Malam itu, ruang tamu yang sempit berubah menjadi ruang seminar bisnis yang sangat absurd. Adit duduk bersila di lantai, baru saja selesai menjelaskan bahwa dirinya bangkrut akibat mencoba membuka usaha kedai kopi kekinian yang berujung gulung tikar dalam waktu tiga bulan.
“Ya, jadi Ibu menyuruh aku coba melamar kerja kantoran saja di sini,” tutup Adit lesu.
Di atas sofa, Tara menurunkan kacamata bacanya, lalu mendengus remeh sembari menatap Adit dengan pandangan menggurui. “Makanya, kalau mau buka bisnis, otaknya harus dipakai. Kamu itu gagal karena salah perhitungan dari awal. Tren pasar tidak dibaca, manajemen arus kas berantakan, dan terlalu banyak membakar duit buat promosi tidak jelas. Waktu Akang mau buka bisnis dulu, Akang udah tahu kalau fondasi analisis risiko itu nomor satu.”
“Tapi… bukankah bisnis properti sewaan Mang Tara juga sekarang gagal total dan seluruh asetnya disita oleh bank?” celetuk Azazul datar.
Tara seketika membeku di atas sofa. Wajah tambunnya memerah padam menahan malu akibat disindir telak oleh seorang “saudara kampung” yang sejak awal dia remehkan. Dia terbatuk canggung, lalu berkelit dengan nada bising. “Heh, Zul! Jaga ya omongan kamu! Akang ini nggak gagal! Akang ini cuma sedang berada di dalam proses transisi untuk bangkit jadi lebih besar! Orang sukses itu jatuhnya ke atas, bukan ke bawah!”
Tara langsung mengalihkan pandangannya dengan galak ke arah Sada yang baru saja duduk di meja makan setelah berganti pakaian. “Lagian, Da... Akang mau menagih janji kamu. Bagaimana dokumen klaim asuransi ruko Akang yang terbakar itu? Sudah kamu urus ke kantor kamu?”
Sada menghela napas panjang, memijat dahinya yang mulai pening. “Maaf, Kang… saya sudah memeriksa semua berkasnya semalam. Saya tetap tidak menemukan cara yang legal untuk meloloskan klaim Akang. Nominal kerugian yang Akang tulis itu digembungkan terlalu besar dan bukti fisiknya manipulatif. Kalau saya paksakan masuk ke sistem, saya bisa dipecat, atau lebih buruk lagi, dituntut ganti rugi sama perusahaan.”
Tara seketika menggebrak meja kaca dengan kesal, membuat cangkir kopi di atasnya berdenting keras. “Aduh, Da! Kok kamu jadi kaku dan berbelit-belit begini sih?! Dulu, pas Ayah kita meninggal, Akang bisa mencairkan klaim asuransi jiwanya dengan sangat mudah dan cepat tanpa ribet! Padahal waktu itu agen asuransinya orang lain, bukan saudara sendiri!”
Tara menunjuk dada Sada dengan pandangan menghakimi yang keji. “Ini kenapa giliran adik kandung sendiri yang kerja di dalam kantor asuransinya, urusannya malah dibikin susah setengah mati?! Apa kamu sebenarnya memang tidak ingin melihat Akang bangkit lagi, Da?! Kamu mau melihat Akang menderita?!”
Sada tersentak, wajahnya pucat pasi mendengar tuduhan kejam itu. “B-bukan begitu niat saya, Kang... Saya cuma mencoba realistis dengan aturan kantor…” jawab Sada dengan suara lirih yang menciut.
Tara mendengus kencang, berdiri dari sofa dengan jengkel. “Ah, sudahlah! Pusing, Akang bicara sama orang yang nggak tahu balas budi!” ketus Tara sebelum melangkah egois menaiki tangga menuju lantai dua untuk menjajah kembali kamar tidur empuk milik Azka.
Adit yang sejak tadi menonton perdebatan itu dari lantai mendongak menatap Sada dengan wajah tanpa dosa. “Mas Sada… terus Adit malam ini tidur di mana, Mas?”
Sada hanya bisa menunjuk kasur lantai dari busa tipis yang tergelar di dekat dapur dengan lambaian tangan yang lemas.
***
Malam kian larut dan ruang tamu kini diselimuti kegelapan. Di atas kasur busa tipis yang sempit di lantai, Adit berbaring telentang di samping Azazul. Kerasnya ubin membuat Adit tidak bisa memejamkan mata. Didorong rasa bosan, Adit menengok ke samping, menatap wajah kaku Azazul yang sedang memandangi langit-langit plafon dalam remang malam.
“Zul… lu beneran saudara sepupunya Mas Sada dari kampung?” tanya Adit, membuka obrolan normal malam hari.
“Kenapa?” Azazul balik bertanya.
“Lu di sini lagi nyari kerja juga, kan? Emang lu lulusan mana, Zul? Jurusan apa dulu pas kuliah?”
Azazul menengok kaku, menatap Adit dengan sepasang manik mata merahnya yang berkedip redup di kegelapan. “Kalau saya kasih tahu juga, kamu nggak akan tahu kampusnya.”
“Oh, kampus swasta abal-abal yang di ruko-ruko begitu ya? Paham sih, teman gua juga banyak yang kuliah di kampus begitu, emang susah banget cari kerjanya di kota besar.”
Azazul mengernyitkan dahinya, tetapi dia memilih diam dan tidak membantah.
“Eh, Zul, lu sudah memasukkan lamaran kerja ke mana saja?” tanya Adit lagi.
“Sekolahnya Azka, kantornya Pak Sada, kantornya Bu Yana, dan daerah sekitar kompleks.”
“Nggak ada yang nerima sama sekali?”
Azazul menggelengkan kepalanya pasrah.
Adit menghela napas panjang. “Sudah gua duga, pasti susah cari kerja di kota kalau andalin ijazah ruko. Mending gua besok cobain bikin konten video saja ah buat media sosial. Kalau di kota kan banyak spot yang bagus. Lu mau ikut nggak? Bantu gua jadi kameramennya.”
“Tapi saya harus menjemput Azka pulang sekolah jam dua belas siang.”
“Ya, habis itu baru kita nge-konten. Bisa, kan? Daripada lu melamar kerja juga percuma nggak dapat-dapat, buang energi. Lu pikirkan deh, Zul. Gue jamin seminggu kita udah bakal viral!"
***
Seminggu kemudian...
Adit belum juga viral. Keadaan rumah malah makin kacau. Azazul jadi harus membersihkan dua atau tiga kali dari biasanya karena gaya hidup Adit dan Tara yang jorok dan malas. Mereka sama sekali tidak mau membantu, malah Azka yang suka membantu Azazul membersihkan rumah. Dia menganggap itu sebagai bermain bersama kakaknya. Kesibukan Azazul di rumah membuatnya jadi semakin sedikit memiliki waktu buat mencari klien, bahkan Azazul mulai lupa pada tujuan utamanya itu. Begitu pula Sada, Yana, dan Azka. Semuanya terdistraksi karena kehadiran Tara dan Adit.