Kamar tiga kali tiga meter itu mendadak kehilangan gravitasi. Kasur dengan seprai bergambar roket itu terbang ke atas, hampir menabrak lampu yang berkedip, seperti memberi isyarat bahwa tengah terjadi kondisi darurat. Kotak mainan dan tumpukan komik melayang tidak beraturan di udara seperti asteroid yang menghantam segala sisi dinding.
Asap hitam pekat berputar di tengah ruangan, berkilat-kilat seperti awan hujan mini. Bau gosong mirip sampah terbakar bercampur wangi karbol lavender memenuhi kamar. BOOM! Dentuman rendah membuat seluruh dinding bergetar, lalu semua benda jatuh berdebam ke lantai. Tidak ada retak yang muncul baik di dinding maupun di lantai.
Sada refleks maju, merentangkan tangan. Kakinya gemetar, pelipisnya basah keringat. Yana mencengkeram kemeja suaminya itu sampai kusut, sambil merangkul Azka yang melongo menatap bayangan yang muncul dari balik asap yang berhembus keluar kamar.
Pelan-pelan, bayangan itu terlihat semakin jelas wujud aslinya. Pria muda dengan kemeja putih slim-fit, celana hitam rapi, dan sepatu pantofel kusam. Bola matanya merah menyala.
Pria itu melangkah maju mendekati keluarga kecil yang tengah dilanda ketakutan. Sada memajukan telapak tangannya, kuda-kuda untuk menahan atau mendorong musuh jika diserang. Namun, pria itu malah menjabat tangan Sada.
“Makasih banyak, Pak!” ucapnya tulus.
Sada bengong. Yana mengintip dari belakang Sada dengan tatapan bingung. Azka mengintip dari sela kaki ayahnya dengan mata berbinar.
“Saya udah lama nganggur, Pak. Selalu gagal di wawancara. Akhirnya ada yang manggil saya!” seru pria itu dengan semangat.
“Tapi tenang, Pak! Saya bisa kerja apa saja, kok! Pesugihan? Santet? Pelet? Tinggal sebut!” ucapnya lagi dengan percaya diri.
Sada melepas jabatannya, bingung. “Hah? Kamu ini siapa? Dan mau apa ke sini?”
“Oh, maaf, saya lupa perkenalan. Saya suka nervous kalau wawancara,” ucap pria itu lalu merapikan kerah kemejanya.
“Perkenalkan. Nama saya Azazul. Saya adalah... setan, iblis, jin, bebas Bapak mau panggil saya apa. Intinya saya ke sini mau… melamar kerja.”
***
Beberapa jam sebelumnya...
Bel istirahat meraung di SD Nusantara. Anak-anak tumpah ruah keluar dari kelas, berlari ke kantin sekolah. Uang jajan mereka berubah jadi cilok, siomay, telur gulung, atau es cekek. Jajanan yang tidak bergizi, tidak gratis, tapi enak dan (semoga) tidak beracun.
Di bawah pohon beringin dekat lapangan basket, anak-anak kelas satu duduk dengan jajanan mereka. Cilok kebanyakan aci, telur gulung masih berminyak, atau siomay dengan kecap saja yang tetap dimakan dengan bangga. Persatuan dalam keberagaman yang sudah lama tidak terlihat sejak sekolah diinvasi oleh “ompreng” dari pusat.
“Aku kemarin mabar sama kakakku, sampai rank mythic!” teriak Aldo sambil mengunyah cilok yang lebih kenyal dari pipinya.
“Kalau aku, diajarin kakakku main sepeda, sampai bisa jumping!” sahut Rian, mulut penuh minyak dari telur gulung.
“Kalau aku diajak nonton di bioskop sama dijajanin popcorn sama kakakku!” tambah Yoga, mulutnya belepotan oleh kecap dari siomay.
Azka duduk di pinggir, meminum es cekek. Rasa es teh gula batu yang dia sedot jadi terasa pahit mendengar cerita teman-temannya.
“Kalau kamu gimana, Ka?” tanya Rian, menoleh ke Azka.
Semua mata tertuju ke Azka. Azka berhenti menyedot es. Mulutnya baru mau terbuka, tapi Aldo sudah lebih dulu nyeletuk, “Eh, Yan, Azka kan nggak punya kakak, gimana sih?”
Yoga ikut menimpali, “Nggak ada yang jajanin dong?”
Azka diam. Mulutnya kembali menjepit sedotan.
Rian menyahuti, “Pantesan dia belum bisa naik sepeda, nggak punya kakak sih.”
