Satya dan Bunga

Saipul449
Chapter #5

Jalan takdir #5


Bab : 5 Jalan Takdir

Singkatnya, dua puluh menit perjalanan membawa Satya tiba di gudang pusat. Ia melirik jam di tangan kirinya yang telah menunjukkan pukul 21:45. Tanpa membuang waktu, ia segera menyelesaikan urusan administrasi terakhir bersama Rendi. Namun, sesaat sebelum melangkah keluar dari ruang berkas, tatapan mata Satya sempat tertuju pada sebuah kalender yang tergantung di dinding. Lembarannya menunjukkan "Jakarta tanggal 15 Desember 2013.


Setelah menarik napas dalam, Satya langsung naik ke kabin tinggi truk nomor lima. Tepat pukul sepuluh malam, roda-roda raksasa kendaraan itu mulai berputar, bergerak perlahan meninggalkan gerbang gudang untuk memulai perjalanan panjang membelah rute barat Jalan Lintas Sumatera. Sorot lampu tembak truknya menjadi mata tunggal yang menembus keheningan dan kegetiran malam.

Sementara raungan mesin truk Satya mulai beradu dengan sunyinya aspal lintas provinsi, di sebuah sudut kota yang jauh dan tenang, atmosfer kehidupan yang sepenuhnya berbeda sedang bergulir.

*Di dalam sebuah rumah yang jauh itu, keheningan malam justru dipecahkan oleh suara tawa kecil dan obrolan santai. Seorang gadis remaja tengah asyik berbincang dengan ayahnya di ruang tengah. Mereka sedang bernostalgia, mengenang kembali masa kecilnya dan bagaimana mendiang ibunya dahulu memiliki kebiasaan serta sifat yang sama persis dengan gadis itu.


Bunga tumbuh menjadi remaja yang memiliki rasa simpati tinggi dan sangat penyayang. Sifat itu kembali terlihat nyata malam ini, saat sebuah kotak kardus berisi seekor kucing diletakkan di sudut ruangan. Sore tadi dalam perjalanan pulang sekolah, Bunga menemukan kucing malang itu tergeletak dengan kaki patah akibat terlindas mobil. Rasa ibanya yang mendalam membuat Bunga tidak tega meninggalkan makhluk kecil itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawa kucing tersebut pulang dan merawatnya sendiri.


"Ayah. Setiap kali melihatmu seperti ini, Ayah selalu merasa ibumu belum benar-benar pergi, Nak," ucap sang ayah dengan suara yang mendadak melembut. Matanya yang mulai berkerut menatap lurus ke arah kotak kardus di sudut ruangan, sebelum kembali tertuju pada putri tunggalnya. "Hatimu yang lembut, sifatmu yang tidak tegaan... kamu benar-benar mewarisi seluruh kebaikan yang dulu mengalir di nadi ibumu."

Bunga mendongak, menghentikan jemarinya yang semula sibuk merapikan kain usang di dalam kardus. Ia tersenyum getir. "Bunga cuma tidak tega, Yah. Sorot mata kucingnya sore tadi seperti sedang meminta tolong. Kalau Bunga tinggal, rasanya separuh hati Bunga ikut tertinggal di jalanan itu," jawabnya lirih.

Sang ayah tersenyum haru, mengangguk perlahan seolah membenarkan setiap jengkal kenangan yang mendadak melintas di kepalanya. "Ibumu dulu persis seperti itu. Beliau selalu percaya, kalau kita menutup mata dari makhluk yang kesakitan, artinya kita sedang mematikan satu bagian dari kemanusiaan kita sendiri. Dan malam ini, Ayah bangga melihat bagian itu hidup dengan begitu indah di dalam dirimu."

Mata Bunga berkaca-kaca. Ada rasa rindu yang hangat sekaligus menyergap dada mendengar penuturan ayahnya. "Bunga ingin jadi seperti Ibu, Yah. Menjadi tempat teduh untuk apa pun yang sedang terluka."

"Kamu sudah menjadi seperti dia, Nak," bisik sang ayah sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya, menyalurkan rasa bangga yang tak terukur.

Menyadari gurat kesedihan dan kerinduan yang mendalam di wajah sang ayah, Bunga langsung berusaha mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak menjadi terlalu larut dalam kesedihan.

"Oh iya, biar Bunga buatkan teh hangat untuk Ayah, ya? Malam ini terasa agak dingin," sahutnya dengan nada suara yang sengaja dibuat lebih ceria.

Sang ayah hanya tersenyum hangat, sangat mengerti maksud putri tunggalnya yang ingin menghibur hatinya. "Ya sudah, Ayah tunggu di sini."

Bunga bergegas bangkit menuju dapur. Sembari menunggu air mendidih, ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sedikit. Gadis itu menarik napas panjang, menatap uap air yang mulai naik dari teko, lalu menyiapkan dua cangkir kesukaan mereka di atas nampan kecil. Baginya, kehangatan sederhana di dapur malam ini adalah caranya untuk menjaga agar senyum di wajah sang ayah tidak lekas pudar oleh bayang-bayang masa lalu.

Setelah teh hangat itu siap, Bunga melangkah kembali ke ruang tengah dan menyuguhkannya di atas meja di hadapan sang ayah. 

"Oh iya, Yah. Paman sudah beberapa hari ini tidak tampak datang berkunjung, ya? Biasanya hampir setiap minggu Paman selalu menyempatkan diri ke sini," tanya Bunga, membuka obrolan baru.

Lihat selengkapnya