Saudara Setan

Reyan Bewinda
Chapter #4

Bab 4

Di jalanan kompleks perumahan, Azka mengayuh sepeda kecilnya dengan penuh semangat. Azazul berjalan di samping, tubuh tegap seperti pelatih militer.

“Pelan amat?” tanya Azazul, tidak puas.

“Aku takut,” kata Azka.

“Kalau takut, nggak akan bisa.”

“Kalau jatuh gimana?”

“Ya memang harus jatuh dulu, biar belajar.”

“Kalau luka?”

“Luka itu tanda dewasa!”

Azka berhasil melaju lurus beberapa meter. “Kak, aku sudah bisa!”

“Ya kalau di sini doang sih gampang.”

“Terus kita mau latihan di mana?”

“Keluar kompleks!” teriak Azazul, menyeringai.

Mereka pun keluar kompleks. Azka bersepeda sementara Azazul berlari di belakangnya, ngos-ngosan.

“Jangan cepat-cepat!” teriak Azazul.

“Tadi katanya jangan pelan-pelan?”

“Tadi kan saya cuma diam lihatin, sekarang mesti ngejar, capek.”

“Ya sudah, aku duluan!” seru Azka, mengayuh sepedanya kencang.

Azazul mendengus, “Dasar manusia!”

Di perempatan, Azka hendak berbelok masuk gang. Namun, tiba-tiba BRUK! Sepeda kecil itu menabrak Pak RT yang baru saja keluar dari gang dengan sarung berkibar.

"Aduh, gimana sih?" kata Pak RT, mencoba bangkit dari posisi terduduk.

"Maaf, Pak," kata Azka, bangkit berdiri.

“Kalau mau belok, harusnya nyalain klakson dulu!”

“Sepeda aku nggak ada klaksonnya, Pak.”

“Ya udah, nyalain bel!”

“Bel juga nggak ada.”

“Ya teriak lah, bisa kan?”

“Bisa.”

“Kenapa tadi nggak teriak?”

“Lupa.”

Pak RT menghela napas panjang, lalu tersenyum maklum. “Ya sudah, hati-hati lain kali, Dek. Besok, dipasang bel di sepedanya ya! Biar orang tahu kalau ada kamu.”

Azka mengangguk. Pak RT berjalan kaki pergi. Jalannya agak pincang. Setelah Pak RT menjauh. Azazul baru tiba, ngos-ngosan. "Kamu nggak apa-apa? Saya lihat kamu nabrak Pak RT tadi."

"Nggak apa-apa. Cuma dimarahin aja."

"Dimarahin gimana?"

“Disuruh pasang bel di sepeda Azka, biar orang tahu kalau ada Azka.”

Azka mau menaiki sepedanya kembali, tapi meringis, kesakitan. Azazul melihat ke lutut Azka. "Itu lutut kamu berdarah!"

Azka melihat lututnya. Mau menangis.

"Jangan nangis!" seru Azazul sambil membersihkan luka Azka. Azka mencoba menahan tangisnya.

"Udah ini sih nanti tinggal dikasih plester aja, pasti sembuh."

"Nanti ada bekasnya nggak?"

"Ya kalau ada bekasnya juga nggak masalah. Biar kamu selalu ingat sama kesalahan kamu. Jadi kamu nggak mengulanginya lagi. Paham?"

Azka mengangguk. "Kok Kak Azul pintar nyemangatin? Katanya setan sukanya ngejatuhin?"

Azazul menghela napas, "Soalnya kakak kelamaan nganggur, kerjaannya nontonin video di medsos aja. Sampai nontonin video-video malaikat juga."

"Setan main medsos juga?"

"Lah justru di medsos lebih banyak setan daripada manusia."

Azka mengangguk, sok paham.

***

"Sebenarnya kamu ini mengerti nggak sih?" tanya Hendrik.

Suasana kantor siang itu tegang. Hendrik berdiri di depan meja Sada, wajahnya merah padam sambil menepuk map klaim ke meja.

