Satya dan Bunga

Saipul449
Chapter #9

Benang Takdir#9

Bab 9/1 : Benang Takdir 

Sementara rintih tangis Melisa baru saja meninggalkan sibuknya ibu kota, di belahan bumi yang lain, aliran kehidupan sedang menyelesaikan tugas sunyinya dengan begitu dramatis.

Di dalam ruang isolasi darurat RSUD Kota Sungai Penuh, jarum jam dinding bergeser tepat di angka 12:55 siang. Satu jam sepuluh menit yang lalu, tepat pada pukul 11:45 siang, perawat senior dengan sigap memasang kantung darah hasil donor dari Bunga ke tiang besi di samping brankar Satya. Mengingat kondisi Satya yang kritis akibat pendarahan hebat di kepala, dokter mengambil tindakan darurat dengan menyetel laju tetesan ke kecepatan maksimal.

Kini, setelah waktu bergulir ke penghujung siang, kantung darah steril bertuliskan label golongan darah A-Rhesus Negatif yang semula terisi penuh oleh belahan nyawa milik Bunga itu telah kosong sepenuhnya mengalir di dalam nadinya. 

Di bawah alam sadar Satya, ia sedang berada di sebuah persimpangan tiga arah, dilingkupi oleh kabut putih tebal yang bergulung sunyi tanpa ujung. Langkah kaki pemuda itu terasa begitu hampa, mengambang di antara batas kehidupan.

Di sebelah kanan, kabut menipis dan memperlihatkan siluet seorang wanita muda, Melisa yang sedang berdiri mendekap erat kedua anak kembar mereka, Rama dan Sinta. Dalam alam bawah sadarnya Ia tidak mengenali mereka, baik Melisa, dan kedua anak kembarnya. Namun ada dorongan sangat kuat didalam jiwanya, dan perlahan mulai melangkah mengikuti suara lirih seakan memanggil namanya. Mencoba menarik jiwanya untuk kembali pulang ke rumah mereka di Jakarta.

Namun, saat ia ingin menuju ke arah kanan, langkah kakinya tersentak tertahan. Ia menunduk, melihat apa yang menahan kakinya, namun tidak menemukan apa-apa hingga pada akhirnya Ia menyadari dipergelangan tangannya telah terikat erat oleh seutas benang merah yang menancap langsung di nadinya. Benang merah itu memancarkan kehangatan yang samar, menarik urat-urat nadinya dengan kekuatan yang mutlak, hingga ia tidak mampu melangkah satu tapak pun menuju jalur kanan.

Mengikuti tarikan benang yang menancap di nadinya tersebut, Satya akhirnya mengalihkan pandangan. Kabut putih di jalur sebelah kiri menyibak perlahan, menampilkan sosok seorang gadis muda tak dikenal yang diselimuti oleh senyuman. Gadis itu berdiri dengan wajah yang begitu teduh, menatapnya penuh ketulusan, seolah sedang mengulurkan tangan kepadanya dengan seulas senyuman hangat dari bibirnya.

Tanpa bisa ia cegah, akhirnya Satya mengalihkan arah ke jalur kiri, melangkah pasti mengikuti arah gadis yang tersenyum yang sedang mengulurkan tangan kepadanya. Begitu telapak tangan mereka yang tak kasat mata itu bersentuhan, benang merah di nadinya bergetar hebat, menyalurkan sentakan energi kehidupan yang luar biasa kuat ke sekujur tubuhnya, Tanpa ia sadari alam bawah sadarnya, ia baru saja mengubah arah takdir dalam hidupnya.

Bip... bip... bip... bip...

Di dunia nyata, bunyi monitor jantung di samping brankar UGD RSUD Kota Sungai Penuh mendadak berubah ritme menjadi lebih cepat dan stabil. Bersamaan dengan sentakan hebat dari "benang merah" kehidupan di alam mimpi tersebut, kelopak mata Satya bergetar. Masker oksigen yang membingkai wajah pucatnya seketika dipenuhi embun tebal saat dadanya bergerak naik turun, meraup napas panjang yang terasa sangat berat.

Perlahan, sepasang mata pemuda itu terbuka.

Pendar lampu neon putih yang menyilaukan langsung menusuk indra penglihatannya, berbaur dengan aroma karbol yang pekat. Satya mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih buram, berbayang, dan langit-langit ruangan di atasnya seolah berputar hebat akibat sisa trauma hantaman balok kayu di kepala bagian belakangnya subuh tadi.

Ia mencoba menggerakkan ujung jemarinya, lalu mencoba membuka bibirnya yang kering. Namun, tidak ada suara yang mampu keluar. Pikirannya terasa kosong. Ketika ia mencoba mencari tahu siapa dirinya, dari mana asalnya, atau mengapa tubuhnya terkunci di atas brankar besi dingin ini, kepalanya justru berdenyut menyiksa. Efek benturan keras itu telah menyembunyikan seluruh lembar memorinya di balik dinding yang gelap.

Di balik tirai pembatas hijau yang setengah terbuka, Bunga yang sejak tadi duduk memulihkan diri langsung menurunkan gelas teh hangatnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pemuda asing yang sebelumnya tidak bergerak sama sekali itu kini telah membuka mata.

Pandangan sayu dan linglung milik Satya bergerak lambat menyapu seisi ruangan, hingga akhirnya, sepasang mata pria itu berhenti tepat pada sosok Bunga yang sedang memperhatikannya.

Di dalam ruang UGD yang sunyi itu, mata mereka bertemu untuk pertama kalinya di dunia nyata. Satya menatap gadis berseragam putih-abu-abu itu dengan tatapan kosong dipenuhi kebingungan, sama sekali tidak menyadari bahwa gadis teduh di hadapannya adalah pemilik "tangan kiri" yang baru saja menyelamatkan jiwanya dari kegelapan kabut persimpangan maut.


Saat tatapan mata itu semakin dalam, Bunga tersentak saat salah satu perawat meminta dia untuk segera meninggalkan pasien, agar dapat memulihkan kondisi dan beristirahat dari fase kritis.

"Dek Bunga, mari ikut suster ke ruang pemulihan di sebelah luar, ya. Tekanan darah adek juga harus dipantau setelah donor tadi, dan pasien ini perlu penanganan steril lebih lanjut dari dokter," ujar perawat itu dengan nada lembut, memutus kontak mata yang sempat tercipta di antara dua manusia tersebut.

Lihat selengkapnya