Satu tahun berlalu sejak bukti rekaman suara telepon yang diserahkan oleh Sada membuat Hendrik murka besar dan memecat serta menyeret Fajar ke jalur hukum. Masih ada perasaan aneh setiap kali Sada menatap papan nama di mejanya yang bertuliskan "Head of Risk Management". Namun, itu tidak lebih aneh daripada menerima telepon dari Tara.
Sesekali Tara meneleponnya untuk memberitahu progres tentang kelanjutan bisnis dan keluarganya. Tara kini tinggal di rumah mertuanya dan rujuk bersama istrinya. Dia memulai bisnis baru di sana dari awal. Tidak besar, tapi cukup untuk mereka hidup layak. Tara mengajak Sada untuk berkunjung jika libur. Namun, Sada tidak bisa mengiyakan karena kini Yana tengah hamil.
***
Suasana di meja makan sore itu terasa begitu hangat. Sada sedang asyik membolak-balik majalah otomotif, sementara Yana duduk bersandar di kursi sembari mengelus perutnya yang kini sudah mulai membuncit besar akibat kehamilan anak kedua.
“Jadi, Mama beneran nggak mau ambil opsi resign?" tanya Sada, tersenyum, melirik istrinya. “Gaji Papa sekarang sudah lebih dari cukup untuk meng-cover semua kebutuhan rumah dan katering mandiri, lho.”
Yana tertawa kecil, menggelengkan kepalanya dengan pandangan mata yang sangat damai. “Nggak usah, Pa. Mama ambil cuti melahirkan saja nanti. Sekarang lingkungan kerja Mama di kantor sudah enak banget. Ibu-ibu yang lain jadi kompak dan luar biasa baik sama Mama. Pekerjaan Mama sering dibantu backup kalau ada urusan mendesak. Lagipula, Azka sekarang sudah tumbuh jauh lebih ceria dan mandiri, jadi Mama nggak perlu waswas lagi.”
***
Bel sekolah berbunyi. Gerbang SD Nusantara terbuka. Azka keluar menaiki sepedanya bersama Aldo, Rian, dan Yoga. Di dahi Azka, masih tersemat bekas luka tipis samar sisa benturan rak kayu satu tahun lalu, yang justru membuatnya kelihatan seperti pahlawan tangguh.
“Nanti kalau adikku sudah lahir, aku bakal jadi kakak yang paling baik di kompleks ini!” seru Azka penuh kebanggaan dengan dada membusung. “Aku akan mengajak dia keliling naik sepeda!"
"Aku jadi pengen punya adik juga," kata Yoga.
"Iya, aku juga. Punya kakak nggak enak, suka nyuruh-nyuruh," tambah Rian menimpali.