Saudara Setan

Reyan Bewinda
Chapter #8

Bab 8

Azazul tidak memedulikan keterkejutan Tara. Dia melangkah maju dengan takzim, menghempaskan sepatu pantofelnya hingga seluruh benda yang melayang jatuh berantakan di lantai. Mengikuti aturan baku agensinya, Azazul melemparkan lembaran gulungan kontrak perkamen kuno neraka yang berlumur darah ke atas meja kaca tepat di depan wajah Tara.

“Sesuai Undang-Undang Perjanjian Gaib yang sah, aku hadir memenuhi panggilan keserakahanmu, Tara Sadara!” geram Azazul dengan suara baritonalnya yang berat dan bergaung masif menggetarkan kaca jendela. Senyum seramnya melebar memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih. “Katakan, manusia yang putus asa… apa permintaanmu, dan siapa jiwa manusia yang mau kamu tumbalkan sebagai bayarannya?!”

“Zul, jadi kalau gua baca tulisan di buku loak si Azka ini, semua keinginan bisnis gua bisa langsung terkabul lewat jalur perjanjian gaib?” tanya Tara, suaranya dipenuhi nada menyelidik yang culas.

Azazul mengangguk formal sembilan puluh derajat, memasang wajah kaku, “Benar, Pak Tara. Berdasarkan standar operasional prosedur kami, kontrak tersebut sah di mata hukum alam gaib. Saya bertugas memvalidasi transaksi.”

“Oke! Gua mau minta pesugihan instan biar ruko bisnis properti gua yang terbakar kemarin bisa langsung cair miliaran rupiah tanpa perlu lewat pemeriksaan kantor si Sada yang kaku itu!” seru Tara serakah. “Terus, bayarannya apa, Zul?”

Azazul melangkah maju satu langkah. Sepasang manik mata merahnya menyala redup. “Sesuai Undang-Undang Perjanjian Gaib, saya membutuhkan satu nama jiwa manusia sedarah dari pihak pemanggil untuk dijadikan jaminan agensi. Jadi… siapa nama manusia yang mau Anda tumbalkan?”

Tanpa ada keraguan atau rasa bersalah sedikit pun di dalam hatinya, telunjuk tambun Kang Tara bergerak gemetar, menunjuk lurus ke arah pintu depan rumah, tempat di mana adik kandungnya, Sada, biasanya berjalan pulang kerja.

“Ambil saja jiwa adik kandung saya, si Sada!” pekik Tara beringas.

Azazul seketika membeku kaku di tempatnya berdiri. Manik mata merah darah sang iblis melotot horor, menatap tidak percaya ke arah kebiadaban murni dari mulut manusia sedarah di hadapannya. Dia belum pernah menyaksikan ada seorang kakak kandung yang dengan begitu dingin dan ringannya menggadaikan nyawa adik kandungnya sendiri demi uang.

“Bapak serius?” tanya Azazul, suaranya menurunkan intonasi menjadi sangat berat dan dingin.

Tara mendengus kencang, berkacak pinggang. “Loh, kenapa kamu nanya begitu? Kamu mau menolak permintaan saya?! Emang setan bisa menolak perintah klien?!”

Azazul menatap lembaran kontrak perkamen kuno neraka di tangan manusianya, lalu menggelengkan kepala kaku. “Saya tidak memiliki kuasa eksekutif untuk menolak transaksi yang sah secara mandiri, Pak Tara. Berdasarkan SOP agensi kami, jika kompensasi bayaran jiwanya setimpal dan dilegalkan oleh tanda tangan darah, maka kesepakatan harus ditutup.”

Di balik pilar anak tangga lantai dua, sepasang mata bulat kecil mendadak terbelalak horor. Azka, yang sejak tadi terbangun akibat kegaduhan suara pamannya, meremas erat bilah kayu pegangan tangga dengan air mata yang mengalir deras di pipi. Bocah tujuh tahun itu gemetar hebat, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana paman kandungnya sedang bertransaksi menjual jiwa ayahnya.

***

Sada sedang duduk lunglai di balik meja kubikelnya, membereskan barang-barangnya. Kepalanya terasa mau pecah, dadanya sesak menahan pusing pasca-jebakan licik Fajar yang memutarbalikkan fakta di depan Pak Hendrik tadi pagi. Sada merasa berada di titik nadir keputusasaan karier terdalam, memegangi kepalanya dengan pasrah.

