BAB 8 : Darah dan Jiwa
Tepat pukul 11:15 siang, deru motor bebek tua Pak Rahmad akhirnya sampai dan berhenti tepat di bawah kanopi pelataran drop-off depan ruang UGD RSUD Kota Sungai Penuh. Perjalanan satu jam lima belas menit dari dataran tinggi Kayu Aro terasa begitu singkat. Meski menyisakan rasa sedikit nyeri di sekujur tubuhnya, Bunga segera turun dari boncengan ayahnya. Tangannya segera meraih kancing helm, melepaskannya dengan lembut, lalu segera menggantungkan di atas sepion motor ayahnya.
Dengan wajah yang teduh, namun menyisakan sedikit rasa penasaran dalam fikiran nya, tentang siapakah orang yang kini sedang sekarat dan harus segera mendapatkan transfusi darah itu, namun lamunan itu tidak bertahan lama, dari samping, setelah ayah memarkirkan motornya, Ayah segera memanggil bunga.
"Ayo, Nak. kita masuk.. Iya, Ayah.."
Saat mereka mulai melangkah menuju ruangan UGD, Paman dan Bibi sudah menunggu di depan. Langkah kaki mereka yang terburu-buru beradu dengan dinginnya ubin selasar rumah sakit. Aroma karbol dan antiseptik yang khas langsung menyengat, mempertegas atmosfer darurat yang sedang terjadi di dalam gedung tersebut.
Bibi Bunga, yang sejak tadi duduk dengan wajah cemas di kursi besi panjang, langsung berdiri begitu melihat jilbab putih Bunga muncul dari balik pintu masuk. Wajahnya yang tegang seketika sedikit melunak oleh rasa lega. Ia melangkah cepat memeluk pundak Bunga.
"Alhamdulillah, Bunga... Kak Rahmad... kalian sudah sampai ," bisik Bibi dengan suara yang bergetar menahan tangis. "Kami sudah bingung sekali di sini. Dokter terus-terusan keluar menanyakan kepastian pendonor."
Paman Jon, yang berdiri di samping istrinya, tampak mengangguk lemah dengan raut wajah yang tidak kalah pias. Kemejanya terlihat agak kusut akibat perjalanan jauh dari Jambi yang langsung disambung dengan evakuasi korban subuh tadi.
"Bagaimana kondisi pemuda itu sekarang, Jon? Apa masih stabil?" Pak Rahmad langsung bertanya pada intinya, memotong basa-basi karena tahu waktu adalah taruhan terbesar saat ini.
"Sangat kritis, Bang. Tensi darahnya terus merosot turun semenjak jam sepuluh tadi," jawab Paman Jon sambil mengarahkan pandangannya ke pintu kaca ganda UGD. "Luka hantaman di kepala bagian belakangnya sudah dibersihkan dan dijahit oleh tim medis, tapi dia kehilangan terlalu banyak darah di lokasi kejadian. Pihak bank darah rumah sakit dan PMI kota angkat tangan karena stok Rhesus Negatif mereka kosong. Pemuda itu bertahan murni hanya dengan bantuan mesin oksigen dan cairan infus, Bang."
Bunga mendengarkan penjelasan pamannya dengan saksama. Rasa penasarannya perlahan berubah menjadi sebuah getaran empati yang mendalam di dalam dada. Di dalam benaknya, ia tahu bahwa probabilitas seseorang memiliki golongan darah A-Rhesus Negatif di wilayah ini sangatlah kecil. Mengapa seorang pemuda asing, yang ditemukan sekarat di tepi Rawa Bento, bisa memiliki keterikatan medis yang begitu langka dengan dirinya?
"Ayo, Sayang, ikut Bibi ke dalam. Petugas administrasi dan perawat lab sudah bersiap untuk mencocokkan sampel darahmu," ajak sang Bibi lembut sembari menggandeng jemari Bunga yang terasa begitu dingin.
Bunga menatap ayahnya, mencari penguatan. Pak Rahmad memberikan anggukan mantap dipenuhi sorot mata yang seolah berkata bahwa mendiang ibunya pasti akan bangga dengan keputusan ini.
Dengan helangan napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang kian bertalu, Bunga melangkah masuk membelah pintu kaca UGD, siap menghadapi takdir yang telah menunggunya di balik tirai rumah sakit.
Begitu pintu kaca ganda UGD menutup otomatis di belakangnya, suara bising dari selasar luar mendadak teredam oleh atmosfer dingin yang sunyi namun menekan. Bau pekat antiseptik menyergap indra penciuman Bunga, membuat dadanya sedikit sesak. Di bawah pendar lampu neon yang putih pucat, beberapa perawat tampak bergerak cepat di antara bilik-bilik yang hanya disekat oleh tirai kain hijau.
Bibi menuntun Bunga menuju sebuah meja administrasi kecil di sudut ruangan, di mana seorang dokter muda bermasker dan perawat senior sedang memeriksa beberapa lembar kertas manifes medis pasien.
"Dokter, ini keponakan saya, Bunga," ujar Bibi dengan suara setengah berbisik, seolah takut mengganggu ketegangan di ruangan itu. "Golongan darahnya A-Rhesus Negatif."
