Melewati jalanan di Jakarta dengan mendengarkan lagu Empire State of Mind selalu terasa seperti medan tempur berupa concrete jungle.
Bukan hanya karena padatnya jalanan atau gedung-gedung tinggi yang berdiri seperti raksasa tak berperasaan, tapi karena di kota ini, semua orang datang dengan satu tujuan: menang. Dan hari itu, aku adalah salah satu dari mereka.
Kompetisi pidato Bahasa Inggris tingkat nasional diadakan di aula kantor Departemen Pendidikan. Barisan kursi yang dipenuhi peserta dari berbagai daerah membuat atmosfernya terasa serius bahkan sebelum lomba dimulai. Aku berdiri di belakang panggung, memegang naskah pidato yang sebenarnya sudah kuhafal di luar kepala.
Tanganku dingin, bukan karena takut tapi karena sadar: ini bukan lagi tentang sekadar menang. Aku hanya butuh kesadaran bahwa aku berharga.
“Ric.” Suara itu datang dari belakang. Aku menoleh dan sumber berasal dari Alister.
Dia mengenakan kemeja hitam sederhana, tapi senyumnya tetap santai seperti biasa.
“Lo tegang?” tanyanya.
“Dikit,” jawabku jujur.
“Good,” katanya sambil menepuk bahuku. “Means you care.”
Aku mengangguk pelan. Tak lama, Arsenio menyusul. Kali ini dia terlihat lebih rapi dari biasanya jaket tipis, rambut ditata, tapi wajahnya masih menyimpan pucat yang samar.
“Bro, you got this,” katanya singkat.
Aku tersenyum yakin pada mereka berdua. Untuk sesaat, semua konflik, semua jarak, semua hal yang sempat retak… terasa menghilang. Mereka datang untuk mendukungku sebagai wujud solidaritas itu cukup.
Namaku dipanggil sebagai peserta ke-12. Aku melangkah ke atas panggung. Lampu sorot langsung mengenai wajahku, membuat segalanya terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Aku berdiri di tengah, memandang ke arah para juri dan penonton.
Dan di sana, di barisan depan terlihat Cipta tersenyum cemerlang dan tampak tenang, ia sudah maju terlebih dahulu di urutan nomor 7. Ia duduk tegak, mengenakan blazer abu-abu. Ekspresinya menunjukkan seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami.
Aku menarik napas lalu mulai berbicara. “Ladies and gentlemen…” Kata-kata itu mengalir dan kulanjutkan
Today, I stand before you not to reject the idea of welfare, but to question the execution of a program that, on paper, seems noble: the Free Nutritious Meal Program, or MBG.
As students, we are often told that this program exists for us, for our health, for our future, for our ability to learn better. But we need to ask a more uncomfortable question: Is it truly helping us, or is it failing us in ways we are not supposed to notice?
…
Aku merasa penyampaianku lancar dan terukur. Setiap kalimat yang kususun membawa bagian dari diriku tentang tekanan, tentang ekspektasi, tentang bagaimana program Makan Bergizi Gratis harus dipertanyakan efektivitasnya…
Food is not just about nutrition. It is about safety. And when safety cannot be guaranteed, then the program itself becomes a risk.
Then again, Large-scale programs mean large-scale budgets. And where there is a large budget, there is always a risk of mismanagement, even corruption. There have been concerns raised about inefficiencies in distribution, inflated costs, and a lack of transparency in procurement processes. When funds meant to feed students are misused, it is not just a financial issue; it is a moral failure.
Because every rupiah that disappears is a meal that never reaches a student.
Aku tidak lagi berbicara untuk mengalahkan orang lain. Aku berbicara untuk renjana atas pemikiranku sendiri. Dan mungkin… untuk membuktikan bahwa aku tidak memerlukan validasi atau pengakuan dari siapa pun untuk berdiri di panggung ini.
Ketika aku selesai, tepuk tangan terdengar. Aku turun dari panggung, kembali ke kursi peserta, dan untuk sesaat, aku melirik ke arah Cipta, ia mengangguk kecil.
Pengumuman hasil lomba dilakukan menjelang sore. Kami semua berdiri di aula, menunggu nama-nama yang akan disebutkan.