Satya dan Bunga

Saipul449
Chapter #11

Gerbang besi dan hati yang pias #11

BAB 11: Gerbang Besi dan Hati yang Pias

Rabu, 18 Desember 2013 — Pukul 07:00 WIB

Suasana di dalam kediaman keluarga Melisa perlahan mulai bergerak dinamis seiring matahari fajar yang kian naik membelah langit Jakarta. Setelah selesai menyelesaikan kewajiban domestik sebagai seorang ibu—memandikan dan menyuapi sarapan untuk sepasang anak kembarnya—Melisa melangkah ke ruang tengah dengan tekad yang sudah membeku di dalam benak.

Ia menatap kedua orang tuanya yang sedang duduk menjaga Rama dan Sinta. "Ayah, Ibu... hari ini Melisa berencana untuk berkunjung ke rumah orang tua Mas Satya. Melisa mau membawa Rama dan Sinta juga ke sana."

Mendengar keputusan putrinya, sang ibu sempat tertegun bimbang, mengingat bagaimana keras dan kakunya penolakan dari keluarga Satya saat itu terhadap pernikahan mereka beberapa tahun lalu. Namun sang ayah, yang melihat kilatan ketulusan di mata putri tunggalnya, akhirnya mengangguk perlahan dan memberikan restu penuh. Sang ayah bahkan langsung menyodorkan kunci mobil pribadinya yang berada di atas meja.

Setelah mendapatkan restu, Melisa segera bergerak cepat mengemasi seluruh perlengkapan darurat yang diperlukan oleh kedua anak kembarnya. Mulai dari popok ganti, botol susu, hingga pakaian hangat cadangan ia masukkan ke dalam tas bayi berukuran besar. Barang-barang tersebut ia bawa keluar, lalu ditata dengan rapi di dalam bagasi mobil pribadi milik ayahnya yang terparkir di halaman depan.

Melisa membuka pintu baris kedua mobil. Ia memeriksa dengan saksama dua unit car seat khusus bayi yang sudah terpasang kokoh di atas jok penumpang. Dengan penuh kelembutan, ia menggendong Rama dan Sinta satu per satu, mendudukkan mereka di dalam kursi pengaman tersebut dengan posisi menghadap ke belakang (rear-facing)—sebuah prosedur keselamatan medis mutlak untuk struktur tulang bayi yang baru berusia satu tahun. Sabuk pengaman lima titik (five-point harness) ia klik dengan presisi, memastikan tubuh sepasang malaikat kecilnya terkunci aman dari guncangan jalanan.

Melisa kemudian melangkah ke baris depan, mendudukkan diri di balik roda kemudi, lalu memutar kunci kontak. Mesin mobil menderu halus, memotong kesunyian pagi. Namun, tepat pada detik ketika kaki kanannya bersiap untuk menginjak pedal gas demi membelah jalanan ibu kota, sebuah getaran kencang yang disertai nada dering nyaring mendadak memecah keheningan kabin mobil.

Telepon di dalam tas selempangnya berdering keras.

Melisa menahan gerakan kakinya, membiarkan mesin mobil tetap menyala dalam posisi diam. Ia merogoh tasnya dengan cepat, menarik keluar ponsel layar sentuh miliknya yang panel kacanya sudah menyala terang di bawah pendar fajar. Nama Rendi berkedip di atas layar digital tersebut.

Melisa segera menggeser panel hijau di layar sentuhnya, menempelkan ponsel ke telinga dengan napas yang kembali memburu hebat. "Halo, Mas Rendi? Assalamualaikum. Bagaimana? Apa sudah ada kabar terbaru tentang mas Satya?"

Di seberang panggilan, suara Rendi tidak lagi terdengar tegap seperti saat ia memberikan instruksi taktis dari kubikel kantor pusat seperti kemarin siang. Suara Kepala Unit Pusat itu terdengar parau, tersendat, dan dilingkupi oleh keterkejutan besar.

"Waalaikumussalam... Mel," Rendi menarik napas panjang, mencoba meratakan getar suaranya. "Kamu... kamu belum jalan dari rumah, kan?"

