Aroma antiseptik yang dingin dan steril menyelimuti koridor selasar ruang tunggu Instalasi Gawat Darurat (IGD). Ketegangan di antara empat orang dewasa yang duduk di kursi besi putih itu terasa begitu mencekam. Semua orang membisu, menatap nanar ke arah daun pintu hijau yang tertutup rapat, tempat tim medis sedang berjuang menjahit luka di dahi Azka.
KLIK.
Daun pintu terbuka. Seorang dokter paruh baya melangkah keluar sembari melepas sarung tangan karetnya. Sada dan Yana spontan melompat bangkit dari kursi dengan wajah pucat.
“Dokter! Bagaimana kondisi anak saya?!” jerit Yana histeris, mencengkeram lengan jas dokter.
Dokter itu mengulas senyum tipis yang menenangkan. “Ibu, tenang saja, untungnya benturan rak kayu itu tidak memicu gegar otak parah. Luka robek di dahinya sudah selesai kami jahit dengan aman. Kondisinya stabil, hanya saja...” Dokter itu menjeda kalimatnya, menoleh ke arah lembar catatan medis. “Anak Ibu saat ini sedang mengalami trauma psikologis yang cukup syok. Dia terus-menerus menangis dan menolak untuk bertemu dengan keluarganya dulu. Dia baru mau dijenguk oleh kakaknya. Azul.”
Sada, Yana, bahkan Tara dan Adit seketika tersentak kaget mendengar penuturan tersebut. Yana perlahan menengok ke sudut koridor, menatap Azazul yang berdiri kaku dalam balutan kaos tengkorak hitamnya yang lusuh. Yana dan Sada buru-buru menghampiri sang setan.
“Zul… saya mohon, Zul… tolong masuk ke dalam. Temani Azka. Cuma kamu yang dia mau saat ini,” bisik Yana dengan suara yang bergetar hebat, dibanjiri air mata.
Sada ikut menepuk pundak Azazul dengan takzim. “Tolong ya, Zul.”
Azazul tidak menjawab secara lisan. Sepasang manik mata merahnya yang meredup tipis akibat sisa energi manusianya yang tinggal sedikit berkedip pelan. Ia mengangguk kaku, lalu memutar kenop pintu hijau dan melangkah masuk ke dalam ruang perawatan yang sunyi.
Di atas ranjang putih, Azka sedang berbaring miring dengan perban putih yang melingkari dahinya. Begitu melihat sosok Azazul masuk, tangis bocah tujuh tahun itu kembali pecah. Dia langsung memeluk erat pinggang Azazul, menyembunyikan wajahnya di balik kaos tengkorak sang setan.
“Kak Azul... Azka takut…," isak Azka sesenggukan. “Azka nggak mau punya saudara lagi, Kak. Azka benci konsep saudara kalau ujung-ujungnya harus bikin Papa sama Mang Tara berantem pukul-pukulan menyeramkan kayak setan tadi di rumah! Azka mau jadi anak tunggal aja selamanya!”
Azazul duduk kaku di pinggiran ranjang, mengulurkan tangan tegap manusianya untuk mengelus rambut berantakan Azka dengan kelembutan yang sangat manusiawi.
“Dengar, Dek Azka... Hubungan manusia sedarah memang rumit dan penuh ego,” ucap Azazul dengan menenangkan.
“Kadang, kelakuan mereka bisa jauh lebih mengerikan dari setan. Tapi ya mereka tetap saudara."
"Memang kita nggak bisa putus hubungan saudara?
"Bisa aja sih, banyak kok yang begitu. Biasanya karena masalah harta."
"Kalau gitu Azka mau putus hubungan aja sama Mang Tara!"
"Ya nggak apa-apa."
"Kak Azul nggak marah?"
"Lah, Kak Azul justru mendukung perpecahan antara saudara."
"Kok gitu?"
"Kan kak Azul setan!" kata Azazul, tertawa.
Azka jadi tertawa.
***
Sementara itu, di luar koridor yang dingin, Sada sedang duduk menunduk sembari meremas jemarinya yang gemetar. Langkah kaki Tara perlahan mendekat, duduk di kursi besi sebelahnya dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Keangkuhan batik sutra mahal dan jam tangan emasnya telah sirna total, menyisakan rona kehancuran seorang kakak sulung.
“Sada... Akang minta maaf yang sebesar-besarnya,” isak Tara parau. Air mata penyesalan menetes membasahi celana bahannya. “Akang khilaf, Da. Akang sudah menjadi setan yang serakah. Akang murni bersalah atas semua keegoisan Akang dulu...”
Sada mengembuskan napas panjang yang amat lemas, menggelengkan kepalanya tanpa menengok. “Sudahlah, Kang. Saya sudah nggak memedulikan soal itu lagi. Hidup saya malam ini sudah hancur berantakan. Siang tadi, saya resmi dipecat karena dijebak sama Mas Fajar. Padahal saya sudah menganggap dia itu teman saya.”
Mendengar pengakuan hancur adiknya, Tara seketika tersentak hebat di tempat duduknya. Sepasang matanya melotot kaget. “Hah?! Fajar?!”
“Iya, kenapa, Kang?” tanya Sada heran, menengok kaku.