SATURNUS

Ardhi Widjaya
Chapter #20

The Quiet Victory

Tahun demi tahun berganti, empat tahun sudah aku merantau ke luar negeri. Jogja tidak banyak berubah. Setidaknya itu yang kulihat karena mungkin di Singapura semua terlihat lebih futuristic.

Jalanan masih dipenuhi sepeda motor yang berdesakan di lampu merah, aroma angkringan masih menyelinap di sudut-sudut malam, dan langit senja tetap jatuh dengan cara yang sama tenang, seolah tak pernah peduli siapa yang datang dan pergi.

Namun, bagiku, kota itu tidak lagi terasa sama. Aku kembali bukan sebagai remaja yang dulu berlari dari satu fase ke fase lain, bukan lagi anak yang haus pengakuan, bukan pula pemimpin kecil dalam lingkaran persahabatan yang rapuh. Aku kembali sebagai seseorang yang telah melihat dunia lebih luas dan, yang lebih penting, telah melihat diriku sendiri tanpa ilusi.

Lulus dari National University of Singapore dengan jurusan Social–Political bukan hanya memberiku gelar. Hal ini memberiku perspektif tentang cara membaca manusia. Cara memahami motif termasuk cara melihat bahwa di balik setiap keputusan, selalu ada dorongan yang lebih dalam yang bahkan sering kali tidak diakui oleh diri sendiri.

Bagiku jiwaku kini lebih tenang. Tapi ketenangan itu bukan tanpa bayangan. Apalagi ketika sebuah pertemuan terjadi di tempat yang tidak aku rencanakan.

Sebuah galeri seni di pusat kota Jogja, tempat di mana musik instrumental mengalun pelan dan orang-orang berbicara dengan suara setengah berbisik, seolah setiap kata harus dihargai. Aku datang karena undangan seorang kolega lama, bagiku ini lebih sebagai formalitas daripada ketertarikan.

Aku berdiri di depan sebuah lukisan abstrak ketika suara itu muncul di belakangku.

“Selera kamu nggak berubah ya, Ric.”

Aku tidak langsung menoleh. Memang, aku masih mengenali suara itu. Suara yang tenang, terlatih. Dan terdengar terlalu familiar meski lebih dari empat tahun aku tidak mendengarnya.

Aku mencoba membalik badanku dan tepat sesuai dugaan, Cipta sudah berdiri di sana, Indira Cipta Prameswari. Perempuan yang dulu pernah menggeser arah hidupku tanpa benar-benar meminta izin.

Ia tampak lebih dewasa meski ada beberapa hal yang terlihat sama dari cara bicaranya. Rambutnya kini lebih pendek, ditata rapi dengan sentuhan profesional. Pakaiannya sederhana namun elegan. Wajahnya tidak lagi menyimpan kepolosan remaja yang tersisa adalah versi yang lebih matang, lebih sadar akan dirinya sendiri.

“Cipta,” ujar Alaric singkat.

“Long time no see,” balasnya, tersenyum tipis.

Kami berdiri dalam jarak yang cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain, namun cukup jauh untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya bergerak di bawah permukaan.

“Lo balik ke Jogja?” tanya Cipta.

“Baru beberapa minggu,” jawab Alaric. “You?”

“Aku memang di sini sekarang.”

Percakapan mereka berjalan ringan, nyaris terlalu ringan untuk dua orang dengan sejarah yang tidak sederhana. Mereka berbicara tentang pekerjaan, tentang kota, tentang hal-hal yang aman.

Lihat selengkapnya