Hari pertama “kerja” bagi Azazul dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Di dalam kepala sang setan, suara ketus Yana yang membacakan lembar peraturan Standard Operating Procedure (SOP) semalam terus terngiang-ngiang bagai lagu yang diputar loop.
“Pasal Satu: Menyapu dan mengepel seluruh sudut ruangan hingga steril tanpa memicu suara gaduh sedikit pun.”
WUUUSHH! Sapu ijuk di tangan Azazul bergerak cepat dan sunyi. Setelah menyapu semua sudut rumah, dia mengganti sapu ijuk dengan kain pel, lalu menyeka seluruh permukaan lantai dengan posisi punggung tegak lurus kaku. Napasnya terengah-engah, kerlip merah di sepasang matanya berkedip lelah.
“Pasal Dua: Mencuci semua piring dan peralatan masak yang kotor dan menyusunnya ke rak piring tanpa ada yang pecah.”
Azazul memeras kain lapnya di dapur dengan tangan gemetar, menatap tumpukan piring kotor yang menanti di wastafel. Mengabaikan seluruh harga diri setannya, dia membungkuk kaku di depan keran air dan mulai menggosok tumpukan alat masak yang kotor itu.
“Pasal Tiga: Buang sampah ke tempat sampah di depan.”
Azazul keluar dari rumah membawa kantong plastik sampah raksasa. Di luar, langit masih gelap pekat. Dia melempar kantong sampah ke dalam tong di depan pagar rumah, mengagetkan seekor kucing kompleks yang tengah tertidur di atasnya hingga mengeong horor.
“Apa? Belum pernah lihat setan?” tanya Azazul ketus pada sang kucing. Lalu dia melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
“Pasal Empat: Mencuci pakaian dan menjemurnya di halaman belakang.”
Beberapa saat kemudian, Azazul, yang hanya mengenakan celana pendek, duduk kaku di depan mesin cuci bukaan depan yang sedang berputar kencang. Dari lubang kaca pintu mesin cuci, terlihat kemeja putih slim-fit dan celana hitam necis andalannya sedang digulung oleh ombak sabun.
Tak lama, Azazul kembali terengah-engah menjemur pakaian di halaman belakang di bawah remang fajar. Dia bergumam jengkel, “Ternyata benar kata setan... manusia itu jauh lebih kejam. Nyuruh kerja rodi begini setiap hari, tanpa digaji pula. Parah!”
Begitu selesai menjemur pakaian, Azazul melangkah masuk kembali ke dalam rumah melalui pintu dapur.
“Aaaah!” teriak Yana yang baru saja keluar dari kamarnya. Wanita itu tersentak kaget karena mendadak berpapasan dengan Azazul yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek di tengah lorong.
“Baju kamu mana?!” tanya Yana, panik sembari membuang wajahnya dan menutupi matanya dengan telapak tangan, sama sekali tidak sudi melihat Azazul.
“Lagi dicuci, Bu.”
“Kenapa dicuci?”
“Tadi pas nyuci piring, kena cipratan air.”
“Kamu nggak punya baju lain?”
“Nggak ada, Bu. Kan saya ke sini cuma bawa diri aja.”
“Sebentar!” perintah Yana, yang langsung berbalik cepat ke dalam kamarnya. Tidak sampai dua menit, dia keluar kembali dengan membawa setelan kaos warna hitam dan celana jeans biru muda.
“Pakai!” seru Yana.
“Nggak ada yang lain?” tanya Azazul.
“Kenapa?”
“Saya nggak suka modelnya.”
“Udah dikasih, malah ngelunjak. Memang setan kamu ya!”
“Ya memang saya setan.”
Yana menggeram, kesal. “Pakai!”
“I-iya, Bu, saya pakai. Terima kasih,” jawab Azazul sambil buru-buru memakai kaos dan celana itu.
***
Di meja makan, Sada yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya duduk terpaku. Dia menatap aneh pada Azazul yang duduk kaku di seberangnya. Tampak Azazul kini mengenakan kaos hitam bergambar tengkorak, logo dari kaos band metal kesukaan Sada, dan celana jeans biru yang agak longgar.
“Kayak kenal...” gumam Sada.
“Pasti kenal, Pak. Kan ini baju, Bapak,” jawab Azazul, santai.
“Hah? Kok bisa kamu pakai?”
“Dikasih sama si Ibu.”
“Kok dikasihin ke dia sih, Ma?” protes Sada ke Yana yang sedang memakaikan Azka seragam sekolah.
“Ya, dia nggak punya baju lagi.”
“Tapi itu kan kaos favorit Papa dulu,” protes Sada, tidak rela.