"Mobilnya sudah menyala, Mas. Aku baru saja mau menginjak gas untuk membawa Rama dan Sinta ke rumah orang tua Mas Satya," jawab Melisa, jemarinya yang mencengkeram kemudi mobil mendadak terasa dingin. "Ada apa, Mas Rendi? Tolong jangan sembunyikan apa pun lagi dariku."

"Mel, Mas baru saja menerima laporan telepon langsung dari Kapolres Merangin, Jambi," bisik Rendi lirih, suaranya bergetar hebat menembus jaringan seluler Jakarta. "Setelah Mas dan Manajer Utama menaikkan status Satya ke tingkat pencarian darurat Polda Jambi siang kemarin, pihak kepolisian di sana langsung melacak silang seluruh data lintas kabupaten. Dan hasilnya baru saja keluar. Sekitar jam sembilan pagi kemarin, armada Truk Colt Diesel Box nomor lima milik Satya sebenarnya terekam sempat melintas lancar melewati pos lampu merah pusat kota Bangko menuju ke arah Kabupaten Muara Bungo. Laporan itu diperkuat dengan laporan yang sama dari unit kita yang lain sempat berpapasan dengan unit nomor lima, di daerah yang sama Bangko Kabupaten Merangin Jambi, sekarang pihak kepolisian Kapolres Merangin beserta Kapolres Muara Bungo sedang melakukan pengejaran."

Melisa tersentak, air matanya seketika mengambang di sudut kelopak mata. "Kalau sedang dikejar, berarti Mas Satya ada di dalam truk itu, Mas Rendi? Polisi bisa menyelamatkannya?"

"Mel, saat jam sembilan pagi itu, truk boks kuning kita melintas begitu saja tanpa ada kecurigaan apa pun dari petugas lapangan karena laporan resmi kehilangan kontak dari kantor pusat kita belum masuk ke database Polda Jambi," Rendi menelan ludah dengan paksa. "Baru setelah radiogram darurat kita masuk sore harinya, Kapolres Merangin langsung memeriksa saksi mata, mencatatkan laporan sopir kita yang berpapasan, dan mencocokkan data nomor mesin 4D34-T serta rangka MHMF71 kita. Petugas pos yang mengingat jam melintasnya truk memastikan bahwa pria di balik kemudi saat itu adalah orang asing berambut gondrong, bukan Satya. Satya tidak ada di sana, Mel. Polisi menduga Satya sengaja diturunkan atau ditinggalkan di suatu tempat di sepanjang jalur pelarian merka. Posisi Satya saat ini belum bisa di pastikan ada dimana. 

Mel. Mas minta kamu jangan panik dulu," ujar Rendi, mencoba menyalurkan ketenangan menembus jaringan seluler Jakarta. "Pihak kepolisian dari Polres Merangin dan Polres Muara Bungo sudah bergerak sangat cepat melakukan pengejaran di jalur lintas. Dengan koordinasi sekat ketat antar-kabupaten ini, Mas yakin keberadaan Satya akan segera ditemukan dan para pelaku begal itu pasti akan segera ditangkap dalam waktu dekat.

Jemari Melisa yang mencengkeram setir mobil seketika terasa lemas tanpa tenaga, seluruh dunianya seolah runtuh menembus lantai kabin. Kata "di suatu tempat" itu bergulir bagai sebuah teror kabur yang menyiksa batinnya.

"Terima kasih, Mas Rendi. Jika nanti ada perkembangan lebih lanjut, segera hubungi Melisa, ya, Mas. Sekarang Melisa harus segera berangkat ke rumah orang tua Mas Satya bersama anak-anak," bisik Melisa dengan suara bergetar, sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak di layar sentuhnya.

Rabu, 18 Desember 2013 — Pukul 07:35 WIB Melisa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengoksigenasi parunya yang terasa menyempit akibat syok. Ia mengunci pandangan ke depan jalan arteri Permata Hijau yang mulai padat merayap, lalu memindahkan tuas transmisi ke posisi Drive. Mobil pribadi milik ayahnya bergerak keluar meninggalkan halaman rumah tepat pada pukul 07:35 pagi. Melisa membelah keramaian aspal ibu kota, membawa sepasang bayi kembarnya di dalam car seat baris kedua menuju kawasan Elite Pondok Indah. Demi keselamatan suaminya, ia harus menyampaikan situasi darurat ini langsung kepada mertuanya.

