Satya dan Bunga

Saipul449
Chapter #3

Garis batas dan waktu #3

Bab : 3 Garis batas dan waktu

Setiap detik waktu terasa begitu berharga di setiap momen kebersamaan mereka. Tanpa terasa, tiga puluh menit sudah berlalu sejak sambungan telepon dari Rendi terputus. Ruang tengah yang semula riuh oleh tawa kecil kini berangsur tenang. Rama sudah kembali terlelap dalam dekapan hangat Melisa, sementara Sinta sesekali melenguh kecil di dalam buaiannya, menyesuaikan posisi tidur di bawah embusan angin pagi yang sejuk.

Satya melirik jam dinding. Jarum pendek hampir menyentuh angka delapan. Sisa seduhan hitam di cangkirnya sudah mendingin, meninggalkan ampas di dasar keramik—seolah menandakan bahwa momen santai pagi ini harus segera berganti dengan tuntutan tanggung jawab pekerjaan.

"Aku bersiap-siap dulu ya, Dik. Takut jalannya agak macet di depan lampu merah kompleks, apalagi ini jam orang berangkat kerja," ucap Satya lembut sembari beranjak dari kasur lantai.

Melisa mendongak, menatap suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mengangguk pelan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh perasaan, Melisa beranjak berdiri lalu menaruh Rama ke dalam buaian, menjaganya agar tetap terlelap aman berdampingan dengan Sinta. Setelah memastikan kedua buah hatinya tidur pulas tanpa terusik, barulah Melisa melangkah menuju kamar.


Di dalam kamar tidur mereka yang bersahaja dan sarat akan kehangatan, Melisa berdiri di depan lemari pakaian kayu. Tangannya meraih kemeja biru muda milik Satya, merapikan bagian kerahnya yang sebenarnya sudah licin sempurna akibat setrikaan kemarin sore. Pikirannya masih tertambat pada percakapan telepon subuh tadi. Kata "luar kota" dan "kecelakaan" yang diucapkan Rendi terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Sebagai istri seorang staf ekspedisi, ia tahu betul risiko yang dihadapi suaminya di setiap perjalan.

Tidak lama kemudian, Satya keluar setelah membasuh diri, dengan handuk yang tersampir di pundak dan rambut yang masih basah, ia mendapati istrinya sedang melamun sembari memandangi kemeja kerjanya.

Satya tersenyum tipis, melangkah mendekat lalu menerima kemeja tersebut dari tangan Melisa. "Kenapa melamun? Masih memikirkan telepon dari Rendi tadi?"

Melisa tersentak kecil, lalu buru-buru mengulas senyum terbaiknya agar suaminya tidak terbebani. Tangannya bergerak membantu merapikan kerah baju Satya yang mulai dikancingkan. "Tidak apa-apa, Mas. Cuma kepikiran saja... rute luar kota yang biasa dipegang Mas Toni itu kan jalur pegunungan yang rawan kalau musim hujan begini. Mas benar tidak apa-apa kalau nanti ditunjuk menggantikan?"

Satya memegang jemari Melisa pelan untuk menenangkannya. "Mas kan belum tentu dipilih, Dik. Hari ini agenda di kantor baru sebatas rapat darurat untuk memetakan opsi pengganti. Belum tentu Mas yang ditunjuk. Tapi kalaupun nanti memang Mas yang ditugaskan, kamu jangan khawatir. Mas sudah delapan tahun kerja di sana, sudah hafal mati setiap tikungan di rute itu. Mas pasti akan berkendara lebih hati-hati."

Melisa menatap mata suaminya yang tenang. Rasa khawatir di hatinya sedikit menyusut mendengar penjelasan rasional Satya. Ia mengangguk pasrah. "Iya juga ya, kan baru mau dirapatkan. Ya sudah, kalau begitu Mas cepat bersiap, nanti telat rapatnya."

"Nah, begitu dong. Ibu muda kalau tersenyum kan jadi tambah cantik," goda Satya dengan senyuman jahilnya yang khas, membuat Melisa spontan mencubit pelan pinggang suaminya.

"Ih... Mas Satya mah, masih saja sempat menggoda," balas Melisa sembari tersenyum malu. Tawa kecil mengalir di antara mereka, mengembalikan atmosfer kasual dan hangat di dalam kamar itu.

Satya kemudian meraih tas kerja hitamnya, memasukkan beberapa dokumen manifes logistik, lalu memakai jam tangan kulitnya. Seperti ritual wajib setiap pagi sebelum berangkat kerja, Satya mendekat dan mengecup kening istrinya dengan hangat.


"Doakan rapatnya lancar ya, Dik," bisik Satya.

"Selalu, Mas. Hati-hati di jalan," jawab Melisa lembut. Ia mengantar Satya hingga ke pintu depan, memandangi suaminya yang mulai menyalakan sepeda motor dan perlahan bergerak membelah jalanan kompleks untuk menuju kantor.

Dalam hati Melisa, meskipun status keberangkatan Satya pagi itu baru sebatas menghadiri rapat, sambil menatap punggung suaminya yang menjauh dengan segaris doa keselamatan yang tulus. Ia tahu, di dalam dunia logistik, situasi darurat bisa mengubah segalanya dalam hitungan jam.

Perjalanan dari rumah menuju kantor ekspedisi yang terletak di kawasan industri pusat kota memakan waktu sekitar dua puluh menit menggunakan sepeda motor. Jalanan pagi itu padat merayap oleh lautan kendaraan beroda dua dan empat yang saling berkejaran menembus kepulan asap knalpot. Satya membelah kemacetan dengan fokus penuh, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa hangat yang tertinggal dari pelukan istrinya di rumah—sebuah energi yang membuatnya selalu kuat menghadapi sekeras apa pun dunia kerja di luar sana.

Lihat selengkapnya