Satya dan Bunga

Saipul449
Chapter #10

Tetesan Pertama #10

Bab 10 : Tetesan pertama 

Tidak lama kemudian, Paman Jon datang membawa beberapa perlengkapan dari mobilnya, dan membawa makanan juga minuman untuk memulihkan kondisi fisik keponakan dan istrinya itu. Langkah kakinya yang berat terdengar pelan saat memasuki kamar rawat inap, mencoba agar tidak menimbulkan suara bising yang bisa mengusik ketenangan ruangan. Ia meletakkan sebuah tas kain berisi pakaian ganti di sudut ruangan, lalu menyodorkan sebungkus nasi hangat dan sebotol air mineral kepada Bunga serta sang istri.

"Bunga, ini paman Bawakan makan, kamu dan bibi harus mengisi tenaga," bisik Paman Jon dengan suara rendah yang sarat akan perhatian. "Bunga, minumlah air susu ini, banyak-banyak supaya pusing di kepalamu cepat hilang. Bibi juga harus makan, dari siang tadi perutmu belum diisi apa-apa."

Bibi Bunga menerima bungkusan makanan itu dengan senyum lemah penuh rasa terima kasih. Sementara Bunga, meskipun kepalanya masih terasa sedikit melayang, perlahan mendudukkan diri di tepi sofa panjang. Aroma hangat dari makanan yang dibawa pamannya perlahan-lahan membantu mengusir rasa mual dan hawa dingin yang sejak sore tadi mengepung tubuhnya.

Suapan pertama makanan itu terasa begitu berharga di lidah Bunga. Setelah seharian menahan debaran kecemasan sejak jam tiga dini hari, rasa hangat dari nasi itu seolah mengembalikan sisa-Sisa energi yang sempat terkuras habis bersama Aliran darahnya yang kini mengalir di tubuh yang lain.

"Terima kasih, Paman," lirih Bunga, menerima botol minuman yang disodorkan Paman Jon.

Paman Jon mengangguk, lalu berdiskusi sebentar dengan istrinya. Mengingat malam sudah semakin larut dan udara luar kota semakin membeku oleh kabut lereng Gunung Kerinci, Paman Jon memutuskan untuk pulang ke rumah mereka di desa untuk beristirahat, membiarkan sang Bibi dan Bunga menetap di kamar rawat. Setelah memastikan pintu kamar terkunci aman, Paman Jon berpamitan, meninggalkan kesunyian yang kembali merayap di antara dinding-dinding putih kamar rumah sakit.

Waktu terus merambat naik dalam senyap. Suara desis konstan tabung oksigen dinding dan bunyi bip... bip... bip... dari mesin monitor tanda vital menjadi penguasa malam. Di atas sofa panjang, Bunga tertidur lelap dengan posisi meringkuk di bawah balutan kardigan cokelat mudanya, sementara sang Bibi juga terlelap di bawah sofanya, di atas bentangan tikar yang tadi sore sempat dibawakan oleh suaminya dari dalam mobil. Tubuh mereka yang lelah semakin terlarut dalam dingin dan pekatnya kesunyian malam rumah sakit itu.

Sementara itu di sisi sang istri, yang berada jauh dari tempatnya, Melisa terlihat sedang berdiskusi dengan ayah dan ibunya. Di sisinya, ada sepasang anak kembar mereka, Rama dan Sinta, yang lagi asyik bermain dengan mainan mereka, mengoceh riang tanpa tahu badai apa yang sedang bergemuruh di atas kepala orang-orang dewasa di sekelilingnya.

Dalam pembicaraan di ruang tengah yang hangat namun sarat ketegangan itu, sang ayah menanyakan situasi yang kini sedang dialami sang anak, tentang kondisi sang suami, yang sejak subuh kemarin kehilangan kontak dan sampai detik ini belum memberikan tanda-tanda keberadaan. Melisa menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya yang rapuh, lalu menceritakan detail semua momen itu kepada kedua orang tuanya. Ia membeberkan segalanya, hingga ke pertemuan emosionalnya dengan Rendi di Kantor Pusat Ekspedisi siang tadi. Melisa menjelaskan bahwa status hilangnya Satya kini sudah dinaikkan ke pihak kepolisian, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi di daerah Sumatra, menyisir rute buntu di perbukitan Tapan hingga tepian Rawa Bento.

