Rabu, 18 Desember 2013 — Pukul 13:00 WIB
Deru mesin mobil akhirnya mati, digantikan oleh kesunyian pegunungan yang membawa kembali hawa dingin menusuk. Bunga perlahan menurunkan kakinya ke atas tanah halaman yang basah oleh sisa embun. Ia memeluk tas sekolahnya dengan erat, melangkah perlahan menuju pintu rumah sederhana mereka menembus kabut siang yang mulai turun. Di belakangnya, hamparan puncak Gunung Kerinci berdiri kokoh menjulang tinggi dalam balutan awan putih, seolah bersiap menjadi saksi mu dari lembaran takdir yang semakin terajut di sela-sela urat nadinya.
Langkah kaki Bunga melambat saat melewati ambang pintu, saat ia kembali teringat pada sosok pemuda tanpa nama di rumah sakit yang kini terasa tertinggal di dalam hatinya. Ia sempat tertegun sejenak, namun selang beberapa detik kemudian suara panggilan dari ayahnya membuyarkan lamunan.
"Bunga? Kamu masuk dulu, istirahat di kamar. Setelah itu baru mandi bersihkan diri. Sejak kemarin kamu belum mandi," panggil sang Ayah.
Mendengar perhatian hangat dari ayahnya tersebut, Bunga sempat tersenyum kecil dan menyadari apa yang dikatakan ayahnya adalah sebuah kebenaran yang jujur. Rumah sederhana yang sebagian dindingnya berpadu antara semen di bagian bawah dan papan di bagian atas itu terasa begitu hangat dan menenangkan saat ia melangkah lebih dalam.
"Iya, Ayah," jawab Bunga pelan.
Sesaat ia sampai di ruangan tengah, ia mendapati rumah sudah dalam keadaan rapi. Ternyata, kekhawatirannya sejak di rumah sakit menguap seketika. Seluruh pekerjaan domestik yang sempat terbengkalai paska ditinggal semalaman sudah diselesaikan secara diam-diam oleh tangan kokoh ayahnya. Lantai sudah bersih disapu, dan dapur pun telah tertata dengan rapi. Pak Rahmad tahu persis bahwa tubuh putri tunggalnya butuh rehat dan kenyamanan paska mendonorkan darah kemarin.
Dengan langkah mantap ia segera bergegas dan langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat sejenak. Namun, di sela-sela istirahatnya di atas tempat tidur, suasana rumah yang sepi membuat indra pendengarannya menangkap suara-suara yang akrab. Samar-samar, ia mendengar percakapan yang mulai mengalir berat di ruang tamu sebelum Paman Jon beranjak pergi untuk berangkat kembali ke Kota Sungai Penuh.
Pak Rahmad, ayahnya, terdengar melemparkan pertanyaan penting mengenai langkah selanjutnya tentang pria yang kini sedang dirawat di rumah sakit. Ayahnya menanyakan bagaimana keputusan terbaik yang harus mereka ambil ke depan, mengingat pria itu adalah seorang pria dewasa yang sama sekali tidak diketahui asal-usulnya dan tidak memiliki ikatan darah atau saudara sedikit pun dengan mereka. Pertanyaan penuh pertimbangan sosial dan moral itu dilemparkan langsung kepada paman Bunga, Paman Jon.
Di balik dinding kamar, Bunga menahan napasnya, menunggu dalam senyap bait jawaban yang akan keluar dari bibir pamannya di ruang tengah.
Setelah beberapa saat terdiam, lalu menghela napas panjang, akhirnya Paman Jon mulai berbicara.
"Bang, hal terpenting sekarang adalah menyelamatkan pemuda itu terlebih dahulu, agar bisa melewati masa-masa kritis di rumah sakit. Untuk masalah biaya perawatan rumah sakit, sebelumnya saya sudah berdiskusi bersama bibinya Bunga, dan memutuskan akan membiayai pengobatan pemuda tersebut dengan ikhlas dan tidak mempermasalahkan hal itu. Asalkan pemuda itu bisa kembali pulih dan segera kembali kepada keluarganya."
Mendengar perkataan iparnya itu, Pak Rahmad hanya mengangguk pelan, lalu beliau melanjutkan perkataannya.
"Tadi sebelum pulang, dokter sempat menduga tentang kemungkinan pemuda itu akan kehilangan sebagian besar ingatan masa lalunya. Sedangkan kita tidak tahu dari mana asalnya dan di mana keluarganya."
