang mengetuk pintu.
Tergerak oleh rasa iba yang keliru, Rahmad melanggar sumpah. Satu tusukan magis telah diberikan.