Azka menyeringai menatap Azazul seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Azazul bergidik, agak takut pada bocah itu.
“Azka, kamu dengar nggak? Dia itu setan! Masa kamu mau punya saudara setan?” Yana mengguncang tubuh Azka.
“Tapi dia kelihatan baik. Iya kan, Pa?” Azka menoleh ke Sada.
Sada menatap Azazul dari ujung kaki sampai rambut. Kulit pucat, sepatu kikis, kemeja lusuh, rambut klimis. Bukan setan film horor, lebih mirip pemuda habis dihajar kenyataan setelah lulus kuliah.
“Kamu… beneran setan?” tanya Sada.
“Pa, tadi dia muncul dari asap hitam! Nggak mungkin manusia,” Yana menegaskan.
“Iya, Ma, tapi kok penampilannya kayak manusia? Nggak ada tanduk, ekor, atau sayap.”
Yana mulai ragu. “Jangan-jangan dia cuma penipu pakai trik sulap.”
“Saya beneran setan, sumpah!” Azazul mengangkat dua jari.
“Masa setan mau melamar kerja?” Yana menatap curiga.
“Lah, kalian manusia hidup di dunia sebentar aja butuh kerja. Apalagi kami yang abadi!”
Sada dan Yana terdiam. Saling pandang. Bingung karena perkataan Azazul terdengar absurd sekaligus masuk akal.
Azka maju. “Jadi Kak Setan mau kan jadi kakak aku?”
Azazul membungkuk sejajar dengan Azka. “Dek, kontrak gaib itu harus jelas akadnya. Misalnya, minta uang satu M, dapat jabatan CEO, atau bisa nikah sama artis sinetron. Itu semua gampang diukur. Jelas kapan kontraknya terpenuhi.”
Azka mengernyit. “Maksudnya?”
“Kalau minta saya jadi kakak kamu, cara ngukurnya gimana? Jadi kakak itu gimana? Kakak yang seperti apa? Terus mau sampai kapan saya jadi kakak kamu? Kan nggak jelas kapan permintaannya sudah terpenuhi.”
Sada cepat-cepat menimpali, “Bagus, berarti anak saya nggak jadi minta permintaan. Kamu bisa pulang.”
“Ya nggak bisa begitu. Kan si adik bisa tinggal minta yang lain.”
“Minta apa?” tanya Azka, bingung.
“Ya, apa aja, terserah kamu. Misalnya, permen satu truk? Es krim satu kulkas? Konsol gim terbaru?” ucap Azazul, menawarkan.
Azka tergoda, tapi Yana cepat menolak. “Nggak usah! Itu semua pasti ada bayarannya, kan?”
“Betul! Saya minta jiwa anak ibu, sesuai sama besarnya permintaan dia.”
“Saya nggak mau kamu ambil jiwa anak saya!”
“Nggak semua kok, Bu.”
“Nggak!”
“Bisa pakai jiwa orang lain juga, Bu. Apa sih namanya? Ah, Tumbal!”
“Saya nggak mau jadi tumbal!”
“Ya nggak harus Ibu, si Bapak juga boleh.”
Sada tersentak, kaget. “Saya juga nggak mau jadi tumbal!”
“Ya sudah, tinggal cari orang lain.”
“Mana ada orang yang mau jadi tumbal!”
“Ya nggak perlu mau, namanya juga tumbal. Kalian diam-diam memilih dia, tapi harus orang terdekat.”
“Tetangga?”
“Keluarga!”
“Orang tua? Saya nggak mau jadi anak durhaka!”
“Saudara juga bisa.”
Sada dan Yana terdiam.
“Ada saudara Bapak atau Ibu yang mau ditumbalin?”
Sada dan Yana masih terdiam.
“Saudara yang nyusahin mungkin? Daripada jadi beban, mending ditumbalin.”
Sada dan Yana saling pandang.
“Jadi, siapa nama saudara yang mau ditumbalin?”
Sada dan Yana sama-sama menggeleng. “Nggak!”
“Ayo lah, Pak, Bu! Sayang anak, sayang anak,” bujuk Azazul seperti pedagang mainan.
“Justru karena kami sayang anak, nggak akan kami kasih anak kami melakukan kontrak gaib sama setan!” teriak Sada.
“Pergi kamu atau saya telepon polisi!” ancam Yana.
Azazul terdiam, tidak takut.