Dokter muda itu langsung mendongak. Sorot matanya yang semula tampak lelah seketika berubah menjadi binar harapan yang besar. "Alhamdulillah. Terima kasih sudah datang cepat, Dek Bunga. Silakan duduk di sini dulu, kita perlu mengambil sampel kecil untuk uji cocok serasi (crossmatch) terlebih dahulu. Ini prosedur wajib sebelum transfusi penuh dilakukan."
Bunga mengangguk patuh, mendudukkan dirinya di atas kursi putar besi tanpa sandaran. Sambil menunggu perawat menyiapkan tabung sampel dan jarum suntik kecil, sepasang mata teduh Bunga bergerak liar, menyapu ruangan UGD hingga pandangannya tertambat pada bilik isolasi darurat di ujung ruangan yang tirai hijaunya dibiarkan setengah terbuka.
Di sana, di atas brankar besi yang tinggi, sosok pemuda asing itu terbaring kaku.
Dari jarak beberapa meter, wajah nya tidak begitu jelas, tapi Bunga bisa melihat dengan jelas bagaimana dada pemuda itu naik turun dengan sangat pendek dan tersengal di balik masker oksigen yang terus berembun. Sebuah perban putih tebal membungkus bagian belakang kepalanya, kontras dengan warna kulit wajahnya yang pucat pasi seputih kertas, bahkan bibirnya mulai menunjukkan semburat kebiruan yang mengerikan. Alat pemantau tanda vital di samping kepalanya mengeluarkan bunyi bip... bip... bip... dengan ritme yang lambat dan terdengar sangat lelah. Pemuda itu tampak begitu ringkih, bertarung sendirian melawan maut di tanah asing yang jauh dari rumahnya.
"Sedikit perih ya, Dek," bisik perawat menyentuhkan kapas alkohol dingin ke lipatan siku lengan kiri Bunga, memecah lamunannya.
Bunga sedikit meringis saat jarum suntik kecil itu menembus kulitnya, menarik beberapa mililiter cairan merah pekat ke dalam tabung kaca kecil. Namun, rasa perih itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa takjub sekaligus getir yang berkecamuk di dalam dadanya. Saat melihat darahnya sendiri mengalir masuk ke dalam tabung, pikiran Bunga kembali melayang pada sosok pemuda di ujung ruangan itu.
"Siapa dia sebenarnya? Apa yang terjadi padanya?"
Jantung Bunga berdegup semakin kencang, mencoba menahan gejolak yang mendadak bergemuruh di dalam dadanya. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini, tetapi ada sebuah rasa yang sangat berbeda ketika sepasang matanya menatap pemuda yang terbaring kaku itu. Sebuah rasa asing yang tidak akan pernah bisa ia jelaskan dengan logika.
"Kenapa garis hidup pria yang ditemukan oleh paman dan bibi di tepi Rawa Bento subuh tadi, harus bergantung pada seutas darah yang mengalir langsung di tubuhku?" batin Bunga bertanya-tanya. Ia bisa merasakan sebuah getaran jiwa yang begitu kuat, perlahan namun pasti, mulai merajut simpul takdir yang kini terasa semakin nyata.
Lamunan Bunga seketika pecah saat perawat senior kembali mendekat setelah hasil uji cocok serasi (crossmatch) dinyatakan aman.
"Hasil uji selarasnya bagus sekali, Dek Bunga. Darahmu sangat cocok dengan tubuh pasien," ujar dokter muda itu dengan senyum lega di balik maskernya. "Kita akan lakukan pengambilan satu kantung darah penuh sekarang di ruang sebelah, setelah itu darah ini akan langsung kami distribusikan ke ruang isolasi pasien."
Bunga menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu mengangguk mantap. "Saya siap, Dok."
Di atas kursi donor yang semi-terlentang, petugas medis mulai memosisikan lengan kanan Bunga dengan hati-hati. Saat permukaan kulitnya yang halus diusap oleh kapas alkohol yang dingin, Bunga memejamkan mata.
Plup.
Jarum donor berukuran khusus menembus kulit lengannya dengan presisi. Rasa perih yang menggigit sempat membuat Bunga meremas ujung bantal kursi. Namun, rasa sakit fisik itu menguap begitu melihat cairan merah pekat miliknya mulai merayap naik, mengisi selang transparan menuju kantung darah steril yang bergantung di timbangan mekanis. Darah segar itu mengalir dengan tenang, membawa serta kehangatan hawa pegunungan Kayu Aro dan separuh jiwa kemanusiaan yang diwarisinya dari mendiang sang ibu.
Prosedur kilat itu selesai dalam lima belas menit. Kantung darah bertuliskan label golongan darah A-Rhesus Negatif itu kini telah terisi penuh, hangat, dan siap menyambung nyawa.
Melalui celah tirai yang sengaja dibiarkan terbuka, Bunga yang masih memulihkan kondisinya di kursi donor, melihat dengan dada bergemuruh saat perawat membawa kantung darah hangat itu masuk ke bilik Satya. Kantung darah miliknya digantungkan pada tiang besi di samping brankar, lalu selang infusnya dihubungkan ke pembuluh vena lengan Satya.