Sambil menatap lekat wajah putrinya itu, dan sedikit menoleh pada kedua cucunya, sang ayah memajukan tubuhnya. Ia berkata dengan nada suara yang dalam, "Melisa? Ayah yakin, Satya akan baik-baik saja. Kamu jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Sekarang kamu fokus saja dulu kepada anak-anakmu. Satya sedang berada di suatu tempat dan sedang baik-baik saja."

Melisa hanya menangis mendengar perkataan ayahnya. Air matanya menetes bukan hanya karena rasa takut kehilangan Satya yang menganga di dadanya, tetapi juga karena rasa haru yang teramat sangat atas perubahan sikap sang ayah. Penerimaan yang tulus dari pria paruh baya itu terhadap suaminya di dalam keluarga besar mereka terasa begitu jelas dari sikapnya sejak sore tadi, menjelang Melisa pergi ke kantor pusat. Dinding batu kebencian yang bertahun-tahun berdiri di rumah ini, kini telah runtuh tak berbekas.

Sementara di samping sang ayah, Ibu hanya terdiam. Beliau hanya mendengar dan mengawasi jalannya obrolan, sambil sesekali menggerakkan jemarinya bermain di sisi kedua cucu kembarnya yang masih asyik merangkak.

Saat Melisa menyeka air matanya dan bersiap akan segera beranjak pergi ke sisi anaknya, sang ibu tiba-tiba memanggil namanya dengan suara yang bergetar menahan sesak.

"Mel?" sahut Ibu.

Melisa menoleh, menatap wajah ibunya yang kini tampak dilingkupi rasa bersalah yang teramat mendalam.

"Selama ini Ayah dan Ibu sudah cukup keras terhadapmu, sehingga membuat keadaan kamu seperti ini," aku sang ibu, matanya mulai berkaca-kaca menatap lurus ke dalam mata putrinya. "Seharusnya Ibu dan Ayah menerima Satya sejak awal di rumah ini. Kalau saja dulu kami berlapang dada, Satya bisa bekerja di perusahaan Ayahmu, dan mungkin dia akan baik-baik saja saat ini, tidak perlu bertaruh nyawa di jalanan Sumatra yang rawan. Saat kami melihat Rama dan Sinta yang begitu polos, kami sadar... tindakan kami selama ini salah terhadap kalian berdua."

Mendengar perkataan tulus dan pengakuan jujur dari ibunya, Melisa tidak mampu lagi menahan bendungan air matanya yang seketika tumpah kembali. Ia berlutut di dekat kaki ibunya, menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya itu.

"Bu? Sekarang tidak ada lagi yang perlu disalahkan," bisik Melisa di antara isak tangisnya yang tersendat. "Mas Satya... sekalipun Ibu dan Ayah membencinya selama ini, dia tidak pernah berucap satu kata pun untuk memprovokasi Melisa agar Melisa benci ke Ayah dan Ibu. Mas Satya tidak pernah menyimpan dendam. Justru Mas Satya yang selalu memperingatkan, meminta Melisa untuk sering datang dan mengunjungi Ibu dan Ayah di sini..."

Suasana ruang tengah di sudut Jakarta itu mendadak hening, berganti menjadi sebuah ruang rekonsiliasi yang sakral. Ketulusan hati Satya yang selama ini tersembunyi di balik statusnya sebagai seorang sopir truk jalanan, malam itu tersampaikan utuh lewat lisan istrinya. Penyesalan kedua orang tua Melisa telah sempurna, melahirkan doa-doa tulus yang kini membumbung tinggi ke langit malam, meminta keselamatan bagi sang menantu.


Di akhir perbincangan malam itu, Ibu dan Ayah Melisa meminta putrinya dan cucunya untuk tinggal bersama mereka, sembari menunggu kabar tentang keberadaan Satya.

"Namun, di waktu yang bersamaan, garis takdir di seberang pulau justru sedang merajut simpulnya sendiri di bawah jarum jam yang terus bergerak menuju angka 02:00, 18 Desember 2013 dini hari. Di dalam kamar rawat inap RSUD Kota Sungai Penuh, Satya mendadak terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan yang begitu terasa asing dan aneh baginya.

Lihat selengkapnya