SATURNUS

Ardhi Widjaya
Chapter #19

Walk The Line

Kata siapa hidup remaja itu penuh keceriaan? Tidak demikian rasanya ketika aku melihat Alister berdiri di depan rumah kecil yang ia kontrak bersama , bayi laki-lakinya yang baru berusia beberapa bulan. Matahari sore menyinari halaman sempit itu, memantulkan bayangan yang terasa… dewasa, mewakili kehidupan mereka walaupun sebenarnya terlalu dewasa untuk kami.

“Masuk, Ric,” kata Alister, membuka pagar dengan satu tangan.

Aku mengangguk, melangkah masuk. Suara tangisan bayi terdengar pelan, lalu berhenti saat Carissa muncul dari dalam rumah.

“Eh, Alaric,” katanya, tersenyum tipis. “Masuk aja.”

“Thanks,” jawabku.

Rumah itu sederhana. Sofa kecil, meja kayu, dan beberapa perlengkapan bayi yang berserakan. Bau susu formula dan minyak telon bercampur jadi satu.

Aku duduk, memperhatikan Alister yang mulai mengayun pelan bayinya.

“Udah sah ya lo sekarang,” kataku.

Alister tertawa kecil. “Gila ya… gue nikah duluan dari lo.”

“Unplanned achievement,” jawabku, setengah bercanda.

Carissa menghela napas. “Lo kira lucu ya? Kita tiap minggu ribut.”

“Car,” potong Alister, “jangan mulai.”

“Gue gak mulai. Emang kenyataannya gitu,” balasnya.

Aku memperhatikan mereka berdua. Ada cinta di sana, tapi juga kelelahan. Ada tanggung jawab yang datang terlalu cepat.

“Lo harus belajar tenang, Al,” kataku pelan. “Stop reacting to everything.”

Alister menatapku. “Gue lagi belajar, Ric. Tapi kadang… gue ngerasa kejebak.”

“Semua orang kejebak di fase masing-masing,” jawabku. “Tinggal lo mau jadi korban atau keluar pelan-pelan.”

Sunyi sejenak, bayi di tangan Alister mulai tertidur. Carissa duduk di kursi seberang, memijat pelipisnya.

“Gue cuma capek,” katanya pelan.

Aku mengangguk “kalian keren kok…” Aku tidak menghakimi. Karena aku tahu… kami semua sedang berjalan di garis masing-masing.

Hari-hari berikutnya di Jogja terasa seperti fase penutup. Aku, Alister, dan Arsenio sempat beberapa kali hang out lagi. Duduk di kafe, ngobrol ringan, tertawa sesekali. Tapi tidak lagi sama. Tidak ada lagi dominasi dari aku yang harus mengatur ini itu sebagai ketua geng.

Lihat selengkapnya