Satya dan Bunga

Saipul449
Chapter #7

Jejak Air dan Senyapnya Desa #7


BAB 7: Jejak Air dan Senyapnya Desa

Mentari pagi itu baru saja memperlihatkan sedikit sinarnya dari balik gugusan lereng Gunung Kerinci, memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan membelah kepulan kabut tipis di atas hamparan belasan hektar sawah Padi Payo di lembah desa.

Di bawah langit pagi yang bersih namun diselimuti udara dingin yang masih menggigit kulit, Bunga bergegas bersiap. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah dan menyiapkan teh hangat untuk sang ayah, ia berangkat ke sekolah agak pagi dari biasanya. Seperti biasa, ia selalu berpamitan kepada ayah tercinta dan mencium punggung tangan beliau dengan takzim.

Setelah momen singkat itu, kini Bunga berdiri tegak di tepi jalan setapak desa. Tangannya mendekap erat sebuah buku catatan kecil bergaris ke dadanya, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan dari kardigan cokelat muda yang membalut seragam putih-abu-abunya.

Sejauh mata memandang, lekukan sawah hijau bertingkat di sekeliling rumahnya tampak kontras, berbatasan langsung dengan batas perbukitan atas tempat permadani hijau perkebunan teh Kayu Aro membentang luas mengepung dataran tinggi. Matanya yang teduh menatap lurus ke arah cakrawala fajar yang merekah indah di balik hijaunya pucuk-pucuk teh di kejauhan langit, mengulas senyum tipis yang mendadak terbit di sudut bibirnya—sebuah senyuman tulus yang seolah menjadi penawar atas rasa cemas yang sempat menyesak di dadanya sejak jam tiga dini hari tadi.

Namun, kedamaian fajar Renah Kasah tidak sepenuhnya mampu mengusir sisa dingin yang mengendap di benaknya. Mimpi buruk jam tiga dini hari itu masih terasa teramat nyata. Rasanya baru beberapa menit lalu jemarinya basah dan berlumur warna merah pekat saat ia nekat menjulurkan tangan ke arus sungai yang bergolak, demi menarik seekor kucing kecil yang nyaris tenggelam. Jantungnya masih menyisakan ritme debaran yang ganjil.

Alih-alih langsung melangkah ke arah gerbang SMAN tempatnya menuntut ilmu, kakinya justru menuruni undakan tanah yang basah oleh embun, berbelok menuju rute buntu yang mengarah ke tepi Sungai Kayu Sigi. Sungai itu mengalir begitu jernih, membelah batas desa, bersumber langsung dari mata air pegunungan yang dingin. Dalam hati, ia tahu harus segera melihat air pagi ini, demi menenangkan firasat yang masih tertanam di dalam hati.

Di tepi Sungai Kayu Sigi yang masih sunyi, Bunga berlutut perlahan di atas sebongkah batu kali yang berlumut. Ia membiarkan ujung jemarinya menyentuh permukaan air pegunungan yang terasa sedingin es, berharap sensasi beku itu bisa membilas sisa-sisa ingatan dalam mimpinya tadi subuh. Gemericik air yang mengalir deras di hadapannya perlahan mulai memberikan rasa tenang yang ia cari.

Setelah ia merasa tenang, ia pun langsung bergegas kembali menuju ke sekolah.

Sementara fajar mulai menghangat di lembah Renah Kasah, atmosfer yang bertolak belakang justru menyelimuti ruang kerja ber-AC di kantor pusat ekspedisi di Jakarta. Di balik kubikelnya, Rendi berkali-kali menekan tombol panggil di ponselnya. Wajahnya tegang, matanya menatap cemas ke arah papan tulis manifes pengiriman barang jalur Sumatra.

Untuk kesekian kalinya, hanya suara datar mesin operator yang kembali terdengar di telinganya.

"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."

Randi mengumpat pelan, melempar ponselnya ke atas meja kerja dengan gusar. Kalimat operator itu berulang seperti kutukan, menciptakan kepanikan yang perlahan mencekam dadanya. Sebagai kepala unit, Randi tahu persis jadwal Satya. Berdasarkan telepon terakhir mereka tadi malam pukul sepuluh, Satya harusnya sudah melewati perbatasan Bengkulu-Jambi sejak dini hari dan kini sedang menyisir jalur dataran tinggi menuju target kepulangannya ke rumah dalam tiga hari. Kehilangan kontak total di jalur rawan sekronis perbukitan Tapan selalu menjadi sinyal buruk bagi para pengelola ekspedisi.

Belum sempat Rendi meraih kembali cangkir kopinya yang sudah dingin, ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar hebat. Nada dering nyaring itu memecah kesunyian ruangan.

Rendi tersentak. Dengan gerakan cepat, ia menyambar ponselnya. Namun, binar harapan di matanya redup seketika saat melihat nama yang tertera di layar digital tersebut. Bukan nomor Satya, melainkan Melisa, istri dari sahabatnya itu.

Napas Rendi tertahan sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Mengingat jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi, telepon dari seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang adalah tanda bahwa kecemasan ini sudah menyebar hingga ke rumah.

Tanpa membuang waktu, Rendi menggeser tombol hijau dan langsung merespons telepon itu dengan suara yang diusahakan tetap tenang, meski tangannya sedikit bergetar. "Halo, Mel? Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam, Mas," sahut Melisa di seberang sana. Suaranya terdengar bergetar, menahan beban berat yang menggelayuti dadanya sejak beberapa jam lalu. "Mas Rendi, kamu ada kabar dari Mas Satya? Sejak tadi subuh nomor Mas Satya tidak bisa dihubungi. Sampai pagi ini juga sama. Apa sebelumnya dia ada menghubungi kantor?" Nada bicaranya memancarkan kecemasan yang teramat sangat.

Rendi menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Kalimat Melisa seolah mengonfirmasi ketakutan terburuknya pagi ini. Kontak terakhir dari Satya memang terjadi pukul sepuluh malam tadi, saat sahabatnya itu mengabarkan posisi di pinggiran Bengkulu Utara dan berencana tidur satu jam di SPBU. Setelah itu? Tidak ada kabar lagi dari Satya.

Rendi menarik napas panjang, mencoba meratakan suaranya agar tidak memicu kepanikan yang lebih besar pada Melisa yang sedang berada di kampung halaman.

"Mel, tenang dulu ya," jawab Rendi, berusaha terdengar sehangat dan seprofesional mungkin. "Terakhir Satya telepon saya jam sepuluh malam tadi. Dia bilang terpaksa memutar lewat jalur perbukitan Tapan menuju Kerinci, karena di Lintas Tengah ada jembatan amblas. Jalur menanjak di sana memang terkenal susah sinyal, Mel. Banyak titik hutan lebat yang memotong bukit, apalagi kalau sudah masuk kawasan TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat). Sinyal operator pasti hilang total di sana."

Lihat selengkapnya