SATURNUS

Ardhi Widjaya
Chapter #17

When The Pack Back

Ada jarak yang tidak kasatmata, tapi terasa nyata dalam pertemanan di sekitarku. Sejak semua yang terjadi dimulai tentang Cipta, tentang kekhilafan Alister, dan tentang rahasia yang pernah kuketahui tentang Arsenio, hubungan kami tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu. Kami masih berada di sekolah yang sama, kecuali Alister, bahkan kadang tertawa dalam percakapan yang sama di luar sekolah. Tapi ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata “berbeda”. Lebih tepatnya: kami tidak lagi solid.

Hari itu di kantin MMprep terasa biasa saja bagi orang lain, tapi bagiku, semuanya terasa sedikit lebih sunyi. Aku duduk sendiri di meja pojok perpustakaan, membuka laptop, mencoba menyusun draft pidato Bahasa Inggris untuk kompetisi di Jakarta. Kata-kata berbaris di layar, tapi pikiranku tidak sepenuhnya ada di sana.

Aku sedang mencoba membangun ulang diriku sendiri, bukan lewat debat lagi, bukan lewat geng. Tapi lewat sesuatu yang lebih… stabil. Dan itu adalah kompetisi yang melibatkan diriku sendiri.

“Lo sendirian aja?” Suara itu datang dari arah samping. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa karena aku sudah mengenalnya, Arsenio.

Aku tetap diam beberapa detik, pura-pura fokus pada layar. Tapi akhirnya aku menutup laptop perlahan dan mengangkat kepala. Dia berdiri di depanku, membawa dua botol minuman dingin.

“Ni, buat lo,” katanya, meletakkan satu botol di depanku tanpa diminta.

Aku menatap botol itu sejenak, lalu ke arahnya.

“Thanks, yuk ke luar, gak boleh minum di perpus” jawabku mengajak Arsenio ke luar perpustakaan.

Kami lalu menuju kantin dan memesan batagor. Tidak ada yang langsung bicara. Hanya suara sendok beradu dengan piring dari meja lain, dan obrolan siswa yang terdengar jauh.

Arsenio membuka tutup botolnya. “Lo lagi prepare lomba pidato ya?”

“Yeah,” jawabku. “Jakarta. Minggu depan.”

“Nice,” katanya pelan. “Masih savage aja lo ya, Ric.”

Aku tersenyum tipis. “Just trying to stay relevant.”

Kalimat itu keluar ringan, tapi di dalamnya ada banyak hal yang tidak kuucapkan. Tentang bagaimana aku harus bangkit lagi setelah Cipta. Tentang bagaimana aku tidak mau lagi jadi alat orang lain.

Arsenio mengangguk pelan. Lalu, tanpa melihatku, ia berkata, “Temen-temen gue… yang di luar sekolah… udah gak pernah kontak lagi.”

Aku mengernyit sedikit. “Yang komunitas itu?” tanyaku.

Ia mengangguk. “Mereka kayak… ilang aja, ghosting, no explanation,” katanya, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. “Padahal dulu tiap minggu ketemu.”

Aku mengangkat bahu. “Ya mungkin mereka sibuk.”

“Iya… mungkin.”

Tapi dari cara dia mengatakannya, jelas itu bukan jawaban yang dia cari.

Aku tidak menanggapi lebih jauh. Bukan karena tidak peduli, tapi karena aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ada bagian dalam diriku yang masih mengingat bagaimana ia pernah memanipulasi situasi atas pesan yang “salah kirim” itu. Dan ketidak percayaan itu belum benar-benar hilang. Kami duduk dalam diam lagi.

“Anyway,” katanya akhirnya, mencoba mengubah nada, “good luck buat lombanya.”

“Thanks.” Itu saja. Percakapan kami berakhir tanpa benar-benar selesai.

Beberapa hari setelahnya, aku janjian dengan Alister di sebuah kafe kecil dekat Tugu Jogja. Tempat itu punya suasana yang tenang, rak buku tinggi di sepanjang dinding, aroma kopi yang pekat, dan lampu kuning yang membuat semuanya terasa hangat.

Lihat selengkapnya