Mendengar pernyataan yang semakin dalam dari abang iparnya tersebut, Paman Jon tersentak sejenak dan terdiam berpikir beberapa detik. Dalam pikirannya, ia kembali teringat, jika pernyataan vonis dokter di rumah sakit itu benar, pemuda tersebut benar-benar hilang ingatan setelah melewati fase kritis dan perawatan intensif di rumah sakit, hingga pasien sudah bisa dirawat jalan di rumah atau dipulangkan. Harus dipulangkan ke mana, sedangkan keluarganya tidak tahu ada di mana.
Akhirnya Paman Jon menjawab pertanyaan itu, "Iya, Bang. Tapi vonis yang diberikan dokter di rumah sakit Kota Sungai Penuh tadi siang kan belum bisa dipastikan, masih ada kemungkinan hal itu tidak terjadi. Saya yakin, Bang, setelah pulih, pemuda itu akan kembali mengingat kejadian yang menimpa dirinya, tahu siapa namanya dan di mana rumahnya."
Paman Jon menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "Tapi Bang, jika vonis dokter itu benar-benar terjadi, sekarang saya belum bisa memutuskan. Saya masih memerlukan persetujuan dari istri saya—bibinya Bunga—tentang bagaimana dan langkah apa yang harus dilakukan."
Mendengar penjelasan dari Paman Jon, Pak Rahmad, ayahnya Bunga, mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu.
"Baiklah, Abang sepenuhnya percaya pada keputusan kamu berdua. Tapi jika diperlukan nanti, kita bisa musyawarah dengan keluarga dan duduk bersama ninik mamak dusun untuk mencapai kesepakatan bersama."
Mendengar saran dari abang iparnya itu, Paman Jon menghela napas lega tentang bagaimana nanti keputusan bijak yang kemungkinan akan diambil.
"Baiklah, Bang, terima kasih untuk sarannya. InsyaAllah anak itu akan baik-baik saja, Bang. Dan apa yang kita ceritakan saat ini masih dalam spekulasi, hal yang mungkin terjadi atau tidak."
Paman Jon kemudian berdiri dan membenarkan posisi jaketnya. "Baik, Bang. Kalau begitu saya pamit dulu untuk kembali ke rumah sakit di Sungai Penuh. Istri saya masih menunggu sendirian di sana."
Di dalam kamar, Bunga perlahan melepaskan napas yang sejak tadi ditahannya. Ia menatap langit-langit kamar tidurnya dengan perasaan campur aduk. Dari balik dinding papan kamarnya, terdengar suara langkah kaki pamannya berjalan keluar, disusul suara pintu mobil yang ditutup, lalu deru mesin mobil yang perlahan menjauh dan lenyap ditelan sunyinya kabut siang Gunung Kerinci di Desa Ranah Kasah tersebut.
Sementara itu, jauh di bawah dataran tinggi Gunung Kerinci, pencarian besar-besaran masih terus dilakukan. Pihak kepolisian setempat, baik dari Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Bungo maupun Merangin Bangko, bergerak bersama menelusuri jejak pelarian para pelaku pembegalan truk ekspedisi unit nomor 5. Di bawah koordinasi langsung dari Kapolda Provinsi Jambi, operasi yang kian hari kian menegangkan itu belum juga menemukan titik temu yang konkret. Jejak para pelaku seolah lenyap ditelan rimbunnya hutan Sumatra.
Di belahan tempat lain, tepatnya di pusat Kota Jakarta, suasana kontras menyelimuti kawasan elit Pondok Indah. Di dalam rumah megah milik orang tua Satya, kabut duka yang tebal masih mengurung keluarga tersebut. Kedua orang tua Satya, serta Melisa—istrinya—bersama anak kembar mereka, masih dirundung kebimbangan dan kecemasan yang mendalam. Kabar yang simpang siur membuat dada mereka sesak. Kini, hanya untaian doa yang bisa mereka panjatkan untuk keselamatan Satya, yang saat ini masih terbaring tak berdaya di kamar nomor 3 rumah sakit Kota Sungai Penuh, Kerinci, Provinsi Jambi.
Kesibukan yang sama juga terlihat di kantor pusat perusahaan ekspedisi. Rendi, selaku Kepala Bagian Logistik yang bertanggung jawab penuh atas setiap unit yang beroperasi, sekaligus sahabat karib Satya, tidak bisa duduk tenang. Ia terus berkoordinasi dengan pihak Kepolisian Daerah (Polda) Jambi, memantau setiap jengkal hasil penelusuran posisi sopir truk unit nomor 5 milik perusahaannya. Namun, hingga detik ini, nasib sahabatnya dan armada bernilai besar itu masih berada di titik kelam yang tak pasti.
