Saudara Setan

Reyan Bewinda
Chapter #5

Bab 5

Keheningan yang menyelimuti meja makan malam itu terasa berkali-kali lipat lebih pekat daripada malam-malam biasanya. Aroma sup hangat yang mengepul di tengah meja sama sekali tidak mampu mencairkan ketegangan yang membeku di antara empat kepala yang duduk melingkar. Semua orang tenggelam dalam pusaran pikiran masing-masing.

Sada duduk mematung memegang sendok, pandangannya kosong menatap piring nasi. Kalimat dingin Azazul di atas motor tadi sore tentang Fajar membuatnya mengingat kembali semuanya dari sisi yang berbeda, menyusun ulang kepingan teka-teki fraud asuransi kantornya. Di seberang Sada, Azazul duduk meratapi nasibnya yang masih saja gagal mendapatkan klien baru, bahkan di tempat yang dipenuhi manusia bernafsu jahat sekalipun.

Sementara itu, Yana duduk dengan rahang mengeras ekstrem, mengunyah makanannya dengan emosi yang tertahan di ubun-ubun. Luka mental akibat cacian ibu-ibu di depan gerbang sekolah tadi siang masih terasa menyakitkan di dadanya. Di sampingnya, Azka menyuap nasinya dengan lesu, sesekali meringis pelan saat luka memar di sudut bibirnya akibat perkelahian tadi siang tidak sengaja tersenggol sendok.

“Pa...” panggil Yana memecah kesunyian, suaranya terdengar berat dan tajam. “Tadi siang Azka berkelahi di sekolah.”

Sada tidak merespons. Fokus matanya masih tertinggal pada bayangan wajah licik Mas Fajar yang mengunyah tahu isi di lobi kantor.

“Pa!” bentak Yana. Urat di lehernya mendadak menegang. Air mata kemarahan yang sejak siang dia pendam kini mulai menggenang di pelupuk matanya.

Sada tersentak, tersadar dari lamunannya. Dia kaget melihat Yana menatapnya dengan marah. “Iya, kenapa, Ma?”

“Mama bilang, tadi Azka berkelahi di sekolah! Memang Papa nggak sadar itu bibir Azka luka?!”

Sada kaget dan segera memperhatikan bibir Azka yang masih terlihat memar kebiruan. Azka langsung menunduk, tidak ingin wajahnya dilihat. Sada bertanya dengan cemas, “Kok bisa?”

"Gara-gara Azul," jawab Yana ketus.

Azazul kaget bukan main mendengar namanya disebut. Sada ikut terkejut dan menatap Azazul dengan tajam. “Kamu ngajarin Azka berantem?”

“Nggak, Pak!” jawab Azazul jujur dengan wajah panik.

“Kak Azul nggak salah, Pa! Mereka yang salah udah ngatain Kak Azul duluan!” seru Azka lantang, mata bulatnya kembali berkaca-kaca menahan jengkel.

Sada dan Azazul seketika terdiam.

“Azka nggak suka mereka bilang Kak Azul itu kakak palsu,” ungkap Azka pelan, menyeka air matanya.

Meja makan itu kembali hening. Yana menatap Sada, memberikan kode mata agar Sada segera bicara pada Azka. Sada menghela napas panjang. “Azka, Papa senang kamu membela orang yang kamu sayang, tapi berkelahi itu tetap salah. Dan apa yang mereka bilang soal Azul...”

“Itu benar, Dek. Saya ini bukan kakak kamu yang asli,” sahut Azazul memotong lempeng.

Azka tersentak, menatap sang setan tidak percaya. “Tapi… aku sudah menganggap Kak Azul itu saudara aku!”

Meja makan itu kembali hening untuk kesekian kalinya. Sada menatap Yana, memberikan kode lewat angkatan bahu bahwa dia bingung harus berkata apa lagi untuk menenangkan ego anak usia tujuh tahunnya. Yana mengembuskan napas pasrah.

“Zul, bagaimana tugas kamu? Sudah dapat klien barunya?" tanya Yana, mengalihkan topik.

Azazul membungkuk kaku, “Maaf, Bu... Saya belum berhasil mendapat klien baru.”

“Terus bagaimana rencana kamu sekarang?” tanya Yana ketus.

