Satu Tusukan: Ilmu Kain Kafan Sungsang

Adeline Nordica
Chapter #3

Sisa Kain yang Tertinggal

Malam selepas badai berlalu seperti siksaan yang merayap lambat. Aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata di atas ranjang kamarku yang berbatasan langsung dengan ruang toko, suara ketukan ritmis itu kembali terngiang-ngiang di dinding batok kepalaku.

Tok. Tok. Tok.

Suara itu terasa begitu dekat, seolah-olah pintu jati depan dipindahkan tepat di samping bantal tidurku. Hawa dingin yang ditinggalkan oleh tubuh pria pucat semalam seakan-akan enggan menguap dari udara. Udara di dalam kamar terasa tebal, lembap, dan menempel di permukaan kulitku seperti lapisan minyak tipis yang menolak bersih meskipun telah dibasuh berulang kali.

Ketika semburat fajar pertama akhirnya menembus sela-sela ventilasi kayu jati rumah yang berdebu, aku langsung bangkit berdiri. Tubuhku terasa luar biasa lelah. Sendi-sendiku kaku, dan seluruh otot di badanku terasa remuk, seakan-akan semalam aku tidak sekadar duduk bersila memegang jarum manual di depan meja potong, melainkan baru saja memikul berkarung-karung beras basah melintasi perbukitan terjal di tengah amukan badai.

Namun, yang paling mengganggu dari seluruh sensasi fisik itu adalah sebaris rasa pegal yang ganjil dan kaku, yang berpusat tepat di bawah kulit dada kiriku. Aku mencoba mengabaikannya, menganggapnya hanya sebagai pelintir otot biasa akibat ketegangan psikologis yang ekstrem.

Hal pertama yang kulakukan dengan langkah kaki yang diseret adalah melangkah ke ruang toko depan yang masih remang-remang. Aroma kain kafan tua yang semalam memenuhi ruangan kini telah menguap, digantikan oleh bau tanah basah dan sisa air hujan yang merembes dari sela-sela bawah pintu. Di sana, tepat di atas permukaan lantai papan yang dingin di dekat ambang pintu, selembar kemeja putih milik pria semalam masih tergeletak dengan posisi yang ganjil.

Aku berjalan mendekat, lalu berlutut perlahan. Dengan ujung jari yang masih gemetar, aku memungut kain katun tebal tersebut. Kain kemeja itu sudah sepenuhnya mengering, tetapi teksturnya terasa sangat aneh di indra perabaanku, terlalu kaku, kesat, dan berat, seumpama memegang selembar perkamen tua atau kulit binatang yang dikeringkan secara tradisional. Aku mengangkat kemeja itu ke arah cahaya fajar yang mulai menyelinap dari balik tirai jendela, lalu mengamati bagian dada kirinya dengan saksama.

Sobekan membujur sepanjang lima belas sentimeter yang semalam terbuka lebar kini telah bertaut dengan sangat rapat. Benang hitam tebal milik Ayah yang kukunci dengan simpul mati semalam terlihat melintang dengan begitu rapi, menembus serat-serat katun putih dengan tingkat presisi yang menakutkan. Sebuah hasil kerja yang nyaris mustahil bisa dilakukan oleh tangan yang gemetar di bawah temaram sebatang lilin.

Namun, ada satu detail kecil di ujung simpul jahitan yang membuat jantungku mendadak mencelos. Di sela-sela jalinan benang hitam yang paling bawah, terdapat sebuah noda kecokelatan yang samar namun pekat. Aku mendekatkan noda itu ke hidungku.

Seketika itu juga, bau anyir yang teramat pekat langsung menusuk indra penciumanku. Itu bukan bau darah segar manusia hidup yang teriris pisau; itu adalah bau darah mati, cairan tubuh yang telah membusuk dan mengering selama puluhan tahun di dalam kegelapan tanah yang lembap.

Lihat selengkapnya