“Saya telepon Pak Ustaz!” ancam Yana lagi.
“Jangan bawa-bawa Pak Ustaz dong, Bu. Ini murni urusan bisnis. Saya nggak mau menipu Ibu. Saya ini setan pekerja yang legal,” jelas Azazul, takut.
“Hah? Memang ada yang ilegal?” tanya Sada, penasaran.
“Justru lebih banyak yang ilegal, Pak. Namanya juga setan.”
Sada mengernyitkan dahi, merasa dirinya bodoh karena tidak menyadari itu.
“Terserah kamu mau legal atau nggak, saya nggak peduli. Cepat keluar!” teriak Yana.
Azazul menarik napas cepat. Matanya melotot. Tangannya mengepal. Dia berjalan mendekati Yana. Yana gemetar, takut. Dia menarik Sada. Sada juga gemetar.
Azazul mengangkat kedua tangannya. Sada berlindung, menutupi wajahnya dengan menyilangkan kedua tangannya, bersiap menahan serangan Azazul. Namun, Azazul malah bersimpuh, setengah bersujud. Tangannya menepuk lantai.
“Tolong bantu saya...” ucap Azazul, terisak.
Sada mengintip dari balik tangannya. Melihat Azazul menangis, dia menurunkan tangannya.
“Saya sudah lama nganggur. Di keluarga besar saya, cuma saya yang masih nganggur. Bahkan keponakan saya yang paling kecil saja sudah bekerja.”
Sada dan Yana saling pandang, heran.
“Saudara saya sukses semua. Ada yang bantu bikin judi online, jadi timses politikus korup, bandar buzzer, sampai buka kelas sukses jadi konten kreator bodong. Saya? Ikut tes kerja di dapur sama koperasi yang nggak butuh ijazah aja nggak lolos.”
“Kasihan, Ma,” Sada berbisik.
“Jangan gampang percaya, Pa. Dia itu setan. Bisa aja bohong. Kayak cerita-cerita di medsos,” ucap Yana, skeptis.
“Kalau kamu susah cari kerja, apa buktinya?” tanya Sada pada Azazul.
Azazul merogoh kantong, mengeluarkan kartu identitas holografik merah. “Ini kartu anggota agensi outsourcing saya.”
“Hah? Setan ikut outsourcing?” Sada kaget.
“Itu dia, Pak! Saya sudah putus asa, sampai rela ikut outsourcing.”
“Dia pasti ngarang, Pa!” tuduh Yana.
“Sumpah, Bu. Lihat ini buktinya,” kata Azazul sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
“Apa?” tanya Yana, tidak mengerti.
“Kekuatan asli saya dipotong buat komisi agensi. Wujud saya jadi kayak manusia begini.”
“Jadi aslinya kamu nggak gini?” tanya Sada, penasaran.
“Ya nggak. Ini biar gampang saja, saya muncul di alam ini.”
“Aslinya gimana?”
“Adalah pokoknya. Susah dijelasin, Bapak nggak akan kebayang.”
Sada menghela napas, kecewa.
“Kak Setan bisa sihir?” tanya Azka tiba-tiba.
“Bisa, tapi harus pakai kontrak gaib. Makanya, Adek, minta sesuatu ya. Nanti, kakak kabulin pakai sihir.”
Yana langsung menarik Azka. “Jangan coba jebak anak saya! Sana pergi!”
Azazul terdiam.
“Ya udah deh. Kalau Ibu beneran mau saya pergi, saya akan pergi. Permisi.”
Azazul mengambil buku Kontrak Gaib dan berjalan menuju pintu. Sada dan Yana kaget melihat Azazul tiba-tiba menyerah begitu saja, tapi akhirnya mereka memberikan jalan. Namun, saat sampai di depan pintu kamar, Azazul menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
“Oh iya, saya lupa ngasih tahu. Karena anak Ibu sudah membatalkan permintaannya, berarti nanti dia akan kena kutukan ya. Bye!,” ucap Azazul. Dia lalu membalikan badan dan melanjutkan melangkah pergi.
Sada dan Yana kaget dan segera mengejar Azazul ke ruang tengah dan menghadangnya.
“Sebentar! Kutukan apa?” tanya Sada.
“Ya kutukan,” kata Azazul santai, sambil menggerakkan jari telunjuk di depan leher, lalu menggelengkan kepala.
“Bohong!” Yana menuduh.