Bab 6 : Kabut Abadi
Deru mesin diesel truk nomor lima kembali membelah kesunyian malam di ujung utara Mukomuko pasca-istirahat satu jam di pelataran SPBU. Roda-roda raksasanya bergerak konstan, meninggalkan sisa-sisa pendar lampu pom bensin yang perlahan tenggelam di kejauhan. Perjalanan panjang sejak siang hari dari Bengkulu Utara kini memasuki ujian fisik yang sesungguhnya bagi Satya. Jalur pesisir yang semula datar, kini telah berganti menjadi jalanan menanjak ekstrem—menyusuri tanjakan legendaris rute Tapan yang menjepit perbatasan Sumatra Barat dan dataran tinggi Jambi.
Semakin tinggi truknya mendaki, rimbunnya belantara Taman Nasional Kerinci Seblat seolah kian rapat mengepung sisi kanan dan kiri aspal lintas provinsi. Di dalam kabin yang remang, Satya melirik ponsel tombolnya yang tergeletak di atas dasbor. Layar kecil itu mati total dari tangkapan sinyal—menandakan ia telah masuk sepenuhnya ke dalam isolasi yang sempurna di tengah titik buta rute perbukitan Sumatra. Tidak ada lagi suara musik dari warung kopi, tidak ada kendaraan lain yang berpapasan. Hanya ada raungan mesin truknya yang berjuang keras menaklukkan tanjakan curam di bawah pekatnya langit malam.
17 Desember 2013 — Pukul 01:30 Dini Hari Truk nomor lima akhirnya berhasil melewati tugu tapal batas wilayah hutan tropis yang memisahkan jalur luar dan kawasan dalam TNKS. Udara yang berembus dari celah-celah bukit pegunungan terasa begitu dingin menusuk kulit. Sambil melewati jalur yang berkelok curam di bawah kegelapan malam, Satya terus mengemudikan kendaraannya yang merayap pelan, terus naik mendaki menuju wilayah barat dataran tinggi Jambi.
Hingga jam di pergelangan tangan Satya kini telah menunjukkan pukul 02:30 dini hari.
Sorot lampu tembak truk nomor lima menerangi sebuah gapura besar yang berdiri kokoh di kegelapan malam, bertuliskan.
"Selamat Datang di Kabupaten Kerinci."
Malam itu, kegelapan di perbatasan dataran tinggi Kerinci terasa begitu pekat dan menekan, seolah hutan tua di sekelilingnya sedang menyerap sisa-sisa kehidupan dari aspal jalanan.
Meskipun sebelumnya sempat mengistirahatkan tubuhnya selama satu jam di SPBU, sisa kelelahan dari perjalanan panjang selama hampir dua puluh jam kini kembali merongrong fisik Satya. Udara dingin pegunungan yang menusuk hingga ke tulang perlahan membawa turun, kabut tebal yang amat pekat, bergulung-gulung menyelimuti bentangan jalur curam sako di puncak Tapan. Sorot lampu tembak truk yang semula garang mendadak membentur dinding putih susu yang tebal. Jarak pandang terpangkas hebat, menyisakan tidak lebih dari lima meter ke depan. Segalanya menjadi abu-abu, samar, dan membingungkan.
Karena kondisi itu, dia sedikit menurunkan laju kendaraan agar tetap dalam kondisi terkendali. Namun, saat roda truknya perlahan memutari sebuah tikungan tajam, sorot lampu dekatnya mendadak menangkap sekelebat bayangan di aspal. Hanya berjarak beberapa meter di depan bumper truk, sebuah sepeda motor tergeletak di bahu jalan dan ada sesosok tubuh yang terbaring kaku di sana.
Satya menginjak rem dalam-dalam hingga rem angin truknya mendesis keras. Jantungnya berdegup kencang. Melalui kaca depan yang mulai berembun, ia bisa melihat samar-samar bahwa orang tersebut baru saja mengalami kecelakaan tragis yang memerlukan pertolongan segera.
Tanpa berpikir panjang, Satya langsung turun dari kabin truk dan menghampiri orang tersebut menggunakan lampu senter yang sudah disiapkannya dari dasbor. Namun, rasa iba itu seketika berubah menjadi kepanikan hebat saat matanya menangkap kejanggalan pada genangan cairan di tanah yang awalnya ia kira darah. Sadar bahwa ini adalah jebakan bajing loncat atau begal, ia berbalik cepat menuju mobil, berencana mengambil tuas besi dongkrak di bawah jok untuk membela diri.
Lalu tiba-tiba, dari arah belakang ...BRUKK.......!
Hantaman keras benda tumpul tepat mengenai kepala bagian belakang membuat kesadaran Satya seketika buyar. Tubuhnya ambruk pasrah dan terkapar di atas dinginnya aspal bahu jalan. Dari luka robek di kepala belakangnya, darah segar mulai mengalir deras, merembes membasahi baju, hingga mengotori sisi belakang punggungnya, di tengah kesunyian malam yang mencekam, Satya tergeletak lemas Tampa daya dan upaya.