Azka mencekik plastik esnya lebih keras.
***
Leher Sada terasa sesak seperti dicekik. Banyak hal yang ingin dia sampaikan, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Akhirnya, suara yang keluar hanya, “Maaf, Pak.”
“Kamu ini terlalu baik!” ucap Hendrik, menatap tajam.
“Maaf, Pak...” Sada merunduk.
“Kalau semua klaim kamu loloskan, kita bukan perusahaan asuransi lagi, tapi lembaga amal!”
Sada mengangkat kepala sedikit. “Nggak semua kok, Pak. Ada yang saya tolak.”
Hendrik mendengus, melotot. Sada kembali merunduk.
“Saya tahu kamu mau bantu mereka. Tapi kalau semua klaim lolos, perusahaan ini tamat. Pilih yang benar-benar sesuai syarat,” kata Hendrik.
Sada diam.
“Contoh itu si Fajar. Dia itu loloskan klaim jumlahnya nggak sampai setengah dari kamu.”
Sada terdiam.
"Kamu tahu kan kondisi perusahaan kita ini lagi nggak baik-baik aja?"
Sada mengangguk.
"Saya tuh coba menahan-nahan biar tidak ada lay-off pegawai."
Sada terdiam.
“Tapi kalau kamu begini terus, mungkin saya… terpaksa harus melepas kamu.”
Sada panik. “Jangan, Pak! Cicilan KPR saya masih sepuluh tahun. Anak saya baru masuk sekolah. Saya butuh kerjaan ini.”
Hendrik bersandar, menyeringai. “Kalau begitu, coba tegas. Kalau perlu, jadi jahat sekalian. Sampai nasabah itu bilang... kamu setan!”
Sada terdiam. Tangannya meremas meja, keringat menetes di pelipis.
***
“Jangan diam saja!” keluh Yana pada mesin fotokopi kantor yang macet.
Yana menekan tombol reset dan utak-atik tombol lain, lalu memukulnya beberapa kali, baru mesin fotokopi itu mau bergerak.
“Sabar, Yan, sudah tua mesinnya. Dia paling sepuh di kantor ini. Harus diperlakukan baik-baik, biar nggak rewel,” celetuk Retno yang melihat kegelisahan Yana.
“Kenapa nggak beli mesin fotokopi baru sih, Bu?”
“Efisiensi.”
“Tapi kok buat yang lain, yang nggak penting, ada budget-nya?”
“Sssst! Jangan terlalu kritis, Yan. Takut yang di atas dengar.”
“Tuhan?”
“Pejabat.”
Yana menghela napas, kesal. Dia kembali mengurus dokumen yang dia fotokopi.
“Kalau yang di atas nggak suka sama kamu, nanti kontrak kamu bisa nggak diperpanjang."
Yana mendengus.
"Atau kontrak diperpanjang, tapi kamu dimutasi. Mau kamu jauh dari suami dan anak?”
Yana tersentak, “Oh iya, saya harus jemput anak saya!”
Begitu kertas fotokopi terakhir keluar, Yana langsung menyambar tas dan kunci motor dari atas meja kerjanya. “Saya duluan, Bu,” pamit Yana pada Retno.
“Hati-hati!” seru Retno.
Yana berlari dan tersandung, hampir terjatuh. Retno menggeleng-geleng melihatnya. Yana keluar dari gedung kantor Catatan Sipil, berpapasan dengan Desi dan tiga pegawai lain.
“Bu Yana, pecel ayam yuk?” ajak Desi.
“Lain kali, Bu. Jemput anak dulu,” jawab Yana sambil lari.
“Kenapa nggak izin dari tadi aja?”
“Masih jam kerja, Bu. Nggak enak.”
“Kamu jangan rajin-rajin, nanti kita jadi kelihatan malas.”
Tiga ibu lain mengangguk setuju. Yana tertawa kaku, lalu berlari menuju parkiran.
***
Halaman depan gerbang sekolah tampak sepi. Azka berdiri di dekat pos satpam, berjalan mondar-mandir sambil menendang kerikil.
“Itu, Mama kamu sudah datang!” seru Satpam yang menemani Azka.
“Makasih, Pak,” ucap Yana pada Satpam, sesaat setelah memberhentikan motornya.
Satpam balas tersenyum, “Sama-sama, Bu.”
Yana memakaikan helm pada Azka. “Maaf ya Mama telat.”
“Nggak apa-apa, Ma. Aldo juga tadi telat dijemput. Aku jadi ada teman ngobrol.”
“Oh ya?”