Satu Tusukan: Ilmu Kain Kafan Sungsang

Adeline Nordica
Chapter #4

Rahasia Pesisir Selatan

Kengerian mencengkeram sanubariku hingga ke dasar tulang saat melihat helaian benang hitam itu menyembul dari kulit dadaku sendiri. Ruang kamar yang remang-remang mendadak terasa menyusut, mengimpit pernapasanku.

Dengan sepasang telapak tangan yang gemetar hebat dan dibasahi keringat dingin, aku mengangkat jemariku yang kaku. Aku mencoba menjepit ujung benang itu menggunakan ibu jari dan telunjuk.

Pikiranku yang panik mati-matian mencari sangkalan rasional; aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa mungkin ini hanyalah seutas benang sisa jahitan kemeja pria misterius semalam, sebuah potongan limbah kain yang entah bagaimana caranya menempel erat di atas kulit dadaku yang berkeringat semenjak badai menerjang.

Namun, ketika jariku meremas untaian halus itu, dugaanku langsung patah. Benang itu tegang. Ia mencuat lurus, seolah ditarik oleh seutas pasak tak kasat mata dari dalam rongga tubuhku sendiri.

Ketika aku memaksakan diri menariknya keluar, meskipun hanya bergeser beberapa milimeter, sebuah rasa sakit yang teramat asing dan biadab langsung menghantam jantungku. Itu bukan jenis rasa sakit perih atau menyengat seperti kulit luar yang teriris mata pisau. Sama sekali bukan. Itu adalah rasa ngilu yang luar biasa pekat, sebuah cengkeraman sedingin es yang menusuk dan meremas langsung ke dalam organ terdalam di rongga dadaku.

Bersamaan dengan tarikan itu, dari dalam badanku sendiri, terdengar suara kretek halus yang ganjil dan mengerikan. Bunyinya mirip seperti suara serat-serat karung goni tua yang dipaksa merenggang hingga putus satu demi satu. Seketika itu pula, aku merasa ada untaian tali gaib yang mengikat paru-paru dan jantungku yang mendadak melonggar, membuat pasokan udara di tenggorokanku terhenti seketika.

Pandanganku langsung memutih, buram terdistorsi oleh gelombang rasa pening yang luar biasa. Kepalaku berputar hebat seolah lantai kamar tempatku berpijak mendadak miring, dan seluruh persendian di kedua kakiku runtuh kehilangan daya. Aku terjerbab berlutut di atas lantai papan yang berderit, menahan berat tubuhku yang mendadak seumpama sebongkah batu lumpur yang basah.

Aku terjebak dalam posisi berlutut itu selama beberapa menit, terengah-engah seperti orang yang baru saja ditarik dari dasar sungai yang tenggelam. Tangan kananku mencengkeram dada kiri yang kini berdenyut kencang dengan ritme yang kacau dan menyiksa. Keringat dingin mengucur deras dari dahi, membasahi pelipis dan menetes ke lantai kayu yang berdebu.

Begitu jepitan jemariku pada benang hitam itu kulepaskan, rasa ngilu yang menusuk tadi perlahan-lahan mereda. Namun, ia tidak pergi begitu saja. Rasa sakit itu digantikan oleh sebuah sensasi baru yang tidak kalah mengerikan: rasa hampa yang sangat dingin, seolah-olah ada sebagian kecil dari nyawa dan kehangatan tubuhku yang baru saja diisap keluar dan tertinggal di ujung benang tersebut.

Aku tahu, aku tidak bisa lagi berdiam diri di dalam kamar ini sembari berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan hilang saat matahari meninggi. Ini bukan penyakit medis, bukan pula infeksi kulit aneh yang bisa disembuhkan oleh resep obat atau suntikan antibiotik dari dokter puskesmas kecamatan. Ini adalah tanda.

Ini adalah utang darah dan takdir, sebuah kutukan nyata yang diwariskan oleh Ayah melalui sebatang jarum kuningan yang kulanggar pantangannya semalam.

Sore harinya, ketika langit di luar mulai berubah warna menjadi ungu tua pertanda senja kian mendekat, aku memaksakan diri untuk melangkah keluar rumah. Setiap ayunan langkah kakiku terasa sangat berat, dan dada kiriku terus-menerus disiksa oleh rasa pegal yang kaku, seakan-akan ada semen cor yang membeku di balik tulang rusukku.

Aku berjalan menyusuri jalanan desa yang becek selepas badai, menghindari tatapan para tetangga yang mulai berbisik-bisik di depan halaman rumah mereka mengenai berita kuburan terbongkar tadi subuh.

Lihat selengkapnya