Sementara itu, detik waktu kian berlalu. Di bawah langit jingga Kabupaten Kerinci, Jambi, tepatnya di Desa Ranah Kasah, Bunga kini sedang berdiri di tengah hamparan sawah luas di depan rumahnya yang menghijau. Ia mengenakan pakaian sederhananya yang sarat akan pancaran gadis saleha yang sopan, dibalut jilbab merah muda di kepala. Gadis itu tengah memejamkan mata sambil membentangkan kedua tangannya, menghirup dalam-dalam udara segar yang disepuh cahaya jingga senja.
Di dalam hati dan pikirannya, mengendap satu rasa. Sebuah rasa yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata; begitu sejuk dan lembut, namun menusuk jauh ke dalam jiwanya, mengalir tenang di sela napas hangatnya. Pria itu asing di matanya, tetapi entah mengapa terasa ada. Pria yang tak tahu siapa namanya, tetapi entah bagaimana terasa begitu akrab. Sebuah rasa yang diam-diam menjelma menjadi desakan rindu, memendam keinginan kuat untuk bisa kembali berjumpa.
Sambil membuka mata perlahan dan menatap langsung ke arah sisa cahaya senja, Bunga berbisik lirih.
"Ya Allah... semoga dia baik-baik saja di sana. Jika nanti Engkau izinkan, izinkanlah aku kembali bertemu dengannya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan, tapi perasaan ini terasa asing dan nyata. Apakah mimpi yang sebelumnya itu ada hubungannya dengan dia? Seekor kucing yang hanyut di sungai berlumuran darah, yang sempat aku raih sebelumnya..."
Namun, lamunan itu terhenti seketika. Panggilan ayahnya, Pak Rahmad, terdengar jelas memecah kesunyian sore itu.
"Bunga? Hari sudah gelap, masuk ke rumah!"
Mendengar panggilan dari ayahnya, ia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menuju ke rumah. Bunga melangkah dengan perasaan yang masih menjiwa—sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebagai gadis remaja yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA tersebut. Rasa ini hadir begitu nyata, untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya.
Rabu, 18 Desember 2013 — Pukul 18:30 WIB
Malam itu, di Kamar Nomor 3 ruang rawat inap pasien tanpa nama di RSUD Kota Sungai Penuh, pemuda yang tengah terbaring di atas ranjang besi itu kembali terbangun dan membuka mata. Dari hasil pemeriksaan dokter sebelumnya pasca-kepulangan Bunga siang tadi, dokter memang sempat menjelaskan perkembangan pasien bahwa kondisi fisiknya kini kian hari mulai membaik. Hal itu diperkuat oleh fakta bahwa sebelumnya ia memang sempat terbangun dan menunjukkan respons positif.
Bibi Bunga—istri Paman Jon—berdiri tepat di samping tubuh lemah Satya yang sudah membuka mata tersebut. Dari tatapan pemuda itu, ia seperti sedang mencari sesuatu dari pandangannya yang terasa hilang, di dalam pikirannya yang masih terasa kosong.
Tidak jauh dari sana, Paman Jon perlahan berjalan menuju ke arahnya. Sebelumnya, ia sudah diinstruksikan oleh istrinya dengan lambaian tangan agar tidak menimbulkan suara sedikit pun, guna melihat pemuda tersebut yang kini telah terbangun.
Melihat kondisi pemuda itu yang benar-benar sudah membuka mata, Bibi Bunga langsung teringat pesan tim medis siang tadi. Sesuai instruksi dari dokter sebelumnya, jika pasien tanpa nama ini terbangun lagi, pihak keluarga harus segera menghubungi perawat jaga agar bisa langsung diteruskan kepada dokter untuk dilakukan pemeriksaan saraf lanjutan.
Tanpa membuang waktu, Bibi Bunga segera bergegas keluar kamar menuju meja piket perawat. Benar saja, selang beberapa menit kemudian, pintu kamar rawat kembali terbuka. Seorang dokter pria melangkah masuk dengan bergegas, diikuti oleh perawat yang membawa papan catatan medis di belakangnya. Kedatangan mereka malam itu murni karena laporan darurat mengenai kesadaran pasien yang mulai kembali.
"Selamat malam, Pak, Bu," sapa dokter dengan suara rendah yang ramah namun sigap. "Perawat melapor kalau pasien sudah kembali membuka mata, ya?"
"Selamat malam, Dok," jawab Paman Jon setengah berbisik sambil melangkah mundur selangkah, memberi ruang bagi dokter untuk mendekati ranjang besi tersebut. "Iya, Dok. Baru saja dia terbangun lagi. Tapi tatapannya masih seperti ini, kosong dan seperti orang bingung."