Bab 4: Bayang-Bayang Masa Lalu
Matahari sore sudah condong ke barat, memancarkan warna jingga kemerahan di atas atap rumah kompleks ketika Satya sampai di rumah dan memarkirkan sepeda motornya di teras.
Tubuhnya terasa lelah. Setelah momen singkat di kafe bersama Rendi pagi tadi, ia memang langsung menghabiskan sisa harinya di gudang pusat untuk mengurus berkas administrasi dan memeriksa kelaikan unit truk nomor lima. Namun, rasa lelah itu mendadak luruh, berganti debar halus di dada saat ia mengingat bahwa malam ini, tepat pukul sepuluh, ia harus memulai perjalanan jauh ke rute barat.
Satya melangkah masuk setelah mengucapkan salam. Suasana rumah terasa tenang dan harum masakan dapur langsung menyambut indra penciumannya. Di ruang tengah, Rama dan Sinta sedang asyik bermain dengan mainan plastik di atas kasur lantai.
Melisa keluar dari arah dapur dengan senyuman hangat, seolah tidak terjadi apa-apa sepanjang hari itu. Ia segera mendekat, menerima tas kerja hitam Satya, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
"Mas sudah pulang. Kalo gitu mas mandi dulu gi? setelah itu kita makan bersama. Aku sudah menyiapkan masakan kesukaan Mas di meja," ucap Melisa lembut. Suaranya terdengar begitu menenangkan, menyembunyikan rapat-rapat gemuruh yang sejak siang tadi berkecamuk di dalam dadanya.
Satya tersenyum lega, Kemudian Satya melangkah menuju kedua anaknya sambil membungkuk dan mengusap pelan kepala kedua anak kembarnya yang menengadah riang menyambut kepulangannya, sebelum melangkah untuk membersihkan diri. Melisa memandangi punggung suaminya yang menjauh dengan tatapan yang mendadak meredup, menghela napas panjang untuk menguatkan hatinya sendiri sebelum kembali ke dapur.
lima belas menit berlalu. Satya keluar dengan pakaian kasual yang bersih. Di atas meja makan sederhana mereka, Melisa sudah menata rapi hidangan sore itu. Tidak ada kemewahan, namun kebersihan dan kehangatan penyajiannya membuat suasana terasa begitu intim.
Mereka makan berdampingan dalam keheningan yang nyaman. Satya menikmati setiap suapan dengan lahap, sesekali memuji rasa masakan Melisa yang selalu pas di lidahnya. Melisa sendiri lebih banyak memperhatikan suaminya, sesekali menambahkan lauk ke piring Satya. Ia membiarkan suaminya mengembalikan tenaga dari kelelahan kerja tanpa diganggu pembicaraan berat sedikit pun.
Setelah piring dibersihkan dan sisa makanan dirapikan kembali ke tudung saji, mereka berdua beralih duduk lesehan di kasur lantai ruang tengah, menemani Rama dan Sinta yang mulai mengantuk. Di momen ketenangan inilah, atmosfer perlahan berubah. Melisa menundukkan kepala, jemarinya bertautan dengan gugup di atas pangkuan daster batiknya.
"Mas..." panggil Melisa lirih, memecah kesunyian.
Satya menoleh, langsung menangkap perubahan nada suara istrinya yang mendadak terasa berat. "Iya, Dik? Ada apa?"
Melisa mengembuskan napas berat, mencoba menata suaranya agar tidak bergetar. "Tadi siang... setelah Mas berangkat ke kantor... Ibu menelepon."
Gerakan tangan Satya yang sedang merapikan mainan plastik anak-anaknya seketika membeku. Kata "Ibu" dari mulut Melisa bukanlah sebuah sapaan keluarga yang hangat, melainkan sebuah hantaman kesedihan yang selalu berhasil menguji keteguhan hati mereka selama ini.
"Ibu... mertua?" tanya Satya memastikan. Nada suaranya berubah datar namun tetap tenang.
Melisa mengangguk pelan. Setitik air mata yang sejak siang ditahannya akhirnya lolos membasahi pipi. "Ibu bilang, Ayah sedang sakit di rumah sana. Ibu meminta aku pulang, membawa Rama dan Sinta berkunjung. Katanya, mereka ingin sekali melihat wajah kedua cucu kembarnya untuk pertama kali." Melisa menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa begitu tercekat. "Tapi, Mas... Ibu menegaskan sekali lagi. Aku hanya boleh datang membawa anak-anak. Tanpa kamu. Ayah tetap tidak mau melihat kamu di rumah itu."
Suasana ruang tengah seketika mendingin. Satya menarik kembali tangannya, lalu menyandarkan punggung ke dinding. Kalimat penolakan itu tidak baru bagi Satya. Namun, setiap kali mendengarnya, ada rasa nyeri yang tersisa di sudut hati.
Pernikahan yang telah berjalan beberapa tahun ini berdiri di atas puing-puing penolakan keras. Hubungan yang dirajut sejak bangku SMA—saat Melisa duduk di kelas dua dan Satya di kelas tiga—telah bertahan lebih dari enam tahun tanpa pernah mendapat lampu hijau dari keluarga Melisa yang terpandang.
Bagi orang tua Melisa, putri mereka yang lulusan sarjana ekonomi dari universitas ternama seharusnya bersanding dengan pria yang setara secara status sosial dan materi. Bukan dengan Satya, pria yang memilih membuang hak istimewa keluarganya demi sebuah prinsip cinta dan tanggung jawab.
Kala itu, satu-satunya alasan orang tua Melisa merestui pernikahan adalah karena keras kepalanya Melisa sendiri. Begitu lulus kuliah, Melisa bersikeras langsung menikah dengan Satya, yang saat itu hanya bekerja sebagai staf ekspedisi. Restu itu pun datang dengan syarat mutlak yang kejam: jika tetap memilih Satya, Melisa harus angkat kaki dari rumah dan dicoret dari keluarga.
Namun, keteguhan hati Melisa tidak dapat dibendung oleh ancaman apa pun. Cinta dan keyakinannya jauh lebih besar daripada kilau harta yang ditawarkan keluarganya. Pada akhirnya, dia tetap memutuskan menikah dengan Satya.