“Sudahlah, Pa. Lagian kaos itu sudah nggak cukup lagi buat Papa,” jawab Yana santai.
Sada hanya bisa melahap roti bakarnya dengan kunyahan yang sedikit kesal.
“Ini rumah semua yang bersihin Kak Setan?” tanya Azka yang sejak tadi memperhatikan sekeliling ruangan yang tampak jauh lebih berkilau dan wangi karbol daripada biasanya.
“Jelas!” jawab Azazul.
“Keren, Kak Setan!” puji Azka.
“Azka, jangan panggil Kak Setan deh,” sahut Yana.
“Kenapa? Kan dia lebih tua. Nggak sopan kalau aku panggilnya nggak pakai Kak.”
“Bukan kak-nya, tapi setannya.”
“Kenapa? Kan kak setan memang setan.”
“Iya, tapi kan nggak enak nanti kalau ada orang lain yang dengar.”
“Iya, kamu jangan cerita ke orang lain kalau dia ini setan. Nanti jadi heboh. Ini rahasia kita saja,” timpal Sada.
“Terus aku panggilnya apa?” tanya Azka.
Yana terdiam sejenak, lalu menengok ke Azazul. “Eh, Setan! Nama kamu siapa? Saya lupa.”
“Azazul, Bu.” jawab Azazul.
“Jadi aku panggilnya Kak Azazul?” tanya Azka.
“Iya,” jawab Yana.
“Nggak enak, Ma. Kepanjangan,” protes Azka.
“Panggil Kak Aza aja!” sahut Sada, memberikan saran.
“Hah? Kak Ajaja?” tanya Azka, bingung.
“Oh iya juga, jadi bisa begitu ya,” Sada baru sadar.
“Panggil saja Kak Azul atau Kak Zul,” jawab Azazul, memberikan solusi.
Sada dan Yana mengangguk, setuju.
“Oke!” kata Azka setuju.
“Kak Azul! Kak Azul!” panggil Azka.
“Apa?”
“Nama kita mirip ya, depannya sama-sama huruf A-Z, jadi kayak adik kakak beneran,” kata Azka seraya tertawa kecil penuh kepolosan.
"Ih amit-amit, kamu punya saudara setan!" sahut Yana, tidak suka.
Sada yang sedang meminum kopinya perlahan menaruh gelas, menatap menyelidik. “Tapi, Zul, kamu tahu cara bersih-bersih rumah sedetail ini dari mana?”
“Saya di rumah juga sering bantu bersih-bersih, Pak."
"Oh iya?"
"Ya… namanya juga pengangguran.”
“Ma, hari ini aku jadi diantar sama Kak Azul, kan?” tanya Azka, memotong pembicaraan, menyandang tas ransel robotnya yang berat.
Azazul menatap Yana. Yana menyeringai tipis penuh kemenangan taktis.
***
Motor Yana melaju agak berat menanggung tiga penumpang. Yana memegang stang, Azka berdiri di undakan depan, sementara Azazul duduk menyelip pasrah di ujung jok paling belakang. Kedua tangan tegap sang setan mencengkeram erat besi behel belakang motor.
Mereka melewati gerbang kompleks.
“Pagi, Bu Yana,” sapa Security.
“Pagi, Pak!” jawab Yana.
Begitu motor Yana sudah tidak terlihat lagi, Security bergumam, “Tumben, Bu Yana bonceng tiga sama Pak Sada?”
Security duduk, meminum kopi. “Ngopi dulu, biar nggak ngantuk.”
Sada melintas dengan mengendarai motornya.
“Pagi, Pak Sada!” sapa Security.
“Pagi, Pak!” jawab Sada, mengangguk.
Begitu motor Sada sudah tidak terlihat dari pandangan, Security baru sadar. “Lah, itu Pak Sada, terus yang tadi dibonceng sama Bu Yana, siapa?”
Security garuk-garuk kepala, bingung. “Apa tadi gua salah lihat ya?”
Dia memandang gelas kopi di tangannya. “Kayaknya kurang nih kopinya, masih ngantuk.”
***
Di depan gerbang SD Nusantara, motor Yana berhenti. Azka turun dan pamitan pada Yana dan Azazul. Yana memberikan uang jajan kepada Azka sebelum dia berjalan masuk ke sekolah.
“Kamu sudah hafal, kan, tadi jalannya?” tanya Yana.
“Ya hafal, Bu. Jalannya cuma lurus, terus belok sekali,” jawab Azazul.
“Ya sudah, turun!”
Azazul turun dari motor. “Terus saya sekarang ngapain?”
“Ya terserah kamu, tapi nanti jam dua belas, kamu harus ke sini lagi. Jemput Azka.”
“Nanti Ibu ke sini juga?”
“Buat apa?”