Suara hujan di luar toko mendadak terdengar jauh, seolah-olah ada dinding kaca tak kasat mata yang tebal yang tiba-tiba turun dari langit dan mengisolasi tempat ini dari bumi. Pria bermata mati itu masih berdiri bergeming di sela celah pintu. Payung hitamnya tidak bergerak sedikit pun, meski angin kencang di luar beberapa kali menghantam pepohonan trembesi hingga mengeluarkan bunyi derit yang memilukan.
"Masuklah," bisikku.
Suara itu keluar begitu saja dari tenggorokanku. Aku bahkan tidak mengenali suaraku sendiri, terdengar tipis, bergetar, dan penuh ketakutan yang coba kusembunyikan. Logikaku memprotes keras. Otakku menjeritkan wasiat Ayah berulang-ulang hingga kepalaku pening.
Jangan pernah kamu jahit.
Tutup pintumu!
Namun, ada seutas kekuatan gaib yang tak kasat mata, seolah merayap dari tatapan kosong pria itu, mengikat persendianku dan memaksaku mundur selangkah untuk memberi jalan.
Pria itu melangkah melewati ambang pintu. Ia tidak meninggalkan jejak kaki basah di atas lantai papan toko, melainkan membawa aroma ganjil yang langsung memenuhi ruangan. Itu bukan bau air hujan yang segar, melainkan bau yang sangat kukenali sebagai tukang jahit: bau kain kafan yang sudah terlalu lama disimpan di dalam lemari lembap, bercampur sedikit aroma tanah makam yang baru digali selepas hujan.
Ia menutup payung hitamnya dengan gerakan mekanis yang kaku, lalu menyandarkannya di sudut pintu. Seluruh tubuhnya memancarkan hawa dingin yang pekat. Begitu pintu kututup kembali dan grendel besi kugeser ke posisi mengunci, hawa dingin itu seakan memerangkap kami berdua dalam ruang hampa.
"Di mana meja kerjamu?" tanyanya, berbalik menghadapku.
Aku menunjuk meja potong kayu jati di tengah ruangan menggunakan jari yang bergetar. Di atas meja itu, sebatang lilin putih masih menyala samar, menciptakan pendaran kuning kecil yang membuat bayangan kami di dinding tampak meliuk-liuk ganjil.
Pria itu berjalan mendekat, lalu dengan tenang membuka mantel hitam yang tersampir di pundaknya, membiarkannya jatuh ke lantai tanpa suara. Kini, ia hanya mengenakan kemeja katun putih tebal yang robek rapi di dada kiri. Ia berdiri mematung di sisi meja, lalu perlahan menggunakan jemarinya yang pucat untuk mengoyak belahan kemeja itu menjadi lebih lebar.
Sreeek.
Suara kain yang bergeser itu membuat bulu kudukku meremang hebat. Aku spontan melangkah mundur hingga punggungku membentur lemari penyimpanan kain. Napasku tertahan di dada. Di balik kain kemeja putih yang terbuka itu, ketakutan terburukku menjadi kenyataan.
Kulit manusia normal biasanya sewarna sawo matang atau kuning langsat. Yang terpampang di bawah pendaran lilin adalah hamparan kulit mati berwarna abu-abu pucat, persis seperti kulit mayat yang sudah seminggu diawetkan. Dan di atas permukaan kulit yang kaku itu, melintang belasan jahitan kasar dari seutas benang hitam yang sangat tebal. Jahitan-jahitan itu tampak seperti bekas usaha seseorang untuk menyatukan kembali raga yang pernah terbelah menjadi dua.