Aku terhenyak di tengah lelap saat telungkup di atas kasur. Terdengar banyak langkah kaki dan suara yang ramai seolah ada pesta di rumah ini. Akhirnya aku memilih duduk dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Ternyata aku sudah tidur terlalu lama.
Untungnya masih ada air mineral yang tersisa dalam gelas di atas meja rias. Setelah menenggak sampai habis, aku mengikat rambut dengan asal dan segera keluar dari kamar untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar.
Ternyata ada Kak Meylani, anak pertama di keluarga ini. Dia sudah menikah dan kadang satu atau dua minggu sekali berkunjung ke rumah. Saat aku berjalan menuju ruang makan, mereka sedang berkumpul dengan gembira karena seperti biasa Kak Meylani membawa makanan yang banyak.
“Baru bangun kamu, Rin?” tanya Ibu yang membuatku sedikit tersentak karena perhatianku sedang tertuju pada sepotong cheesecake dengan selai blueberry di atasnya.
“Mentang-mentang hari libur jadi bisa seenaknya bangun siang,” timpal Ayah dengan nada sinis.
Kalimat tersebut membuatku hampir mengurungkan niat untuk bergabung dengan mereka, tapi aku sudah terlanjur sampai di sana. Kak Meylani hanya menatap tanpa arti kepadaku sebelum akhirnya kembali sibuk menata makanan bawaannya di atas meja makan.
“Jangan cuma bengong. Ambilin piring besar di lemari. Bantu Kakakmu buat nata makanannya,” ucap Ayah.
“Iya, Yah,” jawabku pelan dan kemudian berjalan ke lemari khusus peralatan makan dekat lorong menuju dapur.
Aku membawa tiga piring besar yang biasa dipakai untuk menyajikan kue jika ada tamu dan beberapa sendok menuju meja makan. Sebelum ayah kembali bersuara, aku sudah inisiatif ikut membantu Kak Meylani untuk menata setiap makanan ke atas piring dan wadah yang ada di sana. Berbagai macam pastry, jajanan pasar, dan makanan lain yang sepertinya dia beli dari mal.
Setelah semua selesai, aku juga yang membuang semua sampah terlebih dahulu agar tidak berantakan. Karena kalau aku tidak melakukan itu, bisa-bisa ibu akan marah. Setelah mencuci tangan, aku pun segera kembali bergabung ke meja makan.
Perhatianku masih tertuju pada sepotong cheesecake dengan selai blueberry. Namun, saat hendak meraihnya, ada tangan lain yang mengambil tanpa peduli tanganku yang sudah dekat. Tangan itu adalah milik adikku, Nur.
Aku hanya bisa sabar tanpa protes. Kue soes dengan topping potongann buah yang berbeda warna pun menjadi pilihanku. Ini juga enak, aku suka rasanya karena manis dan segar. Kulihat Nur juga menikmati cheesecake yang tadinya ingin kupilih.
“Suamimu nggak ikut ke sini, Mey?” tanya Ibu.
“Tadinya mau, tapi mendadak nggak bisa karena harus ketemu orang,” jawab Kak Meylani.
“Namanya juga orang sibuk, Bu. Nggak apa-apa, kan bisa kapan aja ke sini,” ucap Ayah dengan tawa di akhir.
“Kalau Mas Reza ke sini, Nur mau ikut jalan-jalan, ya,” ujar Nur di tengah obrolan.
“Iya, boleh. Itu juga kalau Mas Reza nya ngajak,” jawab Kak Meylani.
Jarang sekali ada momen makan siang bersama seperti ini. Apalagi setelah Kak Meylani menikah, dia sekarang tinggal di rumah suaminya. Aku juga jarang bertemu dengan Mas Reza, itu juga selalu jika beliau datang ke rumah ini.
“Karina, jangan lupa beresin piring kotornya ke dapur dan cuci. Biar kamu ada kerjaan di hari Minggu ini,” ujar Ibu setelah kita semua selesai makan siang.
“Iya, Bu.”