“Kamu tahu nggak, kita baru dapat komplain dari nasabah loyal. Klaimnya ditolak mentah-mentah, padahal udah memenuhi syarat. Dan hitungannya juga kita nggak rugi karena dia itu nasabah emas kita!”

“Tapi, Pak… saya kan mengikuti saran Bapak. Jangan jadi baik. Jadi saya tolak semua.”

 “Astaga, Sad! Maksud saya, jangan terlalu baik ke semua orang. Bukan berarti semua ditolak juga!”

Sada menunduk, malu.

“Kamu harus bisa milih mana nasabah yang beneran baik, mana yang cuma akal-akalan. Kalau semua ditolak, nama baik perusahaan kita bisa hancur.”

Hendrik menghela napas. "Kamu tahu apa yang lagi ramai diomongin di kantor kita?"

Sada menggeleng.

"Ada fraud klaim palsu. Dan saya curiga ada keterlibatan orang dalam. Tapi lihat kamu, jangan-jangan insting saya salah. Bukan ada yang diam-diam korupsi di sini, tapi cuma kerjanya nggak becus aja kayak kamu."

“Maaf, Pak. Saya akan lebih teliti lagi ke depannya.”

Hendrik menunjuk Sada. “Ini peringatan terakhir. Kalau sampai salah lagi, kamu akan saya pulangkan!”

***

“Papa pulang!” seru Azka gembira saat lampu motor Sada terlihat dari kejauhan.

Namun, begitu Sada masuk ke rumah, suasana hangat di meja makan mendadak lenyap. Sup ayam buatan Yana yang biasanya jadi favorit terasa hambar. Sada duduk lemas, kepalanya ditopang di atas meja kayu.

Yana melirik cemas, menyenggol lengannya. “Papa, kenapa? Kok lesu banget? Ada masalah di kantor?”

Sada menghela napas panjang. “Papa dimarahi Pak Hendrik. Katanya Papa salah besar waktu nolak klaim nasabah loyal. Padahal Papa cuma mengikuti saran dia. Sekarang Papa jadi bingung gimana caranya biar bisa sesuai keinginan dia.”

Yana terdiam. Wajahnya ikut murung. Azka menatap ayahnya dengan bingung, lalu kembali menunduk ke mangkuk sup.

Di sofa ruang tengah, Azazul yang mendengar ikut meringkuk, kaos tengkorak Sada melar di badannya. “Sama, Pak Sada… saya juga gagal dapat klien. Seminggu ini nihil. Kayaknya saya juga bakal dipecat dari agensi setan.”

Sada menoleh, tersenyum pahit. “Kita sama-sama kalah, Zul.” Azazul mengacak rambutnya frustrasi. “Kayaknya saya harus pindah prospek. Gerbang sekolah anak-anak kurang pekat aura putus asanya.”

Sada mencoba bercanda hambar. “Kalau cuma cari orang putus asa, di kantor saya banyak. Semua karyawan lagi waswas kena PHK.”

Azazul mendadak menegakkan tubuh tegap. Matanya berkilat antusias. Ia berlutut formal di samping kursi Sada. “Pak! Kalau begitu, saya ikut ke kantor Bapak besok pagi!”

Sada terbelalak. “Hah?! Kamu mau ikut ke kantor saya?!”

Azka langsung memotong dengan wajah cemberut. “Terus aku nanti yang jemput siapa, Pa?” Azazul menatap Yana dengan mata memelas. “Bu?”

Yana menghela napas panjang, lalu tersenyum lembut ke Azka. “Ya sudah, besok Mama yang menjemput kamu di sekolah.”

Sada makin panik. “Sebentar! Kok Mama malah mendukung setan ini ikut Papa?” Yana menatap suaminya dengan nada logis. “Biar cepat selesai urusan kita sama dia, Pa. Kalau dia dapat klien di kantor Papa, kan beres. Lagian Mama juga kangen jemput Azka.”

Azazul bersorak. Semangatnya kembali membara. “Oke! Besok jadi ya, Pak! Pasti bakal seru!”

Lihat selengkapnya