Penjelasan yang keluar dari mulut Pak Jono terus-menerus terngiang di dalam kepalaku sepanjang jalan pulang. Kata demi kata mengalir layaknya racun yang lambat laun membunuh kewarasanku.
Aku melangkah dengan kaki yang terasa kaku, seumpama robot rongsokan yang telah kehilangan seluruh baris programnya. Langkahku terseret ganjil, menembus kabut senja kampung yang mulai merayap naik dari celah-celah parit dan pepohonan liar. Udara sore itu terasa jauh lebih berat dari biasanya, membawa uap air yang terasa begitu pekat sekaligus menyesakkan.
Setiap meter langkah yang kuambil menuju rumah seakan-akan membawaku lebih dekat ke gerbang kematian. Rasa dingin yang aneh di dada kiriku kini kian menjadi-jadi. Sensasi beku itu tidak lagi berdiam di satu titik, melainkan mulai menjalar secara perlahan namun pasti, menyebar ke seluruh rongga tubuh, menusuk paru-paru, hingga membuat setiap helaan napasku terasa sangat pendek, dangkal, dan luar biasa berat.
Malam itu, jenis ketakutan yang sama sekali baru mulai merayap dan meneror isi kepalaku. Toko jahit peninggalan Ayah tetap kubiarkan tertutup rapat-rapat. Seluruh grendel besi kupasang, dan ruangan depan sengaja kutinggalkan dalam keadaan gelap gulita tanpa sejumput cahaya pun. Aku tidak berani menyalakan lampu minyak ataupun lilin di ruang utama; aku takut cahayanya akan mengundang sesuatu yang salah untuk mendekat.
Aku memilih untuk mengurung diri di dalam kamar tidur belakang yang sempit. Di sana, aku duduk mematung di atas lantai kayu yang dingin, tepat di depan cermin lemari pakaian dengan dada bertelanjang. Aku hanya ditemani oleh cahaya lampu bohlam lima watt yang temaram dan berwarna kuning pucat.
Di bawah pendaran lampu yang minimalis itu, aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri sebuah pemandangan yang membuat jantungku mencelos. Guratan luka merah yang semalam tampak samar di dadaku kini telah bertransformasi sepenuhnya.
Warnanya berubah drastis menjadi hitam kebiruan yang pekat, sebuah warna yang sangat mengerikan karena persis seperti bekas lebam pada tubuh mayat yang sudah berhari-hari membusuk. Yang lebih membuatku ngeri, seuntai benang hitam kasar yang menyembul dari tengah luka itu kini tampak sedikit lebih panjang jika dibandingkan dengan tadi siang.
Benang itu tidak diam. Untaian hitam tebal itu bergerak-gerak pelan dengan ritme yang sangat teratur, seolah-olah ia memiliki denyut tersendiri yang secara paksa mengikuti sisa-sisa detak jantungku yang kurasakan kian menit ke menit kian melemah.
Demi mencari secercah harapan rasional, aku mencoba memeriksakan kondisiku keesokan paginya. Aku memaksakan diri berkendara ke sebuah klinik kecil yang terletak di pusat kota kecamatan. Di dalam ruangan pemeriksaan yang berbau karbol menyengat, aku berhadapan dengan dokter yang bertugas.
Pria paruh baya dengan kacamata tebal itu awalnya menyapaku dengan ramah, namun raut wajahnya langsung berubah ketika ia menempelkan stetoskop besi dinginnya ke dada kiriku.
Ia mematung dalam posisi itu selama hampir lima menit penuh. Dahinya berkerut begitu dalam hingga membentuk lipatan-lipatan kulit yang tegang. Matanya yang berada di balik lensa kacamata tampak bergerak-gerak gelisah, sementara tangannya sesekali mengetuk-ngetuk permukaan stetoskop dengan ekspresi bingung yang luar biasa.
"Aneh sekali... Ini benar-benar tidak masuk akal," bisik dokter itu perlahan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. Ia menarik stetoskopnya dengan tangan yang tampak sedikit ragu.