Satya dan Bunga

Saipul449
Chapter #12

Riak dan garis batas #12

Bab 12 Riak dan garis batas 


Rabu, 18 Desember 2013 — Pukul 10:00 WIB

Sementara suasana suka dan duka menyelimuti rumah megah di Pondok Indah tersebut, momen ini akhirnya membawa kedamaian yang mendalam bagi Melisa. Rekonsiliasi yang tertunda selama delapan tahun itu terwujud di bawah bayang-bayang kecemasan yang masif, saat kedua mertuanya kini sepenuhnya menerima kehadirannya di rumah mereka. Di dalam foya megah itu, tawa lirih Ibu Satya yang sedang sibuk bermain dengan penuh kasih sayang bersama kedua cucu kembar mereka, Rama dan Sinta, menjadi oase penenang di tengah ketegangan yang belum tuntas. Bagi Melisa, beban kortisol yang sejak subuh meremukkan dadanya perlahan terurai, berganti dengan rasa aman yang realistis karena ia tidak lagi berdiri sendirian menghadapi badai cobaan yang menimpa keluarganya.

Melisa merogoh tas selempangnya, menarik keluar ponsel layar sentuh miliknya yang sempat ia letakkan di samping bantalan sofa. Sebelum badai informasi taktis dari Sumatra kembali bergulir, ada satu kewajiban moral yang harus segera ia tunaikan: mengabari orang tua kandungnya di Permata Hijau mengenai perkembangan besar yang baru saja terjadi.

Jemari Melisa menyentuh layar, mendial nomor kontak rumah ayahnya. Nada sambung berbunyi tidak sampai dua kali sebelum suara bariton sang ayah yang sarat akan kecemasan langsung menyahut di ujung panggilan.

Assalamualaikum. Mel? Kamu sudah sampai di kediaman keluarga Satya?

"Waalaikumussalam. Sudah, Ayah. Melisa baru saja sampai beberapa waktu lalu," jawab Melisa, suaranya kini terdengar jauh lebih stabil dan diliputi kelegaan yang nyata. "Ayah... beri tahu Ibu, hari ini Melisa belum bisa pulang ke rumah. Orang tua Mas Satya meminta Melisa dan anak-anak untuk tetap tinggal di sini, sementara kabar tentang Mas Satya sendiri saat ini belum bisa dipastikan."

Di seberang panggilan, Ayah Melisa seketika terdiam kaget, terpaku oleh rasa tidak percaya yang membuncah di dalam benaknya karena ia tahu persis betapa kerasnya penolakan keluarga konglomerat Pondok Indah itu terhadap pernikahan putri tunggalnya selama beberapa tahun ini. Namun, sebagai seorang kepala keluarga yang bijak, ia tetap mengambil langkah positif demi mendukung keselamatan menantunya.

Pria paruh baya itu hanya terdiam sesaat, lalu berkata dengan mantap, "Tidak apa-apa, nanti ibumu biar Ayah yang beri tahu. Tetaplah tinggal di sana bersama anak-anak. Tapi kamu harus jaga kesehatan di sana, dan jaga juga cucu-cucu Ayah."

"Iya, Ayah," sahut Melisa lirih, sebelum pandangannya beralih menatap kunci yang masih ia genggam. "Tapi... mobil Ayah masih bersama Melisa di sini?"

"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan," potong sang ayah cepat dengan nada menenangkan. "Jika nanti Ayah perlu, Ayah bisa pakai mobil milik ibumu. Baiklah, apakah sudah ada kabar terbaru tentang suamimu?"

Melisa menarik napas dalam, melirik sekilas ke arah Ayah Satya yang masih berdiri dengan sisa ketegasan taktisnya di dekat meja tengah. "Sejauh ini belum, Yah. Tapi tadi Ayah mertua sempat menelepon pihak kepolisian, langsung ke Kapolda Jambi, dan mengintervensi langsung agar jajaran di sana segera bergerak cepat dalam mencari keberadaan Mas Satya, Yah."

"Alhamdulillah kalau begitu. Yaudah, sekarang kita doakan saja semoga Satya baik-baik saja," pungkas sang ayah, menyalurkan ketenangan penutup ke seberang jaringan seluler.

"Iya, Yah. Amin," bisik Melisa lirih sebelum akhirnya menyudahi percakapan dan menutup sambungan telepon di pagi yang cerah namun sarat akan ketegangan yang masih terasa di dalam hatinya.