Perjalanan menembus jantung Jakarta Selatan di jam sibuk terasa menyiksa batin. Di balik kemudi, sepasang telapak tangan Melisa terus berkeringat dingin, membuat cengkeramannya pada setir sesekali selip. Matanya yang sembap melirik kaca spion tengah. Beruntung, lajur jalan ke arah selatan relatif bergerak karena ia berkendara melawan arus utama komuter pagi. Di jok belakang, Rama dan Sinta duduk tenang menghadap ke belakang. Mereka sesekali mengoceh polos, tidak menyadari badai kortisol dan adrenalin sedang meremukkan dada ibunya. Setiap klakson yang bersahut-sahutan di lajur sebaliknya seakan berpacu dengan detak jantung Melisa yang kian bertalu kencang.

Tepat pukul 08:15 pagi, setelah melewati jalur panjang Arteri Pondok Indah yang dinaungi jajaran pohon palem raja, ban mobil Melisa melambat. Mobil berbelok ke area perumahan yang sunyi dan berhenti tepat di depan gerbang besi hitam menjulang tinggi nomor tujuh belas. Rumah megah berarsitektur Mediterania itu berdiri kaku. Pagar tingginya seolah menegaskan batas angkuh antara kekayaan keluarga Satya dengan dunia luar.

Melisa mematikan mesin. Suara tangisan gelisah mulai terdengar dari jok belakang karena kedua bayinya terusik oleh hawa kabin yang mulai menghangat setelah AC mati. Melisa turun dan membuka pintu baris kedua. Ia melepas sabuk pengaman lima titik milik Rama, mendekap putranya itu di dada kiri. Tangan kanannya kemudian meraih Sinta, memosisikannya di dada kanan.

Menahan beban total hampir dua puluh kilogram dari dua bayi berusia satu tahun tanpa alat bantu adalah siksaan fisik yang nyata. Otot biceps dan deltoid di kedua lengan Melisa langsung menegang hebat, namun tekadnya telah membeku.

Ia melangkah tegap membelah udara pagi, menghampiri pos penjagaan di samping gerbang utama. Seorang petugas keamanan berbadan tegap dengan seragam safari abu-abu keluar dari pos. Dahinya berkerut dalam menatar istri pemilik rumah itu datang dalam kondisi kalut, menangis, dan menggendong dua bayi sekaligus tanpa pengasuh. Petugas itu langsung berdiri menghalangi langkahnya.

"Selamat pagi. Ada keperluan apa dan mencari siapa, Mbak?" tanya petugas itu kaku, formal, dan penuh selidik.

Melisa merapatkan dekapan, mengabaikan rasa panas yang mulai membakar otot-otot lengannya. Ia menatap lurus ke balik jeruji besi. "Selamat pagi, Pak," sahut Melisa parau namun tegas. "Saya Melisa... istri dari Satya. Saya membawa anak-anak Satya untuk bertemu langsung dengan Ayah dan Ibu. Tolong buka gerbangnya, Pak. Ada hal darurat terkait keselamatan Mas Satya di Sumatra yang harus saya sampaikan sekarang juga."

Mendengar nama Satya, raut wajah petugas itu seketika pias. Delapan tahun telah berlalu sejak pemuda bernama Satya melangkah keluar meninggalkan rumah mewah ini setelah lulus SMA demi mengejar prinsip hidupnya sendiri. Delapan tahun pula nama "Satya" telah menjadi kata tabu yang dikubur hidup-hidup di dalam rumah megah ini, sejak statusnya sebagai anak tunggal dicoret dari silsilah keluarga.

Namun pagi ini, tatapan mata Melisa yang tajam dan kehadiran sepasang bayi kembar darah daging Satya seolah meruntuhkan ketegasan sang penjaga. Petugas itu tampak bimbang. Matanya melirik ragu ke arah gagang telepon interkom di dinding pos, sebelum kembali menatap lekat ke arah Melisa.

Lihat selengkapnya