Mitos di kampung kami selalu dirawat dengan cara yang sama: lewat bau tanah basah selepas hujan, jelaga lampu minyak yang menempel di dinding papan, dan bisikan para tetua di pos ronda yang terdengar seumpama kutukan terselubung. Di antara sekian banyak larangan yang beredar, ada satu yang paling keras berdengung di telingaku sejak kecil. Sebuah aturan tak tertulis yang dijaga ketat layaknya pagar gaib desa: jangan pernah menjahit setelah Magrib.
Dulu, saat logikaku baru tumbuh seadanya, aku menganggap aturan itu tak lebih dari sekadar pamali praktis. Pikiran remajaku yang sok tahu menerjemahkannya sebagai cara orang tua zaman dulu agar anak-anak mereka tidak merusak mata di bawah temaram lampu petromaks yang bergoyang ditiup angin. Atau mungkin, itu sekadar trik psikologis agar remaja tanggung sepertiku berhenti keluyuran, lekas mengambil wudu, dan duduk mengaji di surau ujung jalan.
Namun, ketidaktahuan adalah sebuah kemewahan yang kini tak lagi kumiliki. Sebab tiga puluh tahun kemudian, aku baru menyadari bahwa ada beberapa larangan yang diciptakan bukan untuk melindungi mata kita dari kegelapan, melainkan untuk melindungi diri kita dari apa yang berjalan di dalam kegelapan itu.
---
Suara dengung dinamo mesin jahit Singer tuaku adalah irama tunggal yang menemani siang hariku di Penjahit Purnomo. Toko jahit ini tidak besar, hanya sebuah bangunan semi-permanen berkulit kayu jati yang berdiri kokoh di sudut pertigaan jalan desa, tepat di bawah bayang-bayang sepasang pohon trembesi raksasa yang usianya jauh lebih tua dari gabungan umur seluruh warga kampung.
Di dalam ruangan berukuran empat kali enam meter itu, hariku dihabiskan dengan memotong kain, mengukur lingkar pinggang para tetangga, dan menyatukan potongan-potongan tekstil menjadi pakaian yang layak. Ayahku, mendiang Purnomo, adalah maestro di balik meja potong ini sebelum aku mengambil alih posisinya. Pakaian buatan Ayah selalu legendaris; jahitannya begitu rapi, simpulnya begitu kuat, hingga orang-orang sering bergurau bahwa baju buatan Purnomo baru akan rusak jika dunia ini kiamat.
Namun, sehebat apa pun Ayah, dia memiliki satu ketakutan yang tidak pernah masuk akal bagi siapa pun. Ketakutan itu mewujud pada wasiat terakhirnya di ranjang kematian, tiga puluh tahun yang lalu.
Kala itu, di kamar rumah yang pengap dan berbau minyak kayu putih, jemari Ayah yang sudah keriput menggenggam pergelangan tanganku erat-erat. Cengkeramannya begitu kuat, menyisakan bekas kemerahan yang seolah menembus hingga ke tulangku. Sepasang matanya yang mulai kabur karena katarak menatapku dengan sorot yang belum pernah kulihat sebelumnya, sebuah kombinasi mengerikan antara kecemasan yang akut dan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Mad," bisik Ayah, suaranya parau, terputus-putus di antara deru napas terakhirnya yang tersengal seolah ada beban berton-ton yang menindih dadanya. "Kalau ada orang datang malam-malam... membawa baju yang sobek... jangan pernah kamu jahit. Biarkan saja. Tutup pintumu. Kunci dari dalam. Jangan balik badan sampai fajar tiba."
Aku tidak pernah bertanya mengapa. Di dalam rumah kami, perintah Ayah adalah hukum mutlak. Begitu tanah makamnya masih basah, pesan itu menjelma menjadi ritual harian yang kaku bagiku. Selama tiga puluh tahun memegang kendali toko, aku tidak pernah sekali pun melanggar batas suci tersebut.
Sore itu, jarum jam dinding kuno di pojok ruangan menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit. Langit di luar jendela mulai berubah warna, mengalirkan gradasi ungu tua dan jingga yang perlahan meredup ditelan mendung tebal yang menggantung sejak siang. Angin berembus kencang, menggoyang dedaunan trembesi di luar hingga memukul-mukul atap seng toko dengan bunyi berderak yang berisik.
"Ayolah, sisa sedikit lagi, Mad. Tanggung ini, buat celana kerja si Joko besok pagi," sebuah suara memecah konsentrasiku.
Aku mendongak dari balik mesin jahit. Wak Kasim, salah satu pelanggan setiaku yang juga teman karib Ayah semasa hidup, sedang duduk di kursi rotan dekat pintu, mengisap rokok lintingan sendiri. Ia menunjuk gulungan kain drill hitam yang baru setengah selesai kujahit bagian selangkangannya.
Aku menggeleng perlahan sembari mengendurkan pedal dinamo di bawah kakiku. Suara dengungan mesin merendah, lalu mati total.
"Tidak bisa, Wak. Lima belas menit lagi azan. Sesuai aturan."
Wak Kasim mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatapku dengan kerutan dalam di dahi tuanya.