Rabu, 18 Desember 2013 — Pukul 11:25 WIB

Sementara poros taktis di ibu kota mulai bergerak cepat, waktu di dataran tinggi Jambi merayap dalam ritme yang tenang. Di dalam Kamar Rawat Inap Nomor Tiga RSUD Kota Sungai Penuh, jarum jam dinding analog perlahan merangkak hampir menyentuh tengah hari. Di balik tirai pembatas ranjang, seorang dokter spesialis saraf terlihat sedang melakukan pemeriksaan ganda—memantau grafik perkembangan kesadaran Satya sekaligus memeriksa kondisi fisik Bunga pasca-prosedur donor darah kemarin siang.

Setelah memastikan tensi dan kondisi tubuh Bunga sudah cukup baik serta stabil, dokter melangkah mundur. Sebelum meninggalkan kamar rawat inap tersebut, ia membalik lembar medis, lalu memberikan penjelasan mengenai kondisi Satya kepada Paman Jon yang sejak awal bertanggung jawab atas pasien tanpa identitas tersebut. Penjelasan dokter itu turut disaksikan secara saksama oleh Pak Rahmad dan Bunga yang berdiri di dekatnya.

"Benturan keras akibat trauma pada kepala bagian belakang pasien telah memicu gangguan sirkuit saraf yang cukup kompleks," jelas dokter dengan nada terukur, sengaja menahan diri untuk tidak menggunakan istilah awam yang dramatis. "Ada indikasi gangguan fungsi pada bagian memori jangka panjang. Kemungkinan besar, pasien akan kehilangan sebagian besar ingatan masa lalunya. Namun, karena ini masih dalam tahap penyembuhan awal, proses pemulihan saraf (neuroplasticity) masih sangat mungkin terjadi. Kita memproyeksikan pasien harus dirawat intensif di rumah sakit ini selama satu hingga dua bulan ke depan untuk benar-benar memastikan fisik dan kognitifnya pulih kembali."

Vonis medis yang terukur itu menggantung kaku di udara Kamar Nomor Tiga, menyisakan keheningan yang berat bagi yang mendengarkan, tanpa terkecuali, baik Bunga dan ayahnya Pak Rahmad. Namun, Paman Jon dan istrinya, selaku orang yang bertanggung jawab atas pasien mendengarnya dengan rahang mengatup rapat.

Di sudut ruangan yang sama, Bunga kini tengah bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumahnya di lereng dingin Kayu Aro. Sejak pagi sekitar pukul 07:30 tadi, ayahnya, Pak Rahmad, memang sudah datang untuk menjemputnya bersama Paman Jon yang setia mendampingi sejak awal proses administrasi rumah sakit selesai.

Namun, tepat pada detik ketika ia merapikan kardigan cokelat mudanya dan menyandang tas sekolah di bahu, ada sesuatu yang berbeda di dalam dadanya. Ada rasa yang tidak biasa, rasa seakan asing yang kini justru semakin jelas terasa di dalam pikirannya.

Langkah kaki Bunga mendadak terasa begitu berat untuk melangkah keluar meninggalkan Kamar Nomor Tiga tersebut. Ada rasa resonansi emosional yang sangat kuat di dalam alam bawah sadarnya. Kamar rumah sakit di Kota Sungai Penuh yang semula asing ini mendadak terasa seperti tempat di mana separuh jiwanya telah tertinggal.

Bunga membalikkan tubuhnya perlahan, menatap ke arah ranjang besi tempat Satya yang masih terpejam tenang dalam fase pemulihan totalnya.

"Bunga, ayo, Nak. Pamanmu sudah menunggu di mobil," panggil Pak Rahmad lembut dari ambang pintu kamar, membuyarkan lamunan putri semata wayangnya. "Ada bibimu yang masih di sini untuk memastikan keadaannya."

Bunga tersentak kecil, lalu mengangguk lemah. "Iya, Ayah. Sebentar," sahutnya lirih.

Ia melangkah satu tapak mendekati ranjang, menatap wajah pucat pemuda itu untuk terakhir kalinya sebelum pulang menuju rumah mereka di lereng dingin Kayu Aro. Rasa enggan dan kecemasan yang samar bergejolak di dalam dadanya, menuntut sebuah jawaban atas teka-teki takdir yang terasa begitu pekat merajut simpul kehidupan mereka di bawah kaki Gunung Kerinci ini.

Sebelum melangkah menjauh, Bunga membalikkan badan menghampiri bibinya yang sedang berdiri di sudut ruangan. Ia meraih jemari tangan wanita paruh baya itu dengan lembut, lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.

Lihat selengkapnya