TOK! TOK!

Sebuah ketukan di sekat kubikel mengejutkan Sada. Dimas, seorang rekan kerja senior dari Divisi Klaim dan Manajemen Risiko, mendadak muncul dengan wajah tegang sembari membawa sebuah map cokelat besar.

“Da, sebelum lu cabut, gua mau ngasih tahu sesuatu soal berkas dokumen ruko komersial yang kemarin lu tanyain ke gua,” kata Dimas pelan, ikut duduk di kursi kosong samping Sada.

Sada menegapkan punggungnya, lemas. “Oh… berkas klaim rukonya kakak saya ya, Mas? Gimana? Ada celah buat dicairkan secara legal?”

Dimas menggelengkan kepalanya dengan tegas, membolak-balikkan halaman dokumen riwayat sistem dengan pandangan serius. “Nggak bisa, Da. Jangankan dicairkan, berkas klaim properti kakak lu itu sudah masuk ke dalam daftar hitam permanen di seluruh jaringan industri asuransi nasional. Kakak lu itu punya rekam jejak klaim yang sangat mencurigakan dan terindikasi kriminal kerah putih sejak sepuluh tahun lalu.”

Sada mengernyitkan dahi kebingungan, membetulkan letak kacamatanya. “Mencurigakan gimana maksudnya, Mas? Seingat saya, Kang Tara dulu cuma pengusaha properti biasa sebelum ditipu investasi bodong kemarin.”

Dimas menarik napas dalam-dalam, menatap Sada dengan pandangan penuh keprihatinan. “Da, gua sudah membongkar arsip lama pembukuan asuransi atas nama mendiang Ayah lu sepuluh tahun lalu. Di dalam sistem data kami, tertera fakta bahwa Ayah lu sebenarnya memiliki jaminan polis Asuransi Kesehatan Aktif yang sangat besar untuk meng-cover seluruh biaya perawatan ICU dan operasi darurat di rumah sakit saat beliau kritis.”

Sada seketika membeku kaku di kursinya. Jantungnya berdegup kencang secara tidak alami. “Hah? Nggak mungkin, Mas... Dulu saat Ayah sekarat, Kang Tara bilang ke saya kalau Ayah nggak punya asuransi kesehatan sama sekali, makanya tindakan medis di rumah sakit tertunda berhari-hari karena kami nggak punya uang tunai buat bayar deposit darurat…”

“Itulah letak kebiadaban kakak lu, Sada," potong Dimas dengan nada suara berbisik yang tajam. “Arsip log kantor menunjukkan bahwa sepuluh tahun lalu, kakak lu selaku anak sulung pemegang dokumen dengan sengaja menolak dan menyembunyikan klaim asuransi kesehatan Ayah lu agar rumah sakit tidak melakukan operasi darurat. Dia membiarkan Ayah lu meninggal karena penundaan biaya, murni agar dia bisa mencairkan Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa senilai miliaran rupiah atas nama dirinya sebagai ahli waris tunggal!”

DEG!

Seluruh aliran darah di wajah Sada seketika surut total, menyisakan pucat pasi yang mengerikan bagai mayat hidup. Kacamata minusnya hampir terlepas dari pelipisnya. Kamar kubikel keuangan yang bising mendadak terasa sunyi senyap di telinga Sada. Air mata kemarahan dan luka sedalam lautan jahanam meledak menghantam dadanya tanpa ampun.

Sada baru menyadari sebuah kebenaran yang teramat sangat menyakitkan. Ayahnya tidak meninggal dunia karena takdir kemiskinan mereka, melainkan sengaja “dibunuh secara administratif” oleh kakak kandungnya sendiri demi modal usaha. Selama sepuluh tahun ini, dia hidup dalam rasa bersalah yang salah, mengaudit kematian orang lain setiap hari demi menebus dosa yang ternyata dilakukan oleh daging darahnya sendiri. Sada mencengkeram erat pinggiran meja. Napasnya memburu, bising dengan kemarahan seorang anak yang hancur.

Lihat selengkapnya