Sebuah pengumuman hadir pada pagi yang bahkan tidak terasa istimewa. Aku sedang duduk di kelas, menatap papan tulis yang penuh rumus Fisika pelajaran sebelumnya ketika Bu Ratna, wali kelas sekaligus guru Bahasa Indonesia masuk dengan wajah yang terlalu cerah untuk hari Senin.
“Alaric,” panggilnya.
Nada suaranya membuat seluruh kelas menoleh. Ada sesuatu yang berkilat di matanya—kebanggaan yang jarang sekali ditujukan kepadaku sejak isu klub debat menggelinding liar.
“Iya, Bu?” jawabku, mencoba terdengar biasa saja meski jantungku mendadak cepat.
Beliau tersenyum lebih lebar.
“Kamu menang kontes esai tingkat nasional dari Dinas Pendidikan. Hadiahnya program edukasi ke Korea Selatan selama sepuluh hari.”
Kelas langsung riuh. Kursi berderit. Seseorang bersiul. Seseorang lagi bertepuk tangan terlalu keras. Tapi aku justru diam.
Korea Selatan. Negeri yang selama ini hanya kutemui lewat buku sejarah modern dan dramanya yang lebih kerap menonjolkan pemain dengan muka hasil operasi plasti daripada kemolekan Nami Island yang eksotis kala musim gugur.
Aku berdiri pelan. “Serius, Bu?”
“Serius.” Ia menyerahkan amplop resmi berstempel biru. “Kamu satu-satunya perwakilan dari DIY.”
Tangan yang menerima amplop itu terasa sedikit gemetar. Bukan karena gugup. Tapi karena lega.
Setelah kehilangan kursi ketua debat. Setelah tatapan-tatapan sinis yang bilang aku terlalu ambisius. Setelah rumor bahwa aku “terlalu haus spotlight” yang ditebarkan Arsenio. Hari itu, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kalah.
Kabar itu menyebar lebih cepat dari gosip. Di kantin, siang harinya, Arsenio duduk di depanku dengan ekspresi yang sulit kubaca antara bangga dan sedikit tidak nyaman. Indeed aku maish belum terlalu nyaman.
“Congrats, Ric,” ucapnya, menyodorkan botol teh ke arahku seperti simbol damai. “Lo emang beda sih. Essay lo selalu overkill.”
Nada suaranya ringan, tapi ada jeda kecil sebelum kata beda.
Aku tersenyum tipis. “Thanks.”
Aku membayangkan Alister, duduk di sebelahnya, menepuk bahuku pelan.
“Gue bilang juga apa. Lo tuh kalau fokus nulis, bisa lebih jauh dari debat.” Lalu ia berkata dengan tulus, tapi matanya terlihat lelah. Tapi itu hanya bayangan masa-masa keakraban kami. Sejak kasus dengan kehamilan mahasiswi Bernama Carissa, ia jarang benar-benar hadir secara utuh.
Seseorang lalu mendekat ke meja kami, Cipta.
Rambutnya diikat rendah hari itu. Senyumnya rapi, terlalu rapi. “Wah, selamat ya, Al,” katanya, suaranya manis seperti gula yang dilarutkan dalam air hangat. “Korea Selatan? Keren banget.”
Aku menatapnya sepersekian detik lebih lama dari biasanya. “Aku cuma kirim esai,” jawabku datar. “Enggak nyangka tembus.”
Cipta tertawa kecil. “Ya iyalah tembus. Lo kan anak emas debat.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi ada nada tipis yang menusuk. Anak emas debat, padahal setelah menolak pernyataan rasa sukaku, Cipta jugalah yang membuat seolah-olah aku tidak mampu berkontribusi untuk klub debat MM Prep. Iya, sekarang aku bukan apa-apa di klub itu.
Arsenio menggeser posisi duduknya. Ia tampak tidak nyaman setiap kali Cipta ada di sekitar kami. Cipta melanjutkan dengan santai, seolah percakapan berikutnya hanya basa-basi.
“Oh iya, ngomong-ngomong soal debat… minggu depan ada seleksi ketua tetap. Gue disuruh Bu Ratna jadi kandidat.”
Ia menyebutnya ringan, seperti membicarakan jadwal piket.
Aku menegakkan punggung.
“Kandidat?” ulangku pelan.
“Iya.” Ia menyedot es kopinya perlahan, membiarkan jeda itu tumbuh. “Kan kemarin lo mundur. Jadi kursinya kosong. Dan kebetulan… gue yang paling aktif akhir-akhir ini.”
Aktif, kata itu menggema seperti sindiran yang disamarkan.