Cangkir kopi yang disuguhkan Yana diletakkan di atas meja kaca dengan hentakan yang sengaja dikeras-keraskan. Namun, Tara sama sekali tidak peka. Pria paruh baya bertubuh agak tambun itu justru dengan santai menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu, melonggarkan kemeja batik sutra mahalnya, lalu mengembuskan helaan napas panjang yang dibuat-buat seolah dia adalah manusia paling merana di muka bumi.
“Aset properti Akang disita bank semua, Da. Mobil, motor, bahkan rumah Akang juga semuanya amblas dalam semalam gara-gara ruko Akang terbakar,” curhat Tara dengan nada suara yang tetap terdengar sombong, seolah-olah kemiskinannya saat ini masih berada di kasta yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumah KPR minimalis milik adiknya.
“Akang terpaksa harus menurunkan standar hidup Akang demi menumpang di rumah kamu yang… ya, minimalis begini. Sementara saja, Da, sampai bisnis Akang yang baru bisa bangkit lagi. Istri Akang juga malah minta cerai dan membawa anak-anak ke rumah mertua Akang. Keterlaluan memang. Keluarga itu kan harusnya ada di saat susah begini, bukannya malah pergi!”
Sada terdiam di kursinya. Dadanya terasa sesak, bukan karena bersimpati pada kemalangan kakaknya, melainkan karena sebuah luka lama yang amat busuk di dalam benaknya mendadak terkoyak kembali.
Ibu Sada dan Tara sudah lama meninggal saat Sada masih duduk di bangku kuliah. Sementara ayah mereka sakit-sakitan sejak ditinggal sang istri. Usai lulus kuliah, Sada malah banyak menghabiskan waktunya sendirian untuk merawat sang ayah karena Tara saat itu sudah menikah dan mempunyai urusan keluarganya sendiri.
Tanpa terasa, waktu telah lama berlalu dan pengorbanan itu menjadi gap year yang panjang di dalam CV Sada, membuatnya bertahun-tahun sulit lolos tes masuk kerja akibat dicap tidak produktif. Itulah kenapa dia merasakan empati yang sangat mendalam saat pertama kali mendengar keluhan nasib Azazul di kamar Azka seminggu lalu.
“Eh, Da… itu siapa?” tanya Tara mendadak, memicingkan matanya menatap sesosok pria yang sejak tadi berdiri kaku di sudut dekat dispenser air.
Sada tersentak dari lamunannya. Jantungnya berdegup kencang melihat Azazul yang sedang memegangi kain lap. “Ah… itu, Kang… dia Azul. Saudara sepupu Yana dari desa. Dia tinggal di sini sementara waktu untuk mencari kerja.”
Tara yang selama ini terlalu sombong untuk memedulikan silsilah keluarga Yana sejak hari pernikahan Sada dulu, langsung mengangguk percaya tanpa curiga sedikit pun. Dia menatap Azazul dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
“Oh, pantas saja mukanya pucat begitu. Khas muka-muka orang daerah yang lagi susah,” komentar Tara merendahkan. “Sini, Zul, ambilkan tas koper kulit saya di teras, bawa masuk.”
Azazul tidak menjawab. Kerlip merah di manik matanya sempat menyala setajam silet selama satu detik penuh, mengenali aroma kedengkian dan bau busuk dosa dari tubuh pria tambun itu.
“Tolong ya, Zul,” pinta Sada sungkan.
Azazul mengangguk patuh, lalu berjalan dengan langkah tegap mematuhi perintah itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
“Langsung saja dibawa ke kamar saya,” perintah Tara santai dari atas sofa.
Azazul kebingungan, menatap Sada. Sada ikut bingung, beralih menatap Yana, sementara Yana hanya bisa mengembuskan napas panjang menahan jengkel.
“Maaf, Kang, di rumah minimalis ini cuma ada dua kamar tidur. Kamar saya sama Sada, dan satunya lagi kamar Azka,” kata Yana dengan senyum yang dipaksakan kaku.
“Terus ini si Zul biasanya tidur di mana?”
“Di situ!” jawab Azazul datar sembari menunjuk sofa yang tengah Tara duduki.
“Terus saya tidur di lantai ruang tamu juga?” tanya Tara dengan nada tersinggung.
“Eh… sebentar, Kang,” kata Sada, buru-buru masuk ke dalam kamarnya demi meredam ketegangan. Tak lama kemudian dia keluar dengan membawa segulung kasur lantai dari busa tipis. Dia menggelar kasur itu di atas lantai ubin ruang tamu.
“Akang ini punya penyakit pinggang kronis, Da! Mana bisa tidur di lantai pakai kasur busa tipis sempit begini? Bisa encok Akang besok pagi!" protes Tara keras dengan wajah cemberut.
“Ya, maaf, Kang, adanya cuma ini,” jawab Sada pasrah.
“Lagian kamu beli rumah kenapa yang kecil begini sih? Kamarnya kedikitan,” gerutu Tara.
Yana menggeram pelan, tangannya mengepal kuat, menahan kesal akibat keangkuhan kakak iparnya.
“Ya sudah, Akang tidur di kamar Azka saja malam ini!” putus Tara sepihak sembari bangkit berdiri membawa kopernya.
“Haaaah? Terus Azka tidur di mana, Pa?” tanya Azka protes, memasang wajah cemberut.
“Kamu kan masih kecil. Badan kamu pendek. Pasti muat kalau kita tidur berdua di kasur!” sahut Tara acuh tak acuh sembari melangkah menaiki tangga lantai dua.
***
Malam kian larut dan Azka terbaring kaku di pinggiran kasur spring bed-nya. Tubuh kecilnya terdorong paksa ke sudut dinding oleh tubuh Tara yang gemuk, yang tidur telentang dengan merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar-lebar tanpa memedulikan keponakannya.
Azka yang merasa ruang pribadinya dijajah secara semena-mena langsung merengut kesal. Aroma parfum menyengat bercampur dengan bau keringat milik Tara yang memenuhi kamar, membuatnya sangat risih. Ditambah lagi, suara dengkuran Tara yang menggelegar keras semakin membuat Azka tidak bisa memejamkan mata.
Menolak untuk tidur di satu kasur dengan pamannya yang menyebalkan, Azka akhirnya merenggut bantal dan gulingnya dengan jengkel. Dia berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah dengan wajah cemberut.