SATURNUS

Ardhi Widjaya
Chapter #14

Alister: Huge Mistake

Hujan turun pelan sore itu, seperti lupa caranya menjadi badai. Jalanan Kota Jogja tampak basah, memantulkan gemerlap lampu-lampu toko yang menyala lebih awal. Aku memilih menghabiskan akhir pekan di sebuah book café yang tersembunyi di gang kecil dekat SMA MM Prep. Tempat ini seperti ruang pelarian: rak buku menjulang dari lantai sampai langit-langit, bau kayu tua bercampur kopi espresso, dan musik instrumental yang remang-remang terasa seperti selimut untuk pikiran yang ingin menenangkan diri.

Aku duduk di sudut, membaca buku yang sebenarnya tidak kupahami sepenuhnya: A Midsummer Night’s Dream karya Shakespeare. Setiap kali kulirik kaca jendela yang dipenuhi titik-titik hujan, bayangan serangan panik itu ikut memudar. Aku menyukai kesendirian ini. Tanpa geng. Tanpa drama. Tanpa Arsenio. Tanpa Alister. Tanpa… kebohongan.

Notifikasi ponsel bergetar.

Nama yang muncul: Pakde Risjad

Ric, kamu di mana? Ada hal penting tentang Alister, dia tadi hubungi saya.

Tenggorokanku mengering. Telapak tanganku dingin. Alister… ada apa?

Aku membalas cepat:

Ada apa pakde? Aku di tengah kota deket sekolah. Kalau mendesak aku bisa menyusul.

Tidak butuh satu menit, pakde membalas.

Meski kamu lagi ada masalah sama mereka, kamu tetap sahabat terdekatnya.

Tolong temui Alister dulu. Kondisinya… tidak baik.

Kursi yang kududuki terasa semakin sempit. Aku menarik napas panjang, mencoba tidak berspekulasi, mencoba tidak panik. Tapi bayangan terburuk sudah berlarian di kepala. Aku unblock nomor Alister untuk mengonfirmasi keberadaannya.

Aku berdiri, membayar kopi yang bahkan belum kusentuh separuhnya, dan keluar menembus hujan rintik. Setiap langkah terasa berat, seperti menuju sesuatu yang sudah tak bisa kuhindari.

Aku menemukan Alister berada di depan sebuah minimarket. Ia duduk di bangku besi yang dingin, hoodie abu-abu menutupi sebagian wajahnya. Tangan kanannya sibuk menekan ujung kuku kiri—kebiasaan lamanya kalau resah.

Aku mendekat pelan.

“Alis,” sapaku. Suaraku nyaris tenggelam oleh suara hujan.

Ia menoleh lambat. Matanya merah, bukan karena menangis saja—lebih seperti kurang tidur berhari-hari.

“Ric…” sebutnya, lirih. “Lo… dateng.”

Aku hanya mengangguk. Ada jeda yang panjang, semacam jurang yang sebelumnya tidak pernah ada di antara kami.

“Pakde lo bilang ke lo, ya?”

Ia mencoba tersenyum, tapi usahanya gagal total.

“Ada apa?” tanyaku pelan. “Tell me the truth.”

Alister memejamkan mata. Napasnya naik turun cepat, sebelum akhirnya keluar dengan suara serak:

“Carissa hamil…” Beberapa saat kemudian Alister memaparkan kalau Carissa adalah mahasiswi yang ia temui di tempat dugem dan setelahnya mereka melakukan one night stand. Alister kerap party sendirian ketika pertemanan kami bertiga renggang.

Aku terdiam. Dunia sunyi dalam detik yang panjang.

Suara hujan di atap mini market ini terdengar seperti drum perang.

Dia melanjutkan, terbata:

Lihat selengkapnya