Bekal makan siang hari ini adalah ayam goreng bumbu kuning sisa kemarin dan tahu goreng. Nasinya juga sisa, jadi ada yang kering di bagian pinggirannya. Diam-diam aku membuang bagian yang kering itu saat ibu sedang menyiapkan bekal untuk Nur.
Berbeda dengan milikku, bekal punya Nur adalah nugget dan sosis yang ibu goreng dadakan. Nasinya juga masih panas dan pulen karena baru matang. Saat melihatnya, aku jadi ngiler karena jarang makan nugget karena stok di rumah hanya untuk adikku.
“Bu, nanti pulang sekolah, aku mau main sepeda sama Aca, ya,” ucap Nur.
“Iya, boleh. Asal makan dulu sebelum main,” jawab Ibu sambil memakaikan tas ransel ke punggung Nur.
Nur tampak kegirangan. “Asyik!”
Aku ikut tersenyum, adikku tampak menggemaskan jika sedang tersenyum. Kita terpaut usia tiga tahun, jadi aku tahu rasa senang diizinkan bermain setelah pulang sekolah. Dulu, aku juga suka bersepeda di sekitar daerah rumah.
“Rin, kamu nanti langsung pulang, ya,” ucap Ibu. “Bantuin Ibu beresin kamar belakang. Jaga-jaga kalau nanti Reza mau nginep di sini.”
“Iya, Bu.”
Setelah jadi anak SMA, aku jadi jarang bermain setelah pulang sekolah. Selain karena pulangnya sore, ayah juga menetapkan aturan. Tidak boleh bermain setelah pulang sekolah kecuali keluar untuk les atau keperluan yang lebih penting.
Ada rasa iri pada Nur karena dia dibolehkan bermain, meskipun dibatasi juga jamnya. Alasan merapikan kamar belakang untuk Mas Reza juga terdengar mengada-ada. Seolah ada saja alasan untuk mengurungku setelah pulang sekolah.
Kami diantar oleh ayah pakai mobil karena sekalian beliau berangkat kerja. Jarak sekolah Nur dan aku tidak terlalu jauh, bisa dibilang lumayan searah. Seperti biasa, adikku duduk di depan dan dia akan turun duluan.
Selama perjalanan menuju sekolah, aku dan ayah tidak memiliki obrolan. Hanya ada suara radio dengan volume pelan yang menemani. Sesampainya di depan gerbang, aku melihat ada murid laki-laki yang aku kenali. Dia Danang, anggota OSIS yang sedang berjaga.
“Itu si Danang nungguin kamu di gerbang? Liat ke sini terus,” ucap Ayah tiba-tiba.
Aku yang hendak membuka pintu mobil pun langsung terdiam. “Danang anggota OSIS, Yah. Setiap pagi emang suka jaga di gerbang. Siapa tahu ada murid yang terlambat atau melanggar aturan.”
“Aneh.” Ayah terdengar mendengkus, seperti akan marah. “Awas, ya. Nggak ada pacar-pacaran selama SMA. Kamu baru boleh pacaran kalau udah kuliah.”
“Iya, Yah,” jawabku, mencoba merendah. “Karina sekolah dulu. Ayah hati-hati di jalannya.”
“Ya.”
Setelah turun dari mobil, aku berjalan menunduk. Berusaha menghindari tatapan Danang karena mobil ayah belum benar-benar pergi dari depan gerbang sekolah. Aku tidak mau jadi masalah nantinya di rumah.
***
“Karina bekel makan apa tuh?”
Aku yang baru saja mengeluarkan kotak bekal dari tas langsung menoleh ke sumber suara. Benar saja, itu Santi. Dia langsung di kursi depan mejaku yang sedang kosong karena pemiliknya pergi setelah bel istirahat berbunyi.