SATURNUS

Ardhi Widjaya
Chapter #16

Rise and Shine

Pesawat Boeing ini mendarat dengan halus di landasan Bandara YIA, tapi pikiranku masih tertinggal jauh di antara dinginnya udara Seoul dan gemerlap lampu kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Sepuluh hari di Korea Selatan terasa seperti hidup di dunia lain.

Segalanya tertata, cepat, efisien. Tidak ada yang menunggu terlalu lama untuk menjadi sesuatu yang berarti.

Setidaknya itu yang kurasakan karena mungkin aku menjadi pelancong yang didampingi tim duta besar Indonesia di Korea. Beda dengan cerita para traveler yang mengulas kerap mendapatkan perlakuan rasis di negeri ini.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa kecil, bukan karena kalah, tapi karena sadar dunia ini jauh lebih besar dari apa yang selama ini kuperebutkan.

Aku menarik koper keluar dari bandara. Udara Jogja menyambut dengan hangat, lembap, dan familiar. Bau tanah, suara motor dan ritme kota yang lebih santai membuat dadaku mengendur.

Tapi kenyataan menunggu di sini, selalu begitu. Ponselku bergetar saat aku baru saja masuk mobil.

Nama yang muncul: Alister.

Aku menatap layar beberapa detik.

Jari-jariku sempat ragu.

Lalu aku angkat.

“Hallo,” suaraku datar.

Di seberang sana, hanya ada napas. Berat. Tidak teratur.

“Ric…”

Suara Alister pecah. “Lo… udah balik?”

“Iya. Baru landing.”

Ada jeda panjang. Seolah dia sedang mengumpulkan keberanian yang sudah lama hilang.

“Gue… gue minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Mobil mulai melaju, meninggalkan bandara. Lampu-lampu jalan seperti garis panjang yang mengalir di kaca jendela.

“Maaf soal apa?” tanyaku akhirnya.

Semua.

Mungkin itu jawaban yang ingin dia berikan.

Dan benar saja

“Semua, Ric…” suaranya serak. “Gue pernah ninggalin lo. Gue pernah percaya hal yang enggak jelas. Gue juga… gue juga bikin hidup gue sendiri hancur.”

Aku memejamkan mata sebentar. Padahal sebelum aku berangkat ke Korea, sepertinya suasana sudah kembali ceria, tapi entah apa yang geng-ku rasakan ketika aku tidak bersama mereka dua minggu belakangan, terutama Alister.

Nada suaranya tidak dibuat-buat, tidak defensive, tidak seperti Alister yang biasa.

“Gue lagi kacau banget, Ric,” lanjutnya pelan. “Gue enggak tau harus gimana.”

Aku bersandar ke kursi. “Ada apa sekarang?” Dan jeda lagi.

Lalu satu kalimat yang jatuh seperti batu. “Gue sempat nyuruh Carissa aborsi dan kayaknya jadi masalah nih, gue kalut banget soalnya”.

Dadaku mengeras. “Tapi dia nolak,” lanjut Alister cepat, suaranya gemetar. “Dan sekarang gue malah takut sendiri. Gue takut kalau dia beneran… gue enggak siap jadi apa-apa, Ric. Gue bahkan enggak punya sekolah sekarang.”

“Lo di mana?” tanyaku.

“Di kos,” jawabnya. “Sendirian.”

Aku menatap jalan di depan.

“Gue ke sana, ntar malem, sekarang gue balik dua ke rumah pakde.”

Kos Alister tidak berubah. Masih sama seperti terakhir kali aku datang, minimalis, rapi, tapi terasa kosong.

Ia membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk. Wajahnya lebih kurus. Mata cekung. Rambutnya tidak terurus.

“Ric…” katanya pelan.

Lihat selengkapnya