“Saya kan sudah ke kantor Bapak, saya boleh ikut ke kantor Ibu?”

“Hah? Mau ngapain?”

“Ya cari klien, Bu.”

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Kantor saya banyak orang!”

“Lah bagus.”

“Iya, Ma, kan di tempat yang mesti menunggu lama dan berurusan sama birokrasi pemerintah kita yang rumit, pasti banyak orang yang putus asa,” kata Sada.

“Kok Papa jadi dukung dia?”

“Ya kan biar tugas dia cepat selesai.”

“Tapi kalau Kak Azul ikut ke kantor Mama, berarti besok siang Kak Azul tetap bisa menjemput Azka di sekolah, kan, Ma?” potong Azka cepat, sepasang matanya kembali berbinar penuh harapan.

“Kantor Mama kan dekat dengan sekolah Azka. Daripada Kak Azul harus ikut Papa ke kantornya lagi, jauh, mending Kak Azul ke kantor Mama aja!” seru Azka.

Yana mengembuskan napas panjang, menatap daster kerjanya yang lelah. “Ya sudah… besok pagi kamu ikut saya ke kantor. Tapi ingat ya, di sana kamu harus duduk diam di kursi tunggu tamu, jangan bikin heboh!”

***

Pagi hari di halaman parkir Kantor Catatan Sipil mendadak diguncang oleh kehebohan. Desi, Retno, dan dua orang pegawai administrasi senior lainnya yang sedang asyik mengunyah bubur ayam di dekat pagar kantor seketika tersedak bersamaan. Rahang mereka ternganga lebar saat melihat Yana turun dari motornya, diikuti oleh sesosok pemuda tinggi tegap bersetelan kemeja putih necis dan celana bahan hitam rapi.

“Astaga, Des! Lihat tuh!” bisik Retno histeris, menepuk-nepuk lengan Desi dengan panik. “Ternyata analisis kita kemarin salah besar, Des! Jangan-jangan bukan suaminya si Yana yang selingkuh, tapi si Yana sendiri!”

“Ih, nggak menyangka ya, Bu. Diam-diam si Yana selingkuh sama berondong ganteng!” timpal Desi dengan mata melebar penuh gairah gosip.

“Jangan-jangan selama ini alasan si Yana selalu buru-buru izin pamit mau menjemput anak sekolah itu cuma kedok, Bu? Padahal aslinya buat ketemuan sama selingkuhannya ini!”

“Waduh, berani banget ya si Yana!"

Mereka berdua langsung histeris sendiri di tempatnya, menatap punggung Yana dengan pandangan takjub bercampur ngeri.

Yana sama sekali tidak menyadari bahwa reputasi moralnya baru saja hancur di lobi parkir, langsung menggiring Azazul menuju ruang administrasi utama yang masih sepi. Yana mendudukkan Azazul di deretan kursi besi tunggu untuk tamu dekat dispenser.

“Zul, kamu duduk diam di sini, jangan berkeliaran. Kamu boleh tanya ke warga yang datang, tapi jangan ke pegawai!” bisik Yana serius.

“Kenapa, Bu?”

“Saya kan bakal ketemu mereka terus.”

“Terus kenapa?”

“Ya, kalau kamu melakukan kontrak sama pegawai di sini, pasti efeknya ke kantor juga dan ke saya.”

“Oke, saya nggak akan nawarin kontrak ke pegawai.”

Begitu Yana berjalan pergi menuju meja kubikel kerjanya dan mulai menyalakan komputer, ruang tunggu tamu mendadak terasa bergeser atmosfernya. Desi dan Retno yang didorong oleh rasa penasaran yang teramat sangat, perlahan-lahan mulai berjalan jinjit mendekati kursi tempat Azazul duduk. Mereka memasang senyum ramah paling genit, bersiap menginterogasi sang berondong mistis.

***

Sada sedang duduk kaku di balik layar monitornya, memeriksa kembali dokumen yang sudah dikerjakan oleh Fajar. Mata Sada mendadak menangkap kejanggalan yang sangat halus. Ada beberapa baris angka klaim kematian yang sengaja diubah nominalnya dan beberapa nama nasabah fiktif yang jejaknya sengaja dihapus dari sistem. Dada Sada berdegup kencang. Amarahnya bergejolak.

TAK!

Lihat selengkapnya