Tiga hari terkurung di dalam rumah tanpa berani membuka pintu toko membuat duniaku menyusut setebal dinding kayu yang mengurungku. Bau rumah ini berubah menjadi pengap; perpaduan antara uap minyak kayu putih yang sia-sia, ketakutan yang mengendap di sudut plafon, dan sisa aroma mistis yang belum sepenuhnya menguap.
Selama tujuh puluh dua jam itu, aku hanya menatap langit-langit atau memandang bayanganku sendiri yang kian mengerikan. Tubuhku menyusut drastis, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata sedang mengisap daging dari tulang-tulangku dari dalam. Kulit wajahku yang biasanya segar terpapar matahari kini tampak kusam, kehilangan rona kehidupan, berubah warna menjadi kekuningan sekering lembaran kain mori tua.
Dan yang paling membuatku ngeri saat menatap cermin adalah sepasang mataku. Warna kehitaman yang pekat melingkari kelopak mataku, cekung, kering, dan tanpa binar. Sebuah replika yang persis dari sepasang mata mati milik pria misterius yang datang memecah badai malam itu.
Di balik kaus yang kukenakan, segalanya terasa jauh lebih mengerikan. Benang hitam yang tertanam di dada kiriku tidak lagi sekadar menyembul kaku. Untaian yang bertekstur kasar seperti rambut mayat itu telah memanjang, menjuntai hingga dua sentimeter ke luar. Garis lebam yang membujur di atas jantungku mulai merekah sedikit, terbuka layaknya kelopak bunga yang membusuk.
Ketika aku memberanikan diri mengintip ke dalam celah luka itu di bawah temaram lampu, bulu kudukku berdiri tegak. Tidak ada setetes pun darah segar yang mengalir di sana. Yang ada hanyalah sebuah kekosongan yang pekat, sebuah lorong gelap tanpa dasar di balik kulitku sendiri.
Aku tahu, waktu tidak lagi berjalan bersamaku. Jika aku hanya bisa meringkuk di atas kasur ini sembari menunggu jalinan benang itu terurai sepenuhnya, aku akan mati menjadi seonggok raga kosong, sebuah selongsong mayat tak bernyawa bahkan sebelum bulan di langit berganti.
Satu-satunya petunjuk, satu-satunya tali penyelamat yang masih tersisa di dalam ingatanku yang mulai mengabur adalah ucapan lirih pria semalam. Sebelum ia lenyap menjadi abu kelabu, ia sempat merintih tentang alasannya mengemis pada waktu selama tiga puluh tahun: ia ingin bertahan hidup sedikit lagi demi bisa melihat anaknya tumbuh besar.
Pikiran itu menyengat kesadaranku yang hampir padam. Jika aku bisa menemukan anak itu, mungkin aku bisa menemukan cara untuk memutus ikatan gaib jahanam ini. Atau paling tidak, aku bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di atas meja potong toko jahit ini saat Ayah menusukkan jarumnya tiga puluh tahun lalu.
Dengan sisa-sisa tenaga yang kupaksakan dari otot-ototku yang mulai melemah, aku mulai bersiap. Aku mengambil segulung perban putih yang bersih, lalu melilit dada kiriku berkali-kali dengan sangat erat. Ikatannya sengaja kubuat sekencang mungkin untuk menahan agar helaian benang hitam di dalam dagingku tidak bergesek kasar dengan serat pakaian saat aku bergerak. Setiap kali lilitan itu menekan lukaku, rasa ngilu yang luar biasa membuat gigiku bergemeletuk menahan jeritan.
Setelah memastikan perban terpasang kuat, aku melangkah keluar secara mengendap-endap melalui pintu belakang rumah yang berbatasan langsung dengan rimbun kebun pisang. Aku berjalan memutar, mengambil jalan setapak yang sunyi demi menghindari jalanan desa yang ramai, menuju satu-satunya tempat yang bisa memberiku jawaban: